Gunakan Usia Produktif Setelah Resign Untuk Membangun Usaha

Slamet Riyadi (Mantan Operator Salah Satu Anak Perusahaan Pertamina)

Isu global warming dan peduli lingkungan (hidup) yang digembar-gemborkan sejak beberapa tahun lalu, ternyata membawa berkah tersendiri bagi Slamet. Dia yang awalnya cuma memanfaatkan sampah untuk membuat dapur rumah tangganya tetap ngebul, ternyata berkembang menjadi komunitas usaha berlabel Lumintu yang diperhitungkan dalam dunia lingkungan hidup, baik di dalam maupun luar negeri

IMG_1208e-preneur.co. Swastanisasi atas suatu Badan Usaha Milik Negara acapkali mengubah peraturan yang sudah ada. Demikian pula, ketika anak-anak perusahaan Pertamina mengalami swastanisasi di mana per dua tahun terjadi pergantian manajemen. Imbasnya, mereka yang telah bekerja puluhan tahun sekali pun, akan selalu kembali ke nol lagi, yang berarti pula tidak ada istilah masa bhakti. Hal ini, tentu membuat gelisah para karyawan, termasuk Slamet Riyadi.

“Pada tahun 1996, dengan memberanikan diri, saya mengajukan permohonan pengunduran diri. Tapi, perusahaan masih mempertahankan, karena beranggapan tenaga saya termasuk yang masih dibutuhkan. Namun, karena terus mendesak, akhirnya perusahaan mengabulkan permohonan saya pada tahun 1998. Dan, karir selama 16 tahun itu pun berakhir dengan pesangon sebesar Rp 9 juta,” kisah Slamet, yang mengakhiri karirnya dengan jabatan operator.

Dari uang yang tersisa (Rp500 ribu), ia membaginya Rp300 ribu untuk istri dan Rp200 ribu untuknya yang lalu ia gunakan untuk modal usaha. “Saat itu, sebenarnya umur saya masih 40-an tahun, tapi saya sudah merasa lelah dengan kondisi cukup tidak cukup ya segitulah gaji yang saya terima. Karena itu, mumpung masih berada di usia produktif, saya niatkan untuk membangun usaha dan yakin Tuhan akan memberi jalan,” lanjut kelahiran Cirebon, 21 September 1951 ini.

Waktu itu, sedang berkembang isu daur ulang dan Slamet pun mempelajarinya. “Ternyata, yang dimaksud dengan daur ulang di sini yaitu mengolah barang-barang bekas menjadi sesuatu, dengan menggunakan suatu teknologi. Tapi, lantaran mempunyai dasar kesenian/keterampilan, saya mengolah berbagai macam sampah kemasan yakni sejenis plastik namun berlapiskan alumunium foil. Sebab, barangnya lentur atau mudah dibentuk dan warnanya bagus sehingga tidak perlu menambahi sentuhan warna lagi, tinggal bagaimana kita berkreativitas,” kata Slamet, yang waktu masih sekolah dijuluki pakarnya keterampilan oleh teman-temannya.

Lantas, ia memasarkan hasil karyanya ke sekolah-sekolah. Namun, keinginannya menunjukkan kepada para guru di sekolah-sekolah itu bahwa dari sampah bisa menjadi pendukung pendidikan hasta karya sekaligus sesuatu yang berharga/bernilai jual, ternyata hanya dipandang mereka sebagai sekadar sampah yang notabene tidak mempunyai nilai apa pun.

“Saya tidak putus asa. Pada akhirnya, saya menemukan pemasaran yang tepat yatu di pasar-pasar tradisional. Setiap hari, saya menjajakan secara berkeliling ke berbagai pasar sebanyak 100–200 batang kerajinan bunga, yang saya jual dengan harga Rp1.000,-/batang. Pulang ke rumah tinggal membawa 20 batang,” kisahnya.

Kondisi yang lumayan ini, membuat para tetangga melirik. Kemudian, mereka berdatangan dan minta bergabung dengan Pakde Slamet, begitu para tetangga menyapanya. Tapi, sebelumnya, mereka harus menerapkan metode yang ia buat yaitu jangan berpikir tentang masalah uang atau upahnya dulu, namun lebih pada ajaran agar bisa membuatnya.

“Mengingat, bahan baku kami ‘kan sampah. Kalau kami membuatnya asal jadi, siapa yang mau membeli. Jadi, kami harus membuatnya sebagus mungkin. Setelah buatan mereka terjual, baru kami berbicara tentang berapa uang yang akan mereka terima per tangkai,” jelasnya.

Dari mereka yang bergabung, ia menambahkan, salah satunya seorang nenek yang mengaku jika di masa mudanya merupakan pengayam tikar daun pandan. Sekadar informasi, dulu, tempat tinggal Slamet berada dalam kawasan yang banyak ditumbuhi pohon pandan. Namun, sekarang, kebun pohon pandan itu telah berubah menjadi rumah penduduk. Sehingga, ia dan teman-temannya menganggur. Padahal, dengan menganggur, badan mereka yang sudah renta justru malah terasa capek. Dan, ia meminta Slamet mencarikan pengganti daun pandan.

“Dari situ, saya mencoba mencarikan jalan keluar. Hasilnya, saya mengumpulkan tube-tube pasta gigi bekas yang lalu diiris tipis-tipis dan disambung-sambung. Kami juga merekrut 40 pemulung untuk mencari tube odol bekas. Ternyata, agak sulit, karena bukan sampah sembarangan dan terbatas. Satu pemulung belum tentu bisa mendapat 2 kg/minggu. Tapi, disabarin dulu, dianggap uji coba. Ternyata, hasil anyaman mereka jauh lebih bagus dan lebih mudah ketimbang menggunakan daun pandan,” ujar lulusan SMA Muhammadiyah, Cirebon, ini.

Selanjutnya, pada tahun 2000, ketika diselenggarakan Pekan Industri Tradisional Nusantara di Istora Senayan, Jakarta,secara iseng, Slamet berdagang di emperannya. Ia menjajakan tikar, sajadah, kembang-kembangan, dan lain-lain. “Pada hari ketiga,saya merasa Allah memberi jalan.Saya kedatangan tiga orang asing yang bertanya tentang barang-barang yang saya jual. Mereka tertarik dan membeli. Keeseokan harinya, mereka sudah menunggu kedatangan saya dan meminta saya tidak berjualan lagi, serta membeli semua barang dagangan saya hari itu. Yang bersangkutan memperkenalkan diri sebagai orang BPPT dan dua yang lain dari Kanada, yang sedang kerja sama tentang pengolahan limbah sejenis plastik,” tuturnya.

Orang BPPT itu memberinya kartu nama dan memintanya datang ke BPPT. Di sana, Slamet diberi nama-nama perusahaan yang berhubungan dengan limbah. Dengan “surat sakti” dari BPPT, ia diberi kemudahan untuk mendapatkan limbah dari sebuah perusahaan di Bekasi, meski hanya dua bulan. Karena, sebelum ia datang, limbah-limbah itu sudah dikuasai para pengepul.Sehingga, terjadi persaingan ketat antarmereka yang masuk ke pabrik secara tender.

Tahun 2002, orang BPPT tersebut mengenalkannya dengan staf ahli kementerian lingkungan hidup (KLH) dan ia diundang untuk mengikuti pameran lingkungan hidup internasional di Jakarta Convention Center. “Saat itu, beredar isu global warming. Dan, isu lingkungan hidup semakin naik. Dari situlah, berbagai lembaga pemerhati lingkungan mengetahui aktivitas kami di sini dan kami pun ketambahan pesanan, seperti tas seminar. Sehingga, barang yang kami buat bukan lagi hasta karya, tapi sudah lebih fungsional,” ujar Slamet, yang kemudian juga menjadi pembicara tentang lingkungan hidup.

Namun, tidak berarti kendala sudah tidak ada lagi. Dengan cuma mengandalkan kemampuan yang ada di mana apa yang dibuat merupakan handmade, jadi bila ada order, terutama dalam jumlah besar, mereka justru tidak senang. “Kami harus mengukur kemampuan kami. Daripada mengecewakan orang, lebih baik sedikit order tapi berkesinambungan,” ungkap Slamet, yang juga terkendala masalah permodalan.

Tahun 2004, karena sering hadir dalam acara-acara yang diselenggarakan KLH, Slamet diminta untuk memberi nama usahanya agar bisa dikenalkan. Dan, lahirlah nama Komunitas Lumintu (Lumayan Itung-itung Nunggu Tutup Usia). “Karena, para lansia yang saya rekrut untuk pertama kalinya, jadi merekalah para pionir usaha ini. Sementara, generasi kedua masuk ketika mereka harus menganggur sebagai dampak krismon. Sedangkan generasi ketiga masuk, karena nenek-nenek mereka sering masuk ke televisi. Dan, sekarang, total saya telah memiliki lebih dari 163 ‘karyawan’ yang tersebar di sini (Tangerang), Tangerang Selatan, Depok, Jakarta Timur, dan Bekasi,” katanya.

Dalam perkembangannya, Lumintu yang dalam sehari menghasilkan lebih dari 20 helai anyaman beralih ke produk tas wanita, dengan mencontoh tas-tas bermerek. “Kami menyediakan bahan bakunya (ayaman alumunium foil), sedangkan dalam pembentukannya kami serahkan ke pembuat tas eksklusif,” ungkapnya. Tas-tas daur ulang itu dapat dijumpai di beberapa mal besar, selain di workshop Lumintu. Bagi yang berminat membelinya, dapat memesan melalui e-mail meski Slamet lebih suka konsumen datang langsung ke workshop. Karena, ia tidak ingin hanya menjual produk, tapi juga ingin menunjukkan bagaimana kondisi workshop-nya dan bagaimana pola kerja mereka.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!