Menyeimbangkan Kegiatan Belajar dengan Bermain

Sekolah Global Indo Asia

Selama ini, orang tua selalu menuntut anak-anak mereka berprestasi atau menjadi juara di sekolah mereka, tanpa menyadari adakalanya hal ini menjadi “beban” tambahan bagi anak-anak tersebut. Atas dasar itu, Sekolah Global Indo Asia hanya akan menganugerahi para muridnya yang berprestasi dengan gelar The Best in untuk setiap matapelajaran

Sekolah Global Indo Asia tidak mendidik para muridnya untuk menjadi anak pintar, tapi kreatif. Sebab, pintar itu relatif

e-preneur.co. Memperoleh pendidikan yang layak merupakan hak setiap anak. Dan, setiap orangtua berusaha memenuhi tuntutan itu dengan berbagai cara.

Bagi orangtua berduit, hal itu bukan masalah. Mereka tinggal mengirimkan anak-anak mereka ke berbagai sekolah bergengsi, yang sebagian besar berlokasi di luar negeri. Tanpa perduli, kondisi ini membuat hubungan orangtua dengan anak tidak lagi harmonis.

sekolah global-1Padahal, Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia yang layak, lokasi yang memadai, dan orang-orang berduit yang menaruh perhatian penuh terhadap dunia pendidikan. Jadi, mengapa tidak membangun sendiri sekolah bergengsi?

Atas dasar inilah Anas, President Director PT Graha Seraya Pratama, bersama kedua koleganya membangun Sekolah Global Indo Asia (SGIA). Sekolah nasional plus yang berlokasi di Jalan Raya Batam Centre,Batam ini, menggunakan metode pengajaran IBO (International Baccalaureate Organization). Sekadar informasi, di dunia ini terdapat lebih dari 1.728 sekolah yang tersebar di lebih dari 122 negara yang menggunakan IBO yaitu metode belajar yang menyatupadukan kurikulum yang berlaku di Amerika Serikat dengan kurikulum yang berlaku di negara setempat, Indonesia misalnya.

“Kurikulum nasional kami ambil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, red.), tapi sebagian kami ganti dan kami padu padankan dengan kurikulum internasional. Misalnya, matematika kita yang sudah sangat tua itu kami padukan dengan matematika internasional dan kami ajarkan dalam Bahasa Inggris. Demikian pula, dengan pelajaran-pelajaran lain yang juga dapat disampaikan dalam Bahasa Inggris, tanpa mengurangi hakikatnya,” jelasnya.

Dalam IBO terdapat dua program yaitu Primary Years Program (PYM) yang diberlakukan bagi anak-anak usia TK hingga SD kelas 6 dan Middle Years Program (MYP) yang diberlakukan bagi anak-anak usia SMP sampai SMA. “Keuntungan digunakannya program tersebut yaitu saat sekolah murid-murid ini belum tamat, tapi karena satu dan lain hal mereka harus pindah ke luar negeri, Australia misalnya, mereka tinggal mencari sekolah-sekolah yang memberlakukan program yang sama dan melanjutkan pendidikan mereka, tanpa harus mundur setahun,” katanya.

Sistem ini tidak hanya memudahkan perpindahan sekolah antarnegara, tapi juga dalam satu negara. Di Indonesia, selain SGIA, terdapat 16 sekolah lain yang juga menggunakan program ini, di antaranya Sekolah Ciputra, Sekolah Global Jaya, dan Sekolah Pelita Harapan.

sekolah global-3Di samping itu, SGIA yang 30% muridnya ekspatriat Asia ini juga menyeimbangkan kegiatan belajar dengan bermain, sebuah kurikulum yang pada umumnya tidak ditemui di dunia pendidikan di negara-negara berkembang.Termasuk, Indonesia. SGIA tidak pula mendidik para muridnya untuk menjadi anak pintar, tapi kreatif. Sebab, pintar itu relatif.

“SGIA tidak menuntut para muridnya untuk menjadi juara, apalagi juara 1. Karena, hal ini bisa dijadikan senjata oleh para orangtua untuk mem-push anak-anak mereka. Kasihan kan kalau misalnya seorang anak diancam orangtuanya bila tidak menjadi juara 1. Lantas, dengan berbagai cara ia akan berusaha menjadi juara 1. Tapi setelah menjadi juara 1, so whatgitu loh?” katanya.

Sekolah yang dihuni 25 murid TK per kelas dan 20 murid perkelas untuk tingkat SD, SMP, dan SMA ini hanya akan menganugerahi para muridnya yang berprestasi dengan gelar The Best in (matematika, bahasa, dan sebagainya). “Bisa saja si anak masuk dalam 10 besar, tapi tetap tidak bisa dikatakan juara 1, 2, atau 3,” jelasnya.

Semua murid sekolah swasta yang tanpa embel-embel terdaftar, disamakan, atau diakui ini akan naik kelas dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60. “Menurut kami, anak akan down bila tidak naik kelas,” ujarnya.

Karena itu, anak yang tertinggal nilai pelajarannya akan pulang lebih lambat untuk mendapat pelajaran tambahan (tanpa biaya tambahan, red.), yang dikesankan mereka sedang bermain. “Si anak tahu apa sebabnya ia pulang lebih lambat daripada teman-temannya.Tapi, orang-orang di luar mereka tidak tahu,” tambahnya.

sekolah global-5Dengan jam belajar 08.00-16.00, para murid tidak diperbolehkan menghafal mati, tapi cenderung menggunakan logika.Kecuali, saat menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Selain itu, mereka dituntut untuk siap setiap saat diuji. Sekolah yang menggunakan sistem moving class atau murid-murid yang mendatangi gurunya ini, juga menuntut para muridnya untuk memenuhi 10 tujuan (inquirers, thinkers, communicators, risk-takers, knowledgeable, principled, caring, open-minded, well-balanced, dan reflective) yang telah ditetapkan.

Namun, Anas menekankan bahwa SGIA bukanlah sekolah untuk ekspatriat. “Kalau iya, ngapain kami pusing-pusing ngurusin UAN. Karena, orang asing tidak butuh hal itu, yang mereka pentingkan hanya lulus dari SGIA. Setelah itu, kembali ke negara mereka dan meneruskan sekolah di sana,” imbuhnya.

Sedangkan bagi para guru disyaratkan minimal sarjana S-1 dalam bidang pendidikan dan dapat berbahasa Inggris aktif. “Guru asing yang ingin bergabung ke SGIA diharuskan sudah pernah mengajar di sekolah yang menggunakan PYP dan MYP,” katanya.

Merunut ke belakang. SGIA berdiri pada tahun 1998 dengan modal awal Rp200 juta. Semula hanya memiliki 12 murid yang ditempatkan dalam satu rumah tinggal dengan empat kamar tidur, yang kemudian disekat-sekat menjadi enam kamar tidur ber-AC.Setahun kemudian, bertambah menjadi sekitar 40 murid yang semuanya berasal dari kalangan ekspatriat.

Selanjutnya, dengan nilai investasi Rp5 milyar, sekolah yang memiliki ribuan murid ini telah memiliki tiga gedung dan berdiri di atas lahan seluas 2 ha, serta berbagai fasilitas seperti lapangan bola indoor, playground, berbagai laboratorium, kantin yang mirip food court, perpustakaan dengan ratusan judul buku, toilet mungil di setiap ruang kelas TK, dan sebagainya. “Kalau saya sudah siap, SGIA akan saya franchisekan. Saat ini sudah ada permintaan dari Balikpapan, Surabaya, dan Pekanbaru,” ucapnya.

Sebagian orang berpikir bahwa sekolah elit seperti ini merupakan bisnis yang basah. Sehingga, banyak yang berduyun-duyun terjun ke dalamnya.Benarkah itu? “Saya tidak setuju! Kalau mau berbisnis jangan di sekolah. Sebab, berbeda dengan bisnis pada umumnya bila merugi dan mengalami kebangkrutan tinggal ditutup saja. Lalu para karyawannya di PHK. Sedangkan sekolahan serugi apa pun tetap harus terus jalan,” jelasnya.

Selain itu, ia menambahkan, sekolah merupakan proyek jangka panjang. Ibaratnya, investasi moral. Karena, kita bergerak dalam kegiatan mendidik atau menghasilkan orang-orang yang berpendidikan dan sukses dalam dunia kerja mereka. Pendidikan merupakan investasi masa depan. Jadi harap maklum bila pendidikan yang bagus cenderung mahal. “Tidak pernah ada pendidikan bagus tapi murah.Meski begitu, dunia pendidikan bukan ajang bisnis!” tegasnya.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!