Mengangkat Kuliner Makassar dengan Quality Control

Rumah Makan Anging Mamiri

Bisnis makanan memang kagak ade matinye, tapi juga kagak brenti pesaingnye. Bagi pelaku usaha kuliner yang hanya mampu menonjolkan makanannya harus banyak berstrategi. Dan, itulah yang dilakukan Hefsty dengan Anging Mamiri hingga menjadi salah satu tujuan wisata di Batam dan menyandang gelar Wonder Food of Kepri

Anging Mamiri banyak melakukan inovasi baik dari sisi menu maupun marketing

e-preneur.co. Diakui atau tidak, jatuh bangunnya sebuah tempat makan ada pada koki. Karena, banyak pemilik tempat makan yang menggantungkan usaha mereka kepada koki. Sehingga, ketika sang koki meninggalkan mereka, maka mati pulalah usaha mereka. Meski, ada yang berpikir jika koki yang satu pergi, maka bisa digantikan oleh koki yang lain. Tapi, ingat-ingatlah bahwa lain tangan, lain juga hasilnya.

IMG_2064Hal semacam itu, pernah pula dialami oleh orang tua Hefsty Anggriani yang membuka rumah makan Makassar di Batam, pada tahun 1997. Untuk itu, orang tuanya mempekerjakan koki dari Makassar. Dalam perjalanannya, terjadi benturan hingga akhirnya si koki tidak lagi bekerja di rumah makan tersebut.

“Saat koki tersebut masih bekerja untuk orang tua saya, kebetulan saya sudah sering ikut terjun ke dapur. Sehingga, sudah terbiasa dengan berbagai macam bumbu. Saya juga suka makan, termasuk makan makanan Makassar. Meski, saya orang Padang. Di sisi lain, suami saya berasal dari Makassar. Akhirnya, dia yang mengurusi quality control-nya. Dengan saling mengisi seperti itu, akhirnya kami menjalankan usaha ini,” kisah Hefsty, yang memegang kendali atas rumah makan ini pada tahun 2003.

Anging Mamiri, demikian nama rumah makan ini, berasal dari kata dalam Bahasa Makassar yang berarti angin sepoi-sepoi. “Saya membawa nama ini ke dalam usaha saya supaya gampang diingat dan tamu segera mengetahui jika Anging Mamiri berarti kuliner dari Makassar,” lanjutnya. Ya, Anging Mamiri menyediakan Coto Makassar, Sop Konro, Konro Bakar, Nasi Goreng Merah, Es Pisang Ijo, Es Palu Butung, dan sebagainya.

Pada awal membuka Anging Mamiri, muncul penolakan dari orang-orang Makassar. Sebab, ada pemikiran bahwa untuk membuka usaha makanan Makassar, maka yang memasak atau menjual haruslah orang Makassar agar mendapat citarasa aslinya.

“Sebenarnya, saya bukan bermaksud sok berani menjual makanan Makassar, tapi kebetulan suami saya orang Makassar. Dari sini, saya ingin mengubah pola pikir masyarakat bahwa tukang masak makanan suatu daerah tidak harus berasal dari daerah tersebut,” tegasnya.

Terobosan yang dilakukan Hefsty tidak cuma itu, ia juga banyak melakukan inovasi baik dari sisi menu maupun marketing-nya. Di samping itu, ia banyak berpromosi dengan menggunakan bantuan media. Pada sekitar tahun 2007–tahun 2008, ia beralih menggunakan media sosial.

Diakuinya, dalam menjalankan usaha ini, ia mengalami banyak sekali jatuh bangun. “Tapi, saya sudah berkomitmen untuk mengangkat kuliner Nusantara. Saya prihatin dengan kondisi Batam yang dekat dengan Singapura dan Malaysia, sehingga banyak lalu-lalang orang asing. Imbasnya, bermunculan berbagai makanan franchise dari Eropa. Ini menjadi beban tersendiri, karena produk mereka lebih unggul, demikian pula kemasannya. Sehingga, gampang diterima oleh anak-anak muda,” ujarnya.

IMG_2070

Namun, ia melanjutkan, dengan terus berkomitmen cinta dengan makanan Indonesia, kita harus berusaha menunjukkan ini lho masakan Idonesia. Sehingga, kita tidak akan tergerus oleh makanan-makanan dari luar.

“Setidaknya seperti yang saya lakukan. Alhamdulillah usaha ini terus berjalan dan pangsa pasarnya berkembang,” tambahnya.

Di sisi lain, seiring berjalannya waktu, orang-orang makan bukan hanya karena lapar, melainkan juga membutuhkan sensasi. Seperti, keunikan atau mampu menimbulkan kesenangan baik pada makanan maupun tempat makannya. Imbasnya, tumbuhlah berbagai tempat makan yang juga menyediakan live music, misalnya.

Bagi pelaku usaha kuliner yang hanya menonjolkan produk, harus berusaha mencari sesuatu yang lain. Kebetulan, Anging Mamiri masuk dalam dinas pariwisata sebagai salah satu tujuan wisata di Batam. Bahkan, pada tahun 2013, Anging Mamiri menempati posisi kedua dalam Wonder Food of Kepri.

Ini terjadi karena, pertama, Anging Mamiri merupakan rumah makan Makassar pertama yang ada di Batam. Karena itu, tagline-nya: Pertama di Batam dan Terjaga Kualitasnya. Kedua, karena Hefsty sendiri yang menjadi kokinya, maka quality control-nya terjaga.

Ketiga, Anging Mamiri berpromosi dengan rajin mengikuti berbagai kegiatan yang dilakukan oleh dinas pariwisata.“Dengan bergabung sebagai anggota, lalu ketika ada event yang sedang diangkat pemerintah, maka Anging Mamiri harus ikut, dan kami pun ter-branding,” ungkap kelahiran Batam, 28 April 1977 ini.

Kempat, Anging Mamiri mempunyai standar menu. Masyarakat Batam itu beragam. Angin Mamiri berusaha agar menu-menunya juga dapat dinikmati oleh bukan masyarakat Makassar.“Untuk itu, saya melakukan survai dengan mengandalkan angket ke para tamu. Hasilnya, keluhan mereka saya perbaiki, makanan yang diunggulkan terus saya promosikan,” lanjutnya.

Kelima, agar makanan di Anging Mamiri dikenal, Hefsty memberi diskon yang luar biasa untuk komunitas-komunitas yang mau menjadikan rumah makan ini sebagai ajang event mereka. Anging Mamiri juga menyediakan fasilitas delivery order dan katering. Untuk delivery order sebatas Batam Center, Nagoya, dan Jodoh tidak dikenai ongkos kirim.

Dan, untuk mempersempit ruang gerak pesaing, Anging Mamiri hanya libur saat Idul Fitri dan Idul Adha. “Kalau tamu datang sedangkan kami sedang tutup, berarti membuka peluang bagi pesaing. Pengunjung akan menuju ke pesaing. Kalau kebetulan cocok di lidah mereka, otomatis kami telah kehilangan pelanggan. Jadi, lebih baik kami buka terus,” ucapnya.

Ke depannya? “Saya ingin mengembangkan usaha ini. Kami akan mengeluarkan Anging Mamiri dalam bentuk booth yang akan kami taruh di SPBU atau mal. Untuk menunya hanya Coto Makassar, Es Pisang Ijo, dan Es Palu Butung. Selain itu, kami akan memperluas outlet ini menjadi tiga ruko dan membongkar lantai dua. Kami juga akan menyediakan oleh-oleh khas Makassar, berikut suvenirnya,” ujarnya.

Prospeknya? “Kami merupakan kuliner Makassar yang terbesar di Batam. Sementara di Batam, masyarakat Makassar banyak sekali dan mereka sudah kami ‘pegang’. Kebetulan Anging Mamiri berada di Jalan Raja Ali Haji, Kompleks Sampurna, Nagoya, berdekatan dengan mal dan hotel, sehingga kami selalu dipenuhi pengunjung. Artinya, masyarakat di luar Makassar pelan tapi pasti juga sudah teraih,” pungkasnya.

FacebooktwittermailFacebooktwittermail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!