Menembus Pasar Fashion Anak-anak Melalui Busana yang Nyaman, Fashionable, dan Syar’i

Naylakidz

 

Anak-anak identik dengan pribadi yang suka bermain, berpetualang, serba ingin tahu, dan sebagainya. Karena itu, pakaian yang mereka kenakan sebisa mungkin tidak menghalangi gerakan dan pertumbuhan mereka, tapi tetap sopan. Dan, Kang Ade tahu betul tentang itu hingga ia melahirkan Naylakidz

 

Naylakidz ingin membantu para orang tua dalam membangun karakter anak-anak mereka agar tampil lebih bersemangat, ceria, dan kreatif setiap hari melalui busana yang nyaman dipakai, kuat, dan fashionable.

e-preneur.co. Percaya bahwa anak-anak Indonesia seharusnya bisa tetap beraktivitas dengan semangat, ceria, dan kreatif dalam balutan busana yang nyaman, fashionable, dan syar’i, seorang Ayah dengan landasan rasa cinta dan gelisah terhadap perkembangan buah hatinya pun mendirikan Naylakidz di Bandung, pada medio 2010. “Kami sadar bahwa anak-anak merupakan pribadi yang aktif, penuh rasa ingin tahu, dan suka berpetualang. Karena itu, sejak awal, kami berkomitmen untuk memproduksi busana anak yang nyaman dipakai, kuat, tapi tetap fashionable, dan bisa memberikan nilai edukasi,” jelas Ade Wahyudi, Founder sekaligus Direktur Naylakidz.

Naylakidz dibangun dengan modal awal Rp2,5 juta. Di sini, tersedia produk fashion anak muslim baik laki-laki maupun perempuan dengan rentang umur 4–12 tahun. “Umur 4–12 tahun merupakan usia penting bagi pembentukan karakter anak. Dan, Naylakidz ingin membantu para orang tua dalam membangun karakter anak-anak mereka agar tampil lebih bersemangat, ceria, dan kreatif setiap hari,” jelas pria, yang mengambil nama putri pertamanya sebagai nama usahanya ini.

Produk-produk yang dimaksud yaitu gamis, tunik, kerudung, rok, baju koko, celana, aksesoris (bros, bandana, dan lain-lain) berbahan dasar denim dan katun combed. “Saat ini, yang menjadi best seller yaitu gamis, setelan rok denim, legging, kerudung, dan baju koko denim,” ujar Kang ade, begitu ia biasa disapa.

Melalui home industry sekaligus kantor pusatnya yang terletak di Jalan Banjarsar, Antapani, Bandung, setiap bulan Naylakidz rata-rata memproduksi sekitar 5.000‒6.000 pieces, bahkan mampu memproduksi hingga 10.000 pieces, dengan tingkat penyerapan pasar bervariasi, tergantung pada bulan tertentu atau kondisi eksternal. Tapi, biasanya sekitar 70%‒90%.

“Untuk yang tidak terserap pasar, kami tetap menjualnya ke pasar. Karena, produk Naylakidz tidak mengenal istilah kadaluarsa atau tidak tren lagi. Apalagi, kami menciptakan tren sendiri,” ungkap Kang Ade, yang dari pertengahan tahun 2010 sampai Juli 2012 menjalankan Naylakidz seorang diri mulai dari desain, produksi, sampai berjualan. Tapi, saat ini, sudah mempunyai kurang lebih 12 orang tim kreatif dan lima kelompok penjahit di mana satu kelompok penjahit mempunyai anggota sekitar 3‒5 penjahit.

Dibandingkan dengan bisnis sejenis, menurut sarjana teknik planologi dari Universitas Islam Bandung ini, Naylakidz memiliki beberapa keunggulan yakni pertama, desainnya unik dan original. Kedua, padu padan warnanya berani, sesuai dengan karakter anak-anak. Ketiga, bahannya berkualitas dan sangat nyaman dipakai. Panas terik sekali pun, anak-anak tetap bisa beraktivitas dengan ceria.

Keempat, diperuntukan aktivitas sehari-hari, bukan hanya event-event tertentu. Sehingga, secara bisnis lebih menjanjikan. Kelima, sistem dan pola bisnisnya fleksibel. Dengan demikian, memudahkan mereka yang baru mulai berbisnis.

Dengan fokus pada kelebihan-kelebihan tersebut, serta rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, Naylakidz pun yakin bisa memenangkan persaingan.

Sementara, dalam memasarkan produk-produknya, Naylakidz mengombinasikan konsep pemasaran offline dan online yaitu dengan membangun jaringan distribusi di seluruh Indonesia dan melakukan penjualan online, sebagai bentuk pembangunan branding image supaya produk Naylakidz bisa dikenal di pasar.

Dengan demikian, jika berminat membeli produk Naylakidz, tinggal klik www.naylakidz.com di mana untuk pembelian ritel bisa belanja satu piece, sedangkan untuk grosir harus belanja senilai sekitar Rp300 ribu–Rp30 juta. Atau, mengunjungi toko-toko mitranya dan agen-agennya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Berbicara tentang prospek, prospektifkah bisnis ini? “Selama masih ada anak-anak yang dilahirkan dan tumbuh, maka bisnis ini akan terus prospektif,” tegas kelahiran Subang, 28 Oktober 1978 ini. Sementara ke depannya, ia ingin fokus mencapai visi Naylakidz yaitu menjadi 10 besar brand fashion anak Indonesia. “Sehingga, semua upaya dan usaha kami lakukan untuk menuju pada pencapaian visi tersebut,” pungkasnya.

 

FacebooktwittermailFacebooktwittermail
error: Content is protected !!