Agar Survive dalam Agribisnis, Tidak Bisa Cuma Bergantung Pada Hasilnya

Zulham Ariansyah

(Sentul Fresh Indonesia)

 

Bob Sadino pernah mengatakan bahwa dalam berbisnis, jangan banyak mikir. Kalau sudah mulai, kalau ada halangan, baru kita pikirkan. Konsep bisnis ini pula, yang diusung Zulham Ariansyah. Ya, hanya dengan berbekal modal nekad, pria di balik Sentul Fresh Indonesia ini telah berhasil mengintegrasikan pertanian, perikanan, dan peternakan yang cukup diperhitungkan, serta sebuah edufarm yang selalu ramai dikunjungi para murid TK dan SD dari Bogor dan Jakarta

 

e-preneur.co. Banyak orang berpikir bahwa investasi dalam bentuk tanah (baca: lahan, red.), tidak akan pernah merugi. Karena, harganya akan terus naik. Tapi, jika hanya terus-menerus membeli yang notabene semakin lama semakin luas tanpa memanfaatkannya sama sekali, maka yang terjadi justru rugi tidak untung pun tidak.

Tidak ingin mengalami seperti itu, dengan pertimbangan sekadar memanfaatkan lahan kosong yang dibelinya di Kampung Cijulang, Bogor, sang pemilik menjadikannya tempat bisnis yang diberi nama Chicken and Fish Farm. Bisnis yang dibangun tahun 1998 itu, dimulai dengan “memelihara” Ikan Mas. Mengingat, konsepnya kolam running/air deras.

Agrobisnis itu bisnis dari hulu ke hilir dan integrated

Namun, dalam perjalanannya, kualitas air jelek dan jumlahnya tidak banyak. Sehingga, akhirnya, asal membudidayakan saja. Di samping itu, bisnis ini juga “memelihara” ayam broiler/pedaging dengan kapasitas 15 ribu–20 ribu ekor dalam empat kandang.

Tahun 2002, Zulham Ariansyah menikahi putri pemilik bisnis ini. Lalu, ia diminta sang Bapak Mertua untuk mengelola usahanya pada awal tahun 2003. Tepatnya, setelah ia mengundurkan diri sebagai karyawan PT Dupon Indonesia.

“Saya melihat, apa yang harus saya ‘pegang’ yaitu yang paling cepat menghasilkan uang. Dan, ayam pun saya ‘pegang’. Pas saya ‘pegang’, ndilalah ada flu burung yang menyebabkan harga ayam anjlog dari Rp7 ribu/ekor menjadi Rp4 ribu/ekor. Kerugian kami Rp42 juta (total lost Rp60 juta, red.),” tutur Zulham.

Pantang menyerah, menantu dan Bapak Mertua ini memulai lagi dengan 10 ribu–12 ribu ekor ayam. “Karena modal pas-pasan, saya membeli dalam bentuk DOC (Day Old Chicken atau anak ayam umur sehari, red.), pakan, dan obat-obatan secara cash,” kisahya.

Dalam perjalanannya, mereka menghasilkan untung Rp40 juta. “Tahun pertama saya datang, net profit-nya sekitar Rp200 juta,” lanjut Zulham, yang hanya merugi dalam satu periode, sementara pada periode-periode berikutnya ia untung.

Strategi yang ia jalankan yaitu masuk ke dalam komunitas seperti PPUN (Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara) di Bogor, membentuk asosiasi, mempunyai kenalan, dan sebagainya. Imbasnya, ia mendapat DOC dengan harga mendingan, serta pakan dan obat-obatan dengan harga kortingan.

Pembayaran pun bisa dilakukan 30 hari kemudian untuk pembelian DOC dan 2–3 minggu setelah pembelian pakan. Sehingga, ia bisa memutar modal yang selanjutnya diinvestasikan untuk membuat kandang. Bahkan, pada tahun ketiga, ia bisa meningkatkan populasi menjadi 50 ribu ekor ayam.

Berikutnya, ia “memegang” ikan yang semula nila diganti lele. Karena, masalah air tersebut di atas. “Saya ‘memelihara’ 100 ribu–150 ribu ekor lele dalam empat kolam dengan konsep pembesaran, dengan membeli bibit di pasar berukuran 9 cm–10 cm dan 11 cm–12 cm,” ungkap kelahiran Pangkal Pinang, 12 Januari 1971 ini.

Tiga tahun, bisnis itu ia jalani. Meski menghasilkan untung, tapi tidak banyak, maksimal hanya Rp5 juta/bulan. “Karena itu, ‘memelihara’ ikan ini hanya saya anggap iseng,” tambahnya.

Tahun 2005, Zulham sempat memelihara Burung Murai Batu, Kenari, LoveBird, dan segala jenis burung berkicau. Karena jumlahnya semakin banyak, ia ingin menjadikannya bisnis. Tapi, ternyata, tidak semudah yang dibayangkan. Sehingga, ia ragu dan mengakhiri hobinya ini pada tahun 2008.

Tahun 2009, ia juga mengakhiri “pemeliharaan” lele. Sebab, yang mengurusi keluar dan para penggantinya tidak bisa mengurusi sebaik yang sebelumnya.

Di sisi lain, bisnis ayamnya pun goyang. Tahun 2010, Pemilik Chicken and Fish Farm yang notabene Bapak Mertuanya memutuskan untuk membongkar sebagian kandang ayam dan menjadikannya kandang sapi perah.

Tahun pertama bisnis ini, Zulham tidak cawe-cawe karena masih mengurusi ayam. Selain itu, ia juga membuka bisnis kambing untuk akikah.

“Namun, saya melihat jumlah susu yang dikeluarkan oleh sapi-sapi itu dari hari ke hari, minggu ke minggu, semakin berkurang. Setelah dicek, ternyata karena faktor umur dan masa si sapi mengeluarkan susu secara alamiah sudah menurun. Selain itu, banyak anak sapi yang mati pada umur 1–2 minggu. Lantaran, salah dalam pemeliharaan,” bebernya.

Setelah belajar tentang tetek bengek sapi, pada tahun kedua, Zulham meminta Bapak Mertuanya untuk ikut mengurusi sapi dan beliau setuju. “Tapi, begitu saya yang mengurusi, goncangan terjadi. Dalam bisnis sapi, masalah utamanya yaitu man power,” kata Zulham, yang mengorbankan bisnis kambingnya agar bisa fokus di sapi.

Untuk mengatasinya, ia “membuang” 21 dari 90 ekor sapi yang ada dan mengganti orang-orang yang selama ini mengurusinya. “Selain itu, saya berubah menjadi anak kandang agar bisa memahami bisnis ini. Sehingga, kalau ada problem, saya bisa mengatasi sendiri, di samping bisa mengetahui jika ada anak kandang yang berbohong,” lanjutnya.

Tahun kedua, keuangan mulai balance, walau populasinya turun. Tahun ketiga, Zulham “berdarah-darah” lagi. Karena, ia gagal menciptakan siklus mengawinkan lagi si sapi setelah 2–3 bulan hewan ini beranak.

“Pada Maret–September 2013, kerugian kami sampai berpuluh-puluh juta rupiah. Akhirnya, saya tanyakan apakah akan terus atau tidak. Jika terus, maka tidak dapat menggantungkan pemasukan dari susu sapi thok. Mengingat, harga susu sapi cuma Rp5 ribu/lt dan itu sama sekali tidak menutup,” ujarnya.

Akhirnya, dengan sangat terpaksa, sarjana teknologi pertanian dari Universitas Lampung ini mencoba mengolah susu menjadi yogurt. Tapi, selalu gagal. Sebenarnya, ia sudah mulai merasa malas, namun karena kepepet, ia terus mencari ide untuk dibuat apa lagi susu itu.

Zulham melihat bahwa para pengusaha besar di bidang yogurt tidak bermain di es yogurt, tapi para pengusaha UKM (Usaha Kecil Menengah) melakukannya. “Saya melihat usaha yogurt dengan berapa liter susu pun hidup mereka survive. Pasti ada sesuatu di situ,” ucapnya.

Lantas, ia belajar pembuatan yogurt pada seorang pengusaha UKM di bidang yogurt. “Ternyata, gampang. Prinsip mikrobiologi pangan bisa diterapkan dengan sangat sederhana di sini, dengan tetap menerapkan kaidah-kaidah kebersihan,” tambahnya.

Kemudian, ia mempraktikkan dengan menggunakan beberapa peralatan baru. Hasilnya, kadang gagal, kadang berhasil. “Untuk tester-nya, saya menggunakan para santri saya. Setelah berhasil, saya menyuruh satpam saya memasarkannya,” lanjutnya.

Dalam perjalanannya, tiga orang temannya bergabung untuk bersama-sama memasarkan es yogurt yang berbentuk seperti es lilin tersebut di kawasan Jabodetabek. Selanjutnya, dengan kapasitas produksi 12.000 kemasan/bulan di mana per kemasan berisi 10 pieces, terjual 8.000–9.000 kemasan/bulan dengan harga produsen Rp3.600/kemasan. Kini, es yogurt yang diberi merek Sentulfresh ini hanya bisa dibeli melalui reseller dan distributor, selain produsen.

Sebagai usaha terintegrasi antara pertanian, perikanan, dan peternakan, Sentul Fresh Indonesia, begitu namanya sekarang, juga membudidayakan tanaman Rumput Gajah untuk sapi, kebun Buah Naga di kolam running untuk mendukung Edufarm, serta pupuk sapi dan pembibitan buah-buahan.

Tentang Edufarm (Education Farm) adalah sebuah wisata edukasi, yang ditujukan bagi para murid TK (Taman Kanak-kanak) dan sederjat, serta SD (Sekoah Dasar) tapi tidak menutup kemungkinan untuk para murid SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas), dan para mahasiswa.

Dalam Sentulfresh Education Farm, begitu nama panjangnya, anak-anak tersebut akan diperkenalkan dengan berbagai aspek dunia peternakan sapi perah, ikan, ayam, burung, tanaman hias, dan sebagainya. Di sini, mereka akan ikut memerah susu sapi dan menunggangi anak sapi, memberi makan ikan, burung, rusa, dan kelinci, meninjau peternakan Cacing Lumbicus dan ayam broiler, melihat koleksi tanaman hias, serta praktik membuat yogurt.

“Menurut saya, berbicara tentang agrobisnis tidak bisa parsial. Jika kita bergantung pada satu produk saja, misalnya karena beternak sapi dengan hasil susu, lalu kita hanya menjual susu saja, maka habislah kita. Dan, itu sudah terjadi pada teman-teman saya. Dengan belajar pada apa yang terjadi pada mereka, saya melakukan diversifikasi, memanfatkan lahan, membuat usaha baru, menggabungkan unit-unit usaha yang ada menjadi Edufarm. Saya memandang agrobisnis itu bisnis dari hulu ke hilir dan integrated,” pungkasnya.

 

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!