Karena Bisnis ini Berbasis Knowledge

Mustofa Romdloni

(MR Corp)

 

Jika ingin terjun ke dunia bisnis, sebaiknya memilih bidang yang selama ini dipahami atau menjadi kesukaan. Sebab, jika itu dilakukan, dalam waktu relatif singkat, kesuksesan akan diraih. Seperti yang terjadi pada Mustofa, dengan bisnis-bisnisnya yang terangkum dalam MR Corp, yang beromset milyaran rupiah

 

e-preneur.co. Pada tahun 2009, jumlah produsen bahan baku yang berkualitas tapi tetap ekonomis untuk industri-industri di bidang elektronik, otomotif, home appliances, maupun furniture belum sebanding dengan kebutuhan. Imbasnya, permintaan pun tidak dapat dipenuhi dengan bagus.

Sepanjang manusia masih menggunakan barang-barang yang terbuat dari plastik, maka perusahaan-perusahaan semacam ini akan terus ada dan semakin besar

Berkaitan dengan itulah, Mustofa Romdloni dan partnernya mendirikan PT ABC Plastindo (baca: ABC, red.), pada akhir tahun 2009. “Awalnya, kami mendapat proyek besar berupa selang LPG (Liquefied Petroleum Gas), terkait dengan konversi dari minyak tanah ke LPG. Lalu, kami pun mendirikan ABC dengan cepat untuk menyediakan bahan baku pembuatan selang LPG. Imbasnya, kami pun berkembang dengan cepat dan segera balik modal,” kisah pria, yang akrab disapa Tofa ini.

ABC adalah manufaktur polymer dan PVC compound (masyarakat awam menyebutnya biji plastik, red.). Bahan baku ini, biasanya digunakan industri-industri yang membuat berbagai produk plastik yang ada di barang-barang elektronik, otomotif, peralatan rumah tangga, dan sebagainya. “Nah, ABC merupakan pemasok bahan baku tersebut ke industri-industri itu, yang sekaligus juga pelanggannya,” lanjut Director PT ABC Plastindo ini.

Dalam perkembangannya, ABC masuk ke semua sektor industri, dari yang paling simpel hingga yang paling rumit. Singkat kata, apa pun yang menggunakan plastik dirambah oleh perusahaan ini. “ABC menyasar industri skala menengah atas atau corporate (high end), seperti otomotif, elektronik, furniture, serta hospital/medical dan toys,” katanya.

Sebelum ABC hadir, Tofa beserta partnernya telah mendirikan PT Zenith Material Solution (baca: Zenith, red.), pada pertengahan tahun 2009. Zenith bergerak di bidang konsultan dan pemasok raw material. “Ketika sebuah perusahaan mempunyai sumber daya, misalnya dana untuk membangun pabrik, lantas memerlukan knowledge untuk menjalankan pabrik itu dan juga bahan bakunya, terutama di bidang biji plastik, maka itulah yang di-handle oleh Zenith,” jelas Tofa, yang di sini memegang jabatan president director.

Zenith, sarjana teknik kimia dari Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, ini menambahkan, akan membantu perusahaan tersebut bagaimana mengolah biji plastik menjadi produk-produk yang akan mereka gunakan sendiri. Selain itu, juga memberi/memasok bahan-bahan mentahnya.

Kalau perusahaan itu akan mengadakan pengembangan, maka Zenith pula yang menanganinya. “Misalnya, saat itu mereka membuat part ini. Kemudian, mereka akan membuat part baru, maka kamilah yang bertanggung jawab untuk itu, seperti melakukan riset, development, dan memberi formulasinya,” ujarnya.

Untuk bisa mendapat konsultasi dari Zenith, Zenith memberinya free sampai running. Sementara pembayaran, dilakukan ketika pembelian bahan dasar yang tergantung pada nilai proyeknya. Misalnya, untuk perusahaan besar biasanya pemakaiannya sebesar 100 ton.

Di samping ABC dan Zenith, ada lagi PT Buana Oasis Chemicals (baca: Boschem, red.). Munculnya perusahaan ini, lantaran banyaknya permintaan dari dunia luar berupa produk-produk yang dibuat oleh industri-industri yang menjadi langganan ABC.

“ABC ‘kan membuat bahan baku yang lalu diolah menjadi berbagai produk oleh para pelanggannya. Nah, sekarang, banyak pihak yang mencari produk-produk tersebut dan itulah yang di-handle Boschem. Jadi, Boschem itu berjualan finished goods,” ungkap President Director PT Buana Oasis Chemicals ini.

Baik PT ABC Plastindo, PT Zenith Material Solution, maupun PT Buana Oasis Chemicals hanyalah tiga dari beberapa perusahaan, yang berada di bawah naungan MR Corporation (MR Corp). Dan, sejauh ini, MR Corp berjalan dengan mulus. Menurut Tofa, itu karena bisnis ini berbasis knowledge.

Untuk itu, kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 8 September 1977 ini, memberi kiat di mana salah satunya yakni harus mempunyai jaringan yang lebih luas lagi. Karena itu, ia bergabung dengan sebuah komunitas wirausaha yang terbesar di Indonesia. Di sisi lain, sebagai putra seorang guru sekaligus ustad, ia merasa memiliki bakat dan minat untuk mengajarkan (sharing) tentang proses panjang dalam berbisnis yang dijalaninya melalui seminar, workshop, dan lain-lain.

“Pada dasarnya, saya bukan pengusaha yang terlalu paham dengan bisnis online. Karena, biasa B2B (business to business). Sementara komunitas wirausaha itu jagonya online. Sebab itulah, saya belajar di sana. Di samping itu, jika kita ingin mendapat ilmu dari para pebisnis kelas kakap, hanya komunitas wirausaha itu yang dapat mengundang mereka. Dan, itulah kekuatan networking,” ucap mantan Presiden (Komunitas) Tangan Di Atas ini.

Berbicara tentang prospek, menurutnya, tentu saja masih sangat prospektif. Sebab, sepanjang manusia masih menggunakan barang-barang yang terbuat dari plastik, maka perusahaan-perusahaan semacam ini akan terus ada dan semakin besar. Seperti halnya MR Corporation, yang telah memiliki tiga pabrik yaitu di Bekasi (3.000 m²), Tangerang (1.000 m²), dan Setu (1 ha).

 

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!