Ayam Bermahkota Ini Selalu Ada Prospeknya

Ayam Poland

 

Seperti bisnis makanan, bisnis ayam hias pun kagak ade matinye. Ambil contoh Ayam Poland, yang bukan hanya diminati para hobiis ayam hias, melainkan juga peternak ayam. Mengingat, ayam bermahkota ini bukan hanya hewan peliharaan yang cantik, tapi juga produk bisnis yang laris manis

 

Bukan hanya yang masih anakan, melainkan juga yang sudah remaja, bahkan indukan Ayam Poland laris manis di pasaran

e-preneur.co. Ayam, boleh dikata, merupakan salah satu hewan peliharaan yang paling populer di kalangan masyarakat mana pun di negeri ini. Terbukti, unggas yang satu ini bisa ditemukan hampir di setiap rumah penduduk.

Karena, selain dapat diambil daging dan telurnya, beberapa jenis ayam juga memiliki suara yang indah dan bentuk tubuh yang khas atau unik. Sehingga, cocok untuk dijadikan klangenan (Jawa: kesenangan, red.).

Salah satu dari sekian jenis ayam yang memiliki penampilan dan suara plus tersebut yakni Ayam Poland. Ayam yang kadangkala disebut Ayam Polish ini, memiliki ciri yang sangat khas di kepalanya berupa bulu-bulu yang menyerupai jambul atau mahkota.

Sementara posturnya, menurut Nunung, penggemar sekaligus peternak ayam hias asal Sleman, Yogyakarta, lebih kecil daripada ayam kampung, tapi lebih besar ketimbang Ayam Serama atau ayam kate. Ayam Poland juga mempunyai suara yang sangat unik.

Di samping itu, ayam yang ternyata tidak berasal dari Polandia, melainkan dari dari Belanda ini sebenarnya ayam petelur yang mampu menghasilkan telur-telur konsumsi yang bermutu. Padahal, di Indonesia, hanya dijadikan ayam hias.

“Karena keunikan-keunikannya itulah, Ayam Poland dilirik para penggemar maupun peternak ayam yang tidak ingin kehilangan momen untuk meraup omset sebesar-besarnya, dengan menjual ayam ini,” ujar Nunung.

Namun, Ayam Poland, Nunung melanjutkan, berbeda dengan ayam pedaging atau ayam kampung. Mengingat habitat aslinya di Eropa dan ayam ini mudah sekali stres, maka perlu penanganan ekstra dalam pemeliharaannya. Untuk itu, dianjurkan untuk sangat memperhatikan kebersihan kandang.

Bagi para peternak yang ingin menternakkan ayam ini, Nunung menyarankan menggunakan sistem baterai. Sebab, dengan sistem ini ayam akan mudah diawasi, selain membuat ayam merasa nyaman. Berbeda dengan sistem koloni di mana kandang mudah sekali kotor dan kemungkinan terserang haratan atau sakit lumayan besar.

“Untuk ukuran kandang yang akan digunakan disesuaikan dengan tempat yang dimiliki. Selanjutnya, setiap kandang diisi sepasang indukan yang sudah siap bertelur,” ucapnya. Sekadar informasi, kandang baterai yang sudah jadi dapat dibeli di toko-toko burung, yang menjual sangkar.

Tantangan dalam beternak Ayam Poland yaitu ayam ini sangat mudah kaget dan ketakutan, ketika melihat binatang lain masuk ke kandangnya. Imbasnya, ayam akan stres dan kesehatan menurun. Di samping itu, cuaca dan pergantian musim yang ekstrim. Mengingat, ayam yang masuk ke Indonesia pada masa kolonial Belanda ini juga sensitif terhadap angin dan cuaca. Karena itu, kandang harus selalu dalam keadaan hangat dan nyaman.

Berikutnya yakni Ayam Poland sangat suka minum air. “Berapa banyak air yang disediakan di kandang, dipastikan tandas. Karena itu, setiap saat, harus dikontrol agar tidak pilek dan jatuh sakit yaitu dengan menjatahnya. Misalnya, setengah gelas di pagi hari, setengah gelas di siang hari, dan setengah gelas di sore hari,” katanya.

Sementara untuk memaksimalkan jumlah telur, Nunung bergantung sepenuhnya pada mesin penetas buatannya. “Hingga sejauh ini, proses penetasan dengan menggunakan mesin penetas berjalan cukup baik, tanpa ada kendala yang berarti,” ujarnya.

Telur-telur fertil dari induk Ayam Poland, ia menambahkan, diambil dari kandangnya, lalu dimasukkan ke dalam mesin penetas. Setelah telur menetas, kuthuk (Jawa: anakan ayam, red.) atau DOC (Day Old Chicken) dimasukkan ke tempat khusus yang sangat terjaga kehangatannya. Selanjutnya, siap jual pada umur 1 bulan lebih.

Sampai saat ini, permintaan Ayam Poland di peternakan milik Nunung terus mengalir. Permintaan tersebut datang tidak hanya dari Yogyakarta dan sekitarnya, melainkan juga dari beberapa kota di luar Jawa. Sementara yang diminati bukan cuma yang masih anakan, tapi juga yang sudah remaja dan indukannya.

“Untuk pengiriman ke luar Jawa, saya menggunakan jasa ekspedisi pesawat terbang. Karena, waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Selain itu, agar ayam aman dalam perjalanan, saya membaginya menjadi beberapa tipe sesuai dengan lamanya perjalanan. Ekspedisi tidak lebih dari 24 jam untuk ayam berumur 1–2 bulan, sedangkan untuk ekspedisi yang memakan waktu lebih panjang untuk ayam dengan usia minimal 2 tahun. Dalam pengiriman, sebaiknya di dalam kotak disertakan potongan tomat atau mentimun untuk menggantikan air minum dan pur sebagai makanannya,” paparnya.

Dalam pemasarannya, Nunung menggunakan jaringan offline maupun online. Ia juga menjalin interaksi dengan pelanggan baik para peternak maupun penghobi ayam hias di berbagai daerah, melalui www.jualayamhias.com. Di akhir obrolan, Nunung menyatakan optimismenya tentang prospek bisnis ayam hias pada umumnya, dan Ayam Poland khususnya, yang akan terus bertahan di masa depan.

 

Catatan:
  • Begitu induk bertelur, telur langsung dimasukkan ke dalam mesin penetas. Sehingga, induk bisa bertelur lagi.
  • Umur 1–3 bulan anakan ayam ditempatkan di kotak khusus yang diberi cahaya atau bohlam, yang fungsinya sebagai penghangat.
  • Di atas umur 3 bulan baru dimasukkan ke kandang kotak.
  • Pemberian vitamin dan nutrisi penting untuk Ayam Poland, agar kondisi selalu terjaga dengan baik.
Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!