Ketika Sudah Menetapkan Komitmen, Jangan Mundur Lagi

Yunita Taniwangsa

(FresYo)

 

Ketika mengalami masalah, para pemula dalam dunia bisnis akan dihadapkan pada pilihan yaitu akan terus menjalankan bisnis yang sudah dibangun atau justru mundur. Hal itu, juga dialami Yunita dengan Fresyo-nya. Tapi, pada akhirnya, ketika memutuskan untuk melanjutkan, ia juga berkomitmen untuk tidak mundur lagi

 

e-preneur.co. Tidak semua orang suka atau bisa minum susu. Tapi, kadangkala, karena satu dan lain hal, kita harus mengonsumsi minuman yang menyehatkan ini. Seperti yang dialami Yunita Taniwangsa, yang hanya karena masalah usia, ia mesti minum susu.

Hingga, akhirnya, kelahiran Jakarta, 17 Juni 1958 ini merasa sudah sangat jenuh minum susu. Kemudian, ia berusaha mencari minuman lain yang berbasis susu. Tapi, tak satu pun yang cocok di lidahnya.

“Saya bukan orang yang suka yogurt. Pertama kali mengonsumi yogurt (sekitar tahun 1985 atau 1986) di Bandung, di sebuah tempat yang katanya memproduksi yogurt paling populer. Segala rasa saya coba, sampai dengan rasa leci yang katanya paling manis, namun saya tetap tidak suka,” kisah Yunita.

Suatu ketika di tahun 2010, ia melanjutkan, seorang teman kantor mengatakan bahwa yang bersangkutan membuat yogurt sendiri. Yunita pun langsung berpikir bahwa membuat yogurt itu gampang.

Lantas, Business Coach pada ActionCoach ini meminta bibitnya, lalu membuatnya sendiri. Ternyata memang jadi, meski hasilnya sangat asam.

“Namun, saya tetap belum happy, belum bisa menikmati. Saya pun terus melakukan riset dan belajar hingga mengikuti kursus membuat yogurt yang benar. Dari situ, saya belajar tentang berbagai yogurt, bagaimana yogurt yang jadi dan yogurt yang tidak jadi, kalau yogurt tidak jadi dan agar tidak dibuang bagaimana mengatasinya, termasuk mendapat informasi bahwa bibit yogurt itu dijual dengan berbagai jenis. Akhirnya, saya mampu menghasilkan yogurt yang membuat saya bangga dan suka sekali,” lanjutnya.

Selanjutnya, ia bertemu dengan kordinator sebuah komunitas yang kemudian mendorongnya untuk menseriusi hasil karyanya itu. Tapi, sarjana teknik elektro dari Universitas Trisakti, Jakarta, itu masih ragu. Mengingat, di satu sisi bidang kerjanya di consulting, sedangkan di sisi lain ia bangga sekali dengan yogurtnya, di samping mendapati fakta bahwa ternyata banyak sekali orang yang ingin hidup sehat sehingga membutuhkan produk itu. “Akhirnya, saya memutuskan untuk berbisnis di produk ini, walau belum full time,” ujarnya.

Ketika berada di posisi pemula dalam dunia bisnis, kita sudah harus memikirkan apakah akan long term atau asal jalan

Sebagai pemula dalam dunia bisnis, Yunita juga mengalami jatuh bangun, tapi lebih secara emosional. Dalam arti, dibingungkan oleh sikap mau melanjutkan atau tidak.

“Sebagai business coach, mindset saya berbeda jauh ketika menjalaninya sebagai hobi yang membanggakan dengan saya menjalaninya sebagai bisnis. Sebab, jika menjalaninya sebagai bisnis, maka kita harus memikirkan business plan, settle supplier, dan lain-lain. Dari situ, kita akan mengetahui berapa banyak yang akan diproduksi, berapa cash plan-nya, dan sebagainya,” ungkap Yunita, yang menanamkan modal sebesar Rp30 juta di bisnis ini.

Ketika pada akhirnya memutuskan menjadikannya bisnis, maka ia menetapkan komitmennya untuk tidak mundur lagi. Selanjutnya, ia membuat business plan, dilanjutkan dengan survey pasar, dan ketika sudah menemukannya, ia replace. Tapi, itu semua belum tentu akan membuat bisnis berjalan mulus, selalu ada entry barrier.

“Kesimpulan saya, berbisnis itu rumit. Dari A sampai Z harus kita pikirkan dan bisa jadi kondisi ini akan menjatuhkan mental kita lagi,” tambahnya.

Yunita menamai produk yang diluncurkannya pada Desember 2013 itu sebagai Fresh Yogurt atau FresYo. Sesuai dengan namanya, FresYo adalah yogurt yang fresh, baru dibuat, dan harus langsung diminum. Sebab, lifetime-nya sangat pendek yaitu tujuh hari dalam kulkas. Sementara jika berada di ruangan ber-AC, dapat bertahan 6–8 jam. Hal ini dilakukan Yunita agar bakteri di dalam yogurt bermanfaat secara optimal. Dan, itu hanya dapat terjadi jika semua bakteri masih hidup.

“Bila bakteri yang hidup tingga 60%, 40%, atau bahkan 20%, maka yogurt itu tidak fresh lagi. Ia hanya menjadi susu biasa dan cuma kalsium yang kita peroleh. Manfaat yogurt sebagai bakteri bagi pencernaan tidak kita dapatkan lagi,” ungkapnya.

Kelebihan FresYo tidak sampai di situ saja. Yunita mengembangkannya dengan, pertama, tanpa pewarna. Dalam arti, warna yang muncul berasal dari warna buah organik yang digunakan. Kedua, tanpa pengawet yang dibuktikan dengan daya tahannya yang sangat pendek. Ketiga, tanpa perasa, sehingga harum FresYo adalah harum susu segar.

FresYo memiliki rasa anggur, strawberry, raspberry, mangga, murbei, sirsak, jambu, kelapa, pisang, mocha, dan cokelat. Untuk ukurannya, FresYo dikemas menggunakan botol berukuran 200 ml, 500 ml, dan 1 lt. Produk yang masih berkutat di kawasan Jabodetabek ini dapat dibeli dengan order by phone.

“Karena saya masih bekerja, maka saya hanya berproduksi saat weekends yang saya bagi untuk memenuhi order dan untuk penjualan ritel. Dari penjualan retil, sekitar 60%–90%nya diserap pasar,” katanya.

Hal ini terjadi, ia menambahkan, karena pasar yogurt masih luas sekali. Sebab, ternyata, cuma sekitar 20% masyarakat Indonesia yang mengonsumsi susu. Jumlah ini, bisa berkurang lagi dengan adanya orang-orang yang alergi laktosa.

Di sisi lain, jika bisa masuk ke pasar yang tepat, maka akan memudahkan konsumen untuk membeli setelah mencobanya. Untuk itu, untuk menarik konsumen, begitu mereka lewat di stan FresYo, maka Yunita akan menawarkan icip-icip untuk educate lidah mereka. “Kiat ini manjur banget. Karena, biasanya mereka akan kembali lagi,” lanjutnya.

Rencana ke depan? “Saya akan mengembangkan produk ini. Jika yang lalu menggunakan susu sapi murni, maka yang akan datang menggunakan susu kedelai putih dan susu kedelai hitam di mana kedelainya merupakan kedelai organik. Sementara untuk rencana jangka panjang, saya akan menggunakan almond. Sebab, kacang ini sangat rendah kalori dan lemak,” pungkasnya.

 

Tips dari Yunita Taniwangsa
  1. Tanyakan pada diri Anda sendiri apakah Anda akan menjadi pebisnis yang just do it atau pebisnis yang plan for lifetime business.
  2. Jika sudah mendapat jawabannya, maka langkah-langkah yang akan dilakukan berbeda satu sama lain. Jika untuk lifetime business, maka harus melakukan riset pasar (targetnya siapa, produknya apa, berapa besar opportunity bisnis itu, siapa kompetitornya, dan sebagainya), lalu membuat business plan. Business plan sangat tergantung pada berapa investasinya (diperoleh dari uang pribadi/bank/ber-partner), marketing plan, recruitment plan, dan sebagainya.
  3. Ada baiknya mencari partner. Sehingga, saat jatuh bangun dalam membangun usaha ada teman yang saling ngomporin/saling menguatkan. Tapi, carilah partner yang tepat atau mempunyai visi dan misi yang sama.
Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!