Tidak Menjanjikan Apa pun

Sop Durian Durio

 

Guru adalah pengalaman terbaik. Dengan berlandaskan hal itu, Marwan yang pada awalnya menggebu-gebu dalam berbisnis lalu kandas, dalam bisnis selanjutnya yaitu Sop Durian Durio, membuat banyak perhitungan dan pertimbangan. Sehingga, bisa berkembang bersama dengan mitra-mitra usahanya

 

Berhasil tidaknya mitra mencapai penjualan sangat tergantung pada effort mereka. Sop Durian Durio hanya terbuka untuk konsultasi dan terus-menerus memberikan support gratis

 

e-preneur.co. Layaknya anak muda yang notabene selalu penuh semangat tapi tidak penuh perhitungan, demikian pula dengan Muhammad Marwan Hadid ketika membangun bisnis. Kelahiran Jakarta, 8 Januari 1993 ini, dengan menggebu-gebu mendirikan kafe yang menawarkan mie ayam, siomay, sop durian, dan lain-lain.

Namun, lantaran ingin sempurna, sementara faktor-faktor pendukungnya belum siap, yang terjadi justru pembengkakan modal yang berujung pada kebangkrutan. Imbasnya, Marwan terpaksa “menyuntik mati” bisnis yang dijalaninya selama 2,5 bulan itu.

Tapi, ia tidak kapok. Ia memutuskan untuk tetap berbisnis dengan fokus hanya di sop durian. Dan, selanjutnya, lulusan Sekolah Menengah Atas ini pun mangkal di Jalan Bangka, Jakarta Selatan.

“Untuk sop durian itu, saya menggunakan durian apa saja yang ada. Lalu, ada konsumen yang memuji jika duriannya enak, tapi ada pula yang mengatakan kalau duriannya ‘adem’. Dari sini, saya menarik kesimpulan kalau saya tidak mencoba terlebih dulu durian-durian itu dan menerimanya begitu saja dari pemasok, maka rasanya tidak terstandar,” kisah Marwan.

Kemudian, dalam kondisi bangkrut itu, ia memutuskan ber-partner dengan dua temannya. Mereka iuran modal (Rp5 juta/orang), yang digunakan untuk membeli bahan baku dan peralatan. “Karena itulah, kami berjualan dengan gerobak,” tuturnya.

Mereka juga berbagi tugas. Seperti Marwan, yang menangani bagian marketing dan promosi, lantas M. Ihsanur yang menangani bagian produksi dan keuangan, sementara M. Arwan Fathimy sebagai investor sekaligus pemilik rumah yang kemudian dijadikan kantor pusat Sop Durio, demikian nama usaha yang di-launching Mei 2013 itu.

“Selanjutnya, kami berupaya bagaimana caranya agar rasa durian ini terstandar. Dari hasil kesepakatan bersama, terutama dengan Ihsanur yang konsultan pangan dan gizi, kami pun menggunakan Durian Medan,” lanjutnya.

Durian Medan digunakan, selain untuk menjaga citarasa Sop Durio, juga karena durian ini dapat di-supply sepanjang tahun. “Keberlangsungan pasokan durian inilah yang kami janjikan kepada mitra. Sehingga, mitra tidak perlu takut kehabisan stok,” ungkapnya.

Kemudian, durian tersebut dipisahkan dari bijinya, dikemas dalam sachet. Sehingga, mitra mudah dalam menyajikannya, dalam arti, tidak perlu harus nyendok dan tidak akan ada sisa stok. Kalau pun ada, dapat ditemui di dalam freezer.

Singkat kata, Sop Durio adalah sop (buah) Durian Medan yang dicampur dengan es batu, air gula, susu kental manis, keju parut, dan roti tawar pandan. Untuk mempercantik, Sop Durio ditambahi topping. Di sini, ada 10 jenis topping, di antaranya stroberi, oreo, choco chip, brownies, dan jelly. Topping-topping inilah, yang nantinya dapat dikreasikan oleh mitra.

“Mitra-mitra kami bebas berkreasi. Misalnya, mitra kami yang di Indramayu, Jawa Barat, menggunakan topping choco crunch, kriuk, dan lain-lain. Sementara mitra kami di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, menggunakan topping almond,” tambahnya.

Sop Durio menyediakan dua jenis sop durian yaitu Super Durio dan Durio. Jika konsumen ingin menambah toppingnya, maka harus menambah sejumlah rupiah tertentu untuk setiap topping-nya.

“Kehadiran Durio, dilatarbelakangi oleh fakta bahwa ada orang yang suka dan tidak suka dengan durian. Agar yang tidak suka dengan durian tetap bisa mengonsumsi Sop Durio, maka digunakan durian lain yang soft baik rasa maupun baunya. Dan, ternyata, konsumen menanggapinya dengan bagus,” jelasnya.

Imbasnya, meski baru seumur jagung, muncul permintan untuk menjadi mitranya. “Sebenarnya, kami masih takut dan ragu memitrakannya hingga saya harus konsultasi ke guru bisnis saya. Menurut beliau, tidak apa-apa bila dimitrakan. Karena, akan semakin banyak yang mendoakan usaha saya ini. Mengingat, kami berjuang bersama-sama. Jika saya hanya membuka outlet sendiri sebanyak apa pun, maka yang mendoakan hanya teman-teman dan para karyawan saya. Dengan dimitrakan, juga akan ada perkembangan usaha, penambahan penghasilan, dan sebagainya. Dengan demikian, semakin panjang rantai keberkahannya,” paparnya.

Sop Durio menawarkan dua jenis kemitraan yaitu pertama, kemitraan senilai mulai dari Rp6 juta atau yang dinamai kemitraan konsep booth portable. Di sini, mitra mendapat booth, peralatan lengkap, bahan baku 100 porsi, marketing tools, dan administrasi.

Kedua, kemitraan senilai sekitar Rp12,5 juta atau yang disebut paket etalase. Dalam kemitraan ini, di samping mendapat seperti yang tersebut di atas, mitra juga mendapat freezer, etalase, replika durian, dan cup chiller. Sementara jika bahan baku habis, mitra bisa membeli lagi dengan minimal pembelian 200 porsi dengan harga Rp4.500,-/porsi untuk Durio dan Rp5.500,-/porsi untuk Super Durio.

Dengan perhitungan matang, Sop Durio yang berkantor pusat di Jalan Angin Mamiri Raya, Sukmajaya, Depok, ini menjanjikan balik modal tiga bulan untuk nilai kemitraan Rp6 juta dan enam bulan untuk nilai kemitraan Rp12,5 juta. Syaratnya, mampu menjual 50 porsi/hari.

“Tapi, penjualan 50 porsi/hari belum tentu tercapai pada bulan pertama. Bisa jadi pada bulan kedua atau ketiga. Namun, pada dasarnya, kami tidak menjanjikan apa pun. Kami hanya terbuka untuk konsultasi dan terus-menerus memberikan support, gratis. Jadi, berhasil tidaknya mereka mencapai penjualan sangat tergantung pada effort mereka,” tegasnya.

Dalam perkembangannya, Sop Durio yang kemudian berganti nama menjadi Sop Durian Durio ini memiliki 79 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia di mana 60%-nya aktif. Sedangkan sisanya, diistilahkan Marwan, sebagai vakum sementara.

Sebab, kemitraan ini berlangsung seumur hidup. Lebih tepatnya, kemitraan akan terus berjalan sepanjang mitra masih membeli bahan baku pada Sop Durian Durio. Tapi, jika mitra membeli durian ke tempat lain, dengan sendirinya perjanjian batal.

“Namun, mulai tahun 2014, kami lebih fokus ‘mengepung’ Jabodetabek, dengan target 200 mitra. Karena, berdasarkan pengalaman dan evaluasi, mitra-mitra yang berada di luar Jawa, rentan sekali vakum. Mengingat, selain susah mengontrolnya, mitra juga tidak sabaran,” pungkas Marwan, yang mengaku jika booth pribadi atas nama Sop Durio rata-rata membukukan omset Rp800 ribu–Rp1 juta per hari.

Kini, dengan nama Sop Durian Durio yang memiliki menu, di antaranya Sop Durian Original, Sop Durian Afrika, dan Sop Durian Brwonies ini telah berhasil dibukukan 150 outlet mitra yang menyebar ke seluruh Indonesia.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!