Kemitraan yang Low Risk & Low Waste

Lanang Barber Shop

 

Diperkirakan lebih dari 6 juta penduduk Jabodetabek adalah para pria. Jika 2%-nya atau sekitar 120 ribu orang di antaranya pelanggan barber shop, maka mereka merupakan market share yang sangat besar bagi bisnis potong rambut pria ini, tanpa perlu berebut dengan salon. Untuk itulah, Lanang Barber Shop memfasilitasinya dengan menawarkan kemitraan yang low risk dan low waste

 

Lanang Barber Shop menerapkan sistem yang simple, agar baik franchisor maupun franchisee, bahkan stylish-nya, merasa happy

 

e-preneur.co. Berbeda dengan perempuan yang pada umumnya suka menghabiskan waktu di salon untuk melakukan perawatan kecantikan from head to toe, sebagian besar pria justru merasa tidak nyaman berleha-leha di salon. Apalagi, bagi mereka yang cuma ingin potong rambut.

Sebenarnya, mereka dapat mendatangi tukang pangkas rambut atau yang dikenal dengan istilah keren barber shop. Tapi, barber shop biasanya kurang menjaga kebersihannya. Sehingga, adakalanya menimbulkan ketidaknyamanan berikutnya.

Kondisi dilematis itu, juga dialami Jakub Nurtjahjono. Hingga, akhirnya, ia berinisiatif membuka barber shop sendiri. Sebelum itu, selama dua minggu, ia mengamat-amati para mahasiswa yang kuliah di Universitas Bina Nusantara, Kemanggisan, Jakarta Barat. “Ternyata, model rambut mereka tidak jauh berbeda dengan model rambut saya,” kisah Jakub.

Selanjutnya, ia memberanikan diri menyewa tempat dan membuka barber shop yang dinamainya Lanang Barber Shop (baca: Lanang, red.), pada Desember 2007 di Meruya, Jakarta Barat. “Saya hanya berpikir bahwa usaha ini akan menjadi kebutuhan banyak orang,” imbuhnya.

Tidak ingin Lanang seperti barber shop pada umumnya, sarjana teknik kimia dari Institut Tekonologi Indonesia, Tangerang, ini sangat menekankan, pertama, masalah kebersihan. Kedua, simple. Ketiga, prosesnya cepat.

“Biasanya, setelah dipotong, rambut dibersihkan dengan dikeramasi. Tapi, di Lanang, rambut dibersihkan dengan disedot menggunakan vacuum cleaner hingga tidak ada lagi sisa-sisa potongan rambut,” jelasnya.

Dengan kelebihan-kelebihan itu, usaha yang dibangun dengan modal awal Rp60 juta−Rp70 juta itu tak pelak diminati banyak investor. Terbukti, empat bulan setelah dibuka untuk pertama kalinya, Lanang membuka cabang di Jelambar, yang disusul dengan tiga cabang lagi yang semuanya tersebar di Jakarta Barat. Dan, setelah membuka cabang kelima (sekitar tahun 2010), Lanang pun menawarkan kemitraan.

“Saya ingin Lanang terus berkembang. Tapi, hal itu tidak mungkin terjadi kalau modalnya hanya dari saya. Di sisi lain, bisnis berkonsep kemitraan lebih cepat berkembang,” ujarnya.

Pada permulaannya, Lanang menawarkan kemitraan dengan nilai investasi sebesar Rp60 juta−Rp70 juta. Nilai investasi ini bisa berkurang menjadi Rp40 juta, jika investor sudah memiliki tempat sendiri atau tidak perlu menyewa.

“Jika saya membuka Lanang dengan nilai investasi Rp40 juta, misalnya, maka Rp5 juta dari investasi tersebut digunakan untuk biaya set up bisnis, serta pengadaan dan pelatihan tenaga kerja yang cukup dibayarkan sekali saja. Sedangkan yang Rp35 juta, untuk biaya renovasi dan lain-lain,” jelasnya.

Royalty fee sebesar 10% dari omset kotor per bulan, ia melanjutkan, baru ditarik pada bulan keempat. Sebab, pada tiga bulan pertama beroperasi, bisnis ini masih merangkak. Sementara Break Even Point, direncanakan akan terjadi pada bulan ke 12−14 dengan pertimbangan setiap outlet mampu “memotong” rata-rata 670 kepala/bulan, dengan ongkos potong Rp15 ribu/kepala.

Sekadar informasi, selain tarif Rp15 ribu/kepala, Lanang juga mempunyai tarif potong rambut Rp20 ribu/kepala dan Rp25 ribu/kepala. Perbedaan tarif ini, mengacu pada di mana Lanang berada. Contoh, untuk Lanang cabang Meruya dibebankan tarif Rp15 ribu/kepala, tapi untuk Lanang cabang Plasa Cinere sebesar Rp25 ribu. Dan, perlu diketahui pula, semua angka yang tercantum bisa berubah sewaktu-waktu, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Keuntungan menjadi investor Lanang yaitu pertama, risikonya kecil (low risk). Dalam arti, bila hari ini sepi, kemungkinan besar besok ramai. Selain itu, juga low waste atau tidak ada investasi yang terbuang, kecuali biaya sewa tempat dan itu pun kalau tempatnya masih menyewa.

Kedua, sistemnya simple. Karena, Lanang membuatnya agar kedua belah pihak merasa senang, termasuk stylish-nya. Ketiga, otopilot. Dalam arti, mitra harus mempercayakan seluruh usaha ini ke Lanang.

Dengan demikian, untuk maintenance setiap harinya, dilakukan oleh manajemen Lanang, di samping para stylish. Sehingga, jika mitra tidak memiliki waktu untuk menjalankan atau mengawasi usaha ini, tidak masalah. “Nantinya, kami tinggal memberi laporan perkembangan usahanya kepada investor,” ucap kelahiran Kudus, 7 Januari 1968 ini.

Keempat, mitra boleh memberi masukan-masukan—karena setiap tempat kondisinya berbeda—asalkan tidak keluar dari koridor style-nya Lanang. Sementara untuk outlet-nya, Lanang mensyaratkan lokasi yang padat penduduk dan seluas 4 m² x 4 m².

Prospeknya? “Sangat prospektif. Mengingat, ini sebuah peluang bisnis yang belum disentuh secara profesional,” ujarnya. Selain itu, berdasarkan data, jumlah penduduk Jabodetabek mencapai lebih dari 16 juta jiwa. Jika 40% (lebih dari 6 juta orang) di antaranya laki-laki, lalu 2% dari sekitar 6 juta orang itu (sekitar 120 ribu orang) merupakan konsumen Lanang setiap bulannya, maka betapa besarnya market share Lanang. Dan, kemungkinan tidak akan tertangani semuanya oleh Lanang.

“Harus berapa ratus Lanang yang dibangun, tanpa perlu head to head dengan salon, bukan?” lanjutnya, mengakhiri pembicaraan. Saat ini, cabang-cabang Lanang Barber Shop dapat dijumpai di beberapa tempat di seluruh Jakarta, Tangerang, dan Bandung.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!