Menggunakan Mesin untuk Memenuhi Semua Permintaan

Aneka Jenang Ketan Muchtarom

 

Ketika sebuah produk mampu memenuhi selera konsumen, maka permintaan akan terus berdatangan. Untuk memenuhi semua permintaan, jika hanya mengandalkan tenaga kerja manusia bisa dipastikan hasilnya tidak akan maksimal. Aneka Jenang Ketan Muchtarom pun berinisiatif menggunakan mesin, sekaligus untuk menghindarkan produk dari kontaminasi

 

e-preneur.co. Ketika Gua Jatijajar, Kebumen, dibuka untuk para wisatawan, disadari kemudian jika tidak tersedia makanan lokal atau khas daerah tersebut. Imbasnya, harus “mengambil” dari Yogyakarta.

Padahal, sebenarnya, Kebumen mempunyai makanan yang khas dan layak untuk dipasarkan ke seluruh Indonesia yakni Jenang Ketan. Akhirnya, seorang Ibu berinisiatif memunculkan makanan ini ke permukaan pada sekitar tahun 1980an.

Jenang Ketan berbeda dengan dodol. Karena, memang dibuat dari bahan baku yang berbeda. Jenang Ketan terbuat dari gula merah, tepung beras ketan, santan kelapa, berbagai perasa, dan sebagainya.

“Sebenarnya, dulu, Jenang Ketan hanya mempunyai dua rasa yaitu jahe dan gula merah (original). Sesuai perkembangan zaman, kami memunculkan aneka rasa seperti wijen, duren, kacang, vanili, dan sebagainya,” tutur Muchtarom, yang meneruskan usaha sang Ibu sejak tahun 1992.

Muchtarom yang membangun usaha di kediamannya yang terletak di Desa Mangunweni, Kecamatan Ayah, Kebumen, ini dalam memproduksi Jenang Ketan membaginya menjadi empat periode yakni periode sedang, sepi, sepi sekali, dan ramai sekali. “Kalau pas ramai sekali, bisa mencapai 2 ton/hari. Tapi, total rata-rata sebanyak 3,5 kuintal/hari,” jelasnya.

Periode sepi, ia melanjutkan, biasanya terjadi jika sedang tidak ada hajatan. Sebab, Aneka Jenang Ketan Muchtarom, begitu nama produk ini, selain dibuat untuk camilan dan oleh-oleh, juga sebagai suguhan dalam berbagai hajatan. “Dalam hajatan, pembelian bisa mencapai 2‒3 kuintal/hajatan,” ujarnya.

Di samping menyediakan untuk hajatan, Muchtarom juga menyediakan untuk pembelian eceran. Di sini, tersedia Aneka Jenang Ketan yang dikemas utuh dengan bobot 1 kg dan hanya satu rasa, yang dijual dengan harga Rp30 ribu. Atau, yang berbobot ½ kg dengan harga Rp20 ribu. Sementara untuk rasa kombinasi berbobot 1 kg, dijual dengan harga Rp27 ribu. Kecuali, untuk rasa duren dan blueberry yang dihargai Rp30 ribu.

Dengan menggunakan mesin, maka Jenang Ketan tidak bersentuhan langsung dengan kulit tangan pembuatnya dan tenaganya stabil

Selain yang dikemas utuh, juga tersedia yang dikemas menjadi 40 pieces, berbobot 1 kg, dan rasa kombinasi yang dijual dengan harga Rp17 ribu. Atau, ½ kg dan rasa kombinasi yang dikemas menjadi 20 pieces yang dihargai Rp15 ribu. Muchtarom juga menerima pesanan dengan rasa yang berbeda dari yang sudah ada. Misalnya, rasa susu. Untuk itu, ada tambahan biaya sebesar Rp1.000,- hingga Rp2.000,-.

Dibandingkan “merek-merek” lain, ternyata Aneka Jenang Ketan Muchtarom lebih diminati konsumen. Sebab, dari sisi keawetan, Jenang Ketan yang tidak menggunakan bahan pengawet tambahan ini mampu bertahan 5‒6 hari. Bahkan, bila dimasukkan ke dalam kulkas, bisa bertahan hingga enam bulan..

“Sebagai binaan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah), kami diberi panduan oleh dinas kesehatan, BPOM‒MUI, dan instansi-instansi terkait tentang penggunaan tambahan bahan pengawet, bahan perasa, dan bahan pewarna. Mereka menganjurkan untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan yang dapat menimbulkan efek samping bagi kesehatan tersebut. Karena itu, jika menggunakannya, kami harus mencantumkan nama bahan pengawetnya dan juga takarannya,” jelasnya.

Berbeda, ia melanjutkan, dengan produk-produk sejenis yang tidak memperoleh pengawasan dari dinas di mana hanya mampu bertahan tiga hari. “Seperti Jenang Ketan yang dibuat secara sangat tradisional, biasanya akan cepat mengeras atau bulukan,” tambahnya.

Keunggulan berikutnya terletak pada rasanya. Menurut Muchtarom, lain orang yang membuatnya lain rasanya, demikian pula lain cara membuatnya. Meski, berasal dari bahan baku yang sama.

Berkaitan dengan cara membuatnya, sekarang, Aneka Jenang Ketan Muchtarom sudah menggunakan mesin bertenaga listrik. “Pada mulanya, terjadi peningkatan permintaan. Lalu, kami berpikir bagaimana cara bisa memenuhi permintaan tersebut. Akhirnya, tercetus ide untuk menggunakan mesin,” kisahnya.

Dengan menggunakan mesin, maka Jenang Ketan tidak bersentuhan langsung dengan kulit tangan pembuatnya. Karena, menggunakan sarung tangan. Di sisi lain, berbeda dengan tenaga manusia yang semakin lama semakin berkurang jika digunakan terus-menenus, tenaga mesin bersifat stabil.

Dalam pemasarannya, Aneka Jenang Ketan Muchtarom merambah tiga kabupaten yakni Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan Kebumen. Menurut Muchatarom, sebenarnya Aneka Jenang Ketan Muchtarom bisa merambah ke banyak tempat lagi. Sayang, terkendala oleh biaya transportasi yang nantinya berimbas pada naiknya harga produk.

Contoh, Aneka Jenang Ketan Muchtarom pernah merambah Ciamis dengan harga jual Rp40 ribu. Padahal, harga paling mahal Jenang Ketan ini Rp30 ribu. “Imbasnya, Jenang Ketan kami dianggap mahal. Sementara, di tempat ini ada produk sejenis yang murah. Akhirntya, Jenang Ketan kami tidak laku,” kisahnya.

Namun, ia menambahkan, tidak menutup kemungkinan suatu saat Aneka Jenang Ketan Muchtarom akan berproduksi dan berjualan di kabupaten atau kota lain, jika permintaan semakin besar. Sehingga, biaya transportasi dan produksi menjadi lebih ringan.

Muchtarom juga tidak memasukkan Jenang Ketannya kesupermarket. Karena, harga jualnya menjadi sangat mahal (Rp50 ribu). Imbasnya, justru tidak laku. “Aneka Jenang Ketan Muchtarom lebih laku di pasar-pasar tradisional atau tempat-tempat wisata. Apalagi, dari awal Jenang Ketan ini memang dibuat untuk para wisatawan,” ujarnya.

Wisatawan, ia melanjutkan, biasanya cuma bertanya tentang izin PIRT (Produk Industri Rumah tangga). Jika sudah ada, biasanya mereka mau membeli. Mereka lebih mementingkan kualitas produk ketimbang harga.

Para wisatawan yang biasanya berdatangan saat libur anak sekolah dan hari raya itu, membuat Aneka Jenang Ketan Muchtarom mengalami “panen”. Penjualan mengalami kenaikan sampai 100%‒200%.

“Imbasnya, kami pontang-panting. Kalau tidak dibantu mesin, kami tidak mampu berproduksi sangat banyak,” kata Muchtarom, yang setiap bulan membukukan omset kotor rata-rata Rp15 juta.

Ke depannya, Muchtarom ingin mengembangkan Jenang Ketannya hingga ke mancanegara. Sebab, sebagai oleh-oleh yang dibawa oleh para Tenaga Kerja Indonesia, Aneka Jenang Ketan Muchtarom sudah sampai ke Arab dan Taiwan.

Seandainya belum memungkinkan, cukuplah bisa memenuhi permintaan dari seluruh Pulau Jawa dan selanjutnya ke seluruh Indonesia. “Kami yakin, sebagai makanan tradisional, Jenang Ketan akan mampu bertahan di tahun-tahun mendatang. Dilihat dari tahun 1992―ketika saya melanjutkan usaha Almarhumah Ibu―hingga sekarang, terlihat perkembangan pesat baik dari jumlah permintaan maupun pemasukan. Apalagi, bila nanti diteruskan anak-anak saya yang sudah berpendidikan dan mempunyai pengalaman,” pungkasnya.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!