Menjala Kalangan Atas dengan Menjaga Kualitas

Tahu Yong Cen

 

Melalui proses produksi yang semi moderen, Tahu Yong Cen berani membidik segmen menengah ke atas. Bahkan, dengan strategi yang sangat jarang dijalankan pelaku usaha lain, tahu buatan Edi ini sudah merambahi berbagai supermarket di Jakarta dan Tangerang

 

e-preneur.co. Dalam kacamata awam, tahu acapkali dianggap sebagai lauk yang kurang bergengsi. Pasalnya, tahu lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat dari kalangan bawah. Padahal, faktanya, makanan yang terbuat dari kedelai ini, memiliki beberapa tingkatan mutu.

Grade kualitas produk ini, dinilai dari proses produksi. Dalam arti, pertama, semakin moderen peralatan yang digunakan, maka kualitas tahu menjadi lebih terjamin. Maksudnya, lebih enak, sehat, padat, dan bertekstur halus. Seperti, tahu bermerek Ori Tofu/Yong Cen yang diproduksi oleh UD Yong Cen.

Ya, home industry yang berlokasi di Sunter Jaya, Jakarta Utara, ini menggunakan peralatan yang terbuat dari stainless steel. Di samping itu, juga dibantu oleh puluhan karyawan. Sehingga, proses pembuatan tahu di sini cenderung dikategorikan semi moderen.

Meski, sebenarnya, yang ingin lebih ditonjolkan oleh sang produsen justru higienitasnya. Karena itu, peralatannya selalu dicuci bersih setelah digunakan.

Kedua, proses produksi itu sendiri. UD Yong Cen melakukan dengan cara yang paling sederhana yaitu diambil langsung dari sari kedelai. Lantas, diproses dengan pengental (kalsium sulfat) plus garam.

“Memang, agak sedikit berbeda dengan produksi tahu pada umumnya. Imbasnya, pekerjaan yang harus dijalankan lebih banyak dan pada akhirnya membuat biaya produksi lebih besar. Sehingga, harga jualnya pun lebih tinggi ketimbang tahu-tahu pada umumnya,” ujar Edi Susanto, produsen Ori Tofu/Yong Cen.

UD Yong Cen menghasilkan dua jenis tahu yaitu Tahu Cina dan Tahu Pong. Berkaitan dengan harganya, tahu-tahu tersebut hanya dipasarkan ke pasar tradisional middle up di kawasan Puri Indah, Muara Karang, Sunter, dan Kelapa Gading. Selain itu, juga ke pasar moderen (supermarket) middle up, seperti Sogo, Kem Chicks, Total Buah, dan Hypermart (Puri Indah dan Lippo Karawaci).

Supaya saat diproduksi barang itu hasilnya bagus, ketika dikirimkan ke pasar dan sampai ke pasar barang itu masih bagus, dan kala sampai ke tangan konsumen barang itu masih tetap bagus

“Sebelum ‘melempar’ tahu-tahu kami ke pasar, kami terlebih dulu melakukan survey pasar. Ternyata, harga tahu kami lebih mahal dibandingkan tahu-tahu yang selama ini beredar di pasar. Sehingga, kami berpikir untuk memasarkan tahu kami ke pasar middle up, yang kami yakini konsumennya lebih mampu membeli,” ucap Edi, yang merogoh kocek sekitar Rp1 juta untuk membangun bisnis ini.

Di sisi lain, ia juga melihat tren ke depan di mana orang-orang lebih banyak berbelanja ke supermarket daripada traditional market atau lebih tepatnya mass market. Karena, suasananya lebih nyaman dan perbedaan harga barang tidak terlalu jauh lagi.

Selain itu, pasar middle up juga memiliki kesamaan pola pikir dengannya. Dalam arti, sama-sama mementingkan kualitas produk. Sebab, menurutnya, bila pola pikir sudah tidak matching, maka tidak akan ada perhargaan atas suatu barang terhadap barang yang lain.

“Padahal, yang kami inginkan dari pasar bukan cuma produk kami bisa laku, melainkan juga bisa memberi nilai tambah terhadap konsumen,” jelas sarjana ekonomi manajemen dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandung ini.

Dengan demikian, selling in tidak bermasalah. Tapi, sebaliknya dengan selling out. Sebab, produk ini tidak dapat hanya di-display, kemudian konsumen membelinya.

Apalagi, dalam tempo seminggu, barang sudah harus ditarik dari peredaran. Mengingat, kualitasnya sudah berkurang.

“Untuk mengatasi hal ini, pertama, kami melakukan edukasi dengan ‘menaruh’ sales promotion girl di setiap pasar kami. Kedua, kami tidak menggunakan sistem jual putus agar kami dapat selalu mengontrol kualitasnya,” tutur kelahiran Bengkalis ini.

Ketiga, cost of delivery tidak ditekan. “Sehingga, kami dapat memasok produk kami secara bertahap yaitu 3–4 kali seminggu untuk setiap supermarket. Padahal, produk kami ada di 20 supermarket di seluruh Jakarta dan Serpong,” lanjutnya.

Strategi yang sangat jarang dijalankan pengusaha lain ini, dimaksudkan supaya saat diproduksi barang itu hasilnya bagus, ketika dikirimkan ke pasar dan sampai ke pasar barang itu masih bagus, dan kala sampai ke tangan konsumen barang itu masih tetap bagus.

Hasilnya? “Setiap tahun, kami mengalami peningkatan penjualan 30%–40%. Sedangkan, jika dilihat dari jumlah pasokannya, semula 100 pack/hari dengan retur 20%, maka sekarang 500–600 pack per hari dengan retur 2%,” ungkap Edi, yang kala itu setiap hari memproduksi 6.000–7.000 potong tahu dari 200 kg kedelai.

Sementara, berkaitan dengan semakin terkikisnya pasar tradisional, Edi justru tidak ingin menambah jumlah pasarnya. Ia hanya akan me-maintain pasar-pasar yang sudah direngkuhnya, sambil merambah pasar lain yaitu restoran. Lebih tepatnya, rumah makan yang care dengan terhadap kualitas produk. Sedangkan untuk produknya, ia akan membuat produk turunannya.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!