Mengatasi Sepi Order dengan Jemput Bola dan Selalu Berkreasi

Kotak dan Boks Hantaran Pengantin

(Attila Seserahan)

 

Dalam bisnis dengan persaingan yang sangat ketat, seperti membuat kotak dan boks hantaran pengantin, pelaku bisnisnya harus mempunyai banyak strategi agar mampu bertahan dan bila perlu berkembang. Dan, Attila bukan hanya mempunyai satu atau dua strategi bisnis, melainkan sangat banyak. Sehingga, harap maklum, jika bisnisnya bisa bertahan lebih dari 30 tahun

 

e-preneur.info. Selama manusia masih hidup, maka selama itu pula perkawinan akan selalu ada. Tidak mengherankan, jika bisnis pembuatan kotak dan boks hantaran perkawinan, mempunyai prospek yang sangat bagus. Ya, di samping pasarnya sudah jelas, juga banyak orang (dari berbagai kalangan) membutuhkan produk semacam ini.

Apalagi, kotak dan boks hantaran perkawinan buatan Attila yang diberi label Attila Seserahan. Sebab, produk ini juga dapat beralih fungsi sebagai tempat apa pun, ketika fungsi utamanya sudah berakhir. “Jadi, dalam bisnis ini tidak dikenal musim panen atau musim paceklik,” kata Attila.

Dengan demikian, harap maklum bila persaingan di bisnis ini, boleh dikata, sangat ketat. “Saya tidak pernah memusingkan masalah persaingan. Karena, setiap konsumen mempunyai selera yang berbeda satu sama lain. Saya tidak bisa menggiring mereka agar selalu menyukai produk saya. Yang bisa saya lakukan hanya merengkuh jaringan seluas mungkin dengan melayani konsumen sebaik mungkin dan membuatkan barang sesuai dengan keinginan mereka, dengan sesedikit mungkin masukan,” ungkapnya, tentang kiat bertahan menghadapi persaingan.

Maksudnya, Attila membuat kotak dan boks hantaran perkawinan dengan konsep etnik di mana produk berukuran 25 cm x 25 cm hingga 50 cm x 60 cm ini, didesain dengan warna cokelat kusam, serta hiasan bunga kering dan aneka hiasan lain. Meski begitu, Attila yang membangun bisnis ini dengan modal awal Rp375 ribu, tidak menolak pesanan dengan warna-warna ngejreng.

Dia juga tidak pernah menolak pesanan dari pelaku bisnis sejenis, yang lalu menjual lagi produk tersebut dengan mengganti labelnya. Ia tidak pula mempermasalahkan, jika para pemesannya secara telak mengklaimnya sebagai produk buatan mereka. “Tidak masalah. Sebab, sudah beli putus,” tegasnya.

Sementara berbicara tentang upaya para pesaingnya dalam bertahan dalam bisnis ini dengan mengikuti tren atau selera pasar, menurut Attila, tidak ada salahnya itu dilakukan. Sebab, ia juga memproduksi boks dan kotak hantaran dalam aneka bentuk, ukuran, bahan, desain, warna, model, dan hiasan, selain tetap terus membuat model kotak dan boks hantaran yang sama selama konsumen masih menggemarinya. “Kendati, gonta-ganti model atau terlalu cepat ganti model kadangkala malah membingungkan konsumen,” ucapnya.

Attila yang menjalankan bisnis ini dari bawah banget juga selalu siap dengan berbagai strategi, bila nantinya menghadapi masalah. “Jam terbang (baca: pengalaman, red.) itu penting. Orang harus melewati satu demi satu jam terbang untuk membentuk mental. Mental yang kuat itu penting dalam bisnis apa pun, bukan cuma modal, keterampilan, dan jaringan,” kata perempuan, yang sudah berkutat dalam bisnis ini lebih dari 30 tahun.

Dia mengungkapkan strategi bisnisnya. Pertama, saat sedang sepi order, jangan terpengaruh tren. Tapi, galilah ide dan kreativitas. Sehingga, muncul semangat dan optimisme lagi.

Jangan terpengaruh tren, perbaiki pemasaran, serta terimalah semua pesanan dan berusaha keras memenuhi semua pesanan itu

Kedua, perbaiki pemasaran. Seperti, di akhir tahun, menghubungi jaringan dan menawarkan produk dengan harga produsen. “Pokoknya, jemput bola dan selalu berkreasi,” jelas Attila, yang membuka home industry-nya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, seluas sekitar 500 m².

Ketiga, ketika sedang ramai order, terimalah semua pesanan dan berusaha keras memenuhi semua pesanan itu. “Kalau perlu, kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki. Ingat! Kesempatan emas tidak pernah datang dua kali. Jika dibiarkan, ia akan berlalu begitu saja. Apalagi, persaingan di bidang ini ketat sekali,” tegas perempuan, yang mempekerjakan puluhan pegawai ini.

Misalnya, ia melanjutkan, saat lebaran. Itulah timing-nya. Jika momen ini tidak dimanfaatkan, lewatlah sudah peluang itu. Sebab, Januari–Februari merupakan bulan-bulan yang sepi order.

“Jadi, kalau pas banyak order, kami ambil kesempatan itu. Sehingga, ketika mengalami sepi order, kami masih tetap dapat menjalankan bisnis ini. Karena, omset yang kami raup kala ramai order dapat kami jadikan modal untuk terus ‘berjalan’ di tahun berikutnya,” pungkasnya.

Namun, dia menambahkan, jangan diartikan ini aji mumpung, melainkan hanya memanfaatkan peluang tanpa menanggalkan kualitas produksi. “Quality control tetap harus selalu dijaga untuk menghindari kekecewaan dan kemarahan pelanggan,” imbuh Attila, yang juga mempunyai beberapa gerai untuk men-display produk-produknya.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!