Peliharaan Saja Boleh, Bisnis Juga Bisa

Hamster

(Cupid Hamster Medan)

 

Selain dapat dijadikan peliharaan, hamster juga bisa menjadi ladang bisnis. Pemasukan yang dihasilkan sangat menggiurkan untuk kapasitas mahasiswa, apalagi untuk mereka yang profesional

 

Hanya butuh waktu dua bulan untuk balik modal

 

e-preneur.co. Berawal dari sepasang hamster pemberian pamannya, Muhammad Fadlan mulai menyukai binatang kecil berbulu ini. Lalu, dari sekadar suka, ia melengkapi koleksinya dengan membeli beberapa ekor hamster lagi, dengan niat menjadikan hewan ini sebagai hobi pembawa berkah. Berselang setahun, Fadlan yang kala itu masih berstatus mahasiswa semester VIII Sekolah Tinggi Teknik Harapan, Medan, sudah mampu membuka usaha jual beli hamster.

“Paman saya mempunyai hamster dan dia memberi saya sepasang. Saya mencoba memelihara dan akhirnya menyukai. Kemudian, saya membeli hamster jenis lain,” tuturnya.

Di tempat pengembangbiakkan hamsternya yang terletak di Jalan Karya Wisata Ujung, Komplek Tenera, Medan, ia menempatkan hamster-hamsternya dalam kotak tembus pandang. Ia menyusunnya dengan rapi dan memisahkan mereka sesuai dengan jenisnya.

Fadlan memulai usahanya dengan modal Rp2,5 juta yang digunakan untuk membeli 15 ekor hamster, perlengkapan, dan pakannya. Setelah itu, dengan pengetahuan yang kian bertambah, ia mulai mengembangbiakkan ke-15 hamster itu hingga menjadi jadi 30 ekor.

Hal ini, membuat kelahiran Medan, 11 Desember 1989 ini mulai penasaran dengan masalah genetik hamster. Lantas, belajarlah ia secara otodidak dengan fokus perpaduan warna bayi hamster saat indukan dikawinkan. Fadlan juga belajar tentang hamster dari dokumen di facebook dan Komunitas All About Hamster Indonesia.

Selanjutnya, ia membuat Komunitas Medan Hamster Lovers. Dan, melihat geliat pecinta hamster, ia memutuskan membuat usaha dengan nama Cupid Hamster Medan.

Fadlan mulai memasarkan hamsternya by online mulai dari facebook-nya dengan akun Fadlan Veadl Graft, kaskus, hingga Toko Bagus (sebuah toko online, red.) dengan nama Cupid Hamster. “Bisa dibilang 90% konsumen merupakan teman-teman komunitas saya dan rata-rata masih muda,” kisahnya.

Di sisi lain, saking sayangnya Fadlan dengan binatang pengerat ini, ia ingin tetap menjaga kualitas makhluk omnivora ini dengan tidak sembarang menjualnya. Ia sangat selektif dengan calon pembeli dan memastikan konsumen bisa menjaga dengan baik hamsternya. “Untuk menjaga populasi hamster, saya sangat jeli dengan konsumen,” tegasnya.

Hal itu, dilakukannya bukan tanpa alasan. Ia ingin menjaga reputasi Indonesia yang sudah masuk daftar hitam soal hamster, dalam beberapa tahun terakhir ini.

“Perkembangan hamster di Indonesia memang pesat. Tapi, Indonesia masuk blacklist. Karena, hamster tidak dijaga dari sisi perawatan dan secara genetik sangat berserakan. Misalnya, ada satu jenis yang dilarang digabung eh ini malah dikawinkan,” jelasnya.

 

Fadlan mengembangkan usahanya dengan menjual perlengkapan hamster mulai dari pakan hingga kandang yang dibuatnya sendiri, dan asesorisnya (botol minuman dan pasir mandi). “Awalnya, saya tidak kepikiran untuk menjadikan usaha hamster ini komplit sampai ke perlengkapannya. Tapi, setelah merasakan uangnya, saya melihat peluang dan respon pasar sangat bagus,” lanjutnya.

Dalam sebulan, rata-rata 20 ekor hamster terjual. Bahkan, kalau sedang banyak pesanan, bisa mencapai 50 pasang. Untuk itu, paling sedikit, Fadlan bisa mendapatkan omset Rp3 juta–Rp4 juta. Di samping itu, dengan sering mengikuti pameran dari kampus ke kampus, ia bisa memperoleh setidaknya Rp1 juta/hari.

Imbasnya, Fadlan hanya membutuhkan waktu dua bulan untuk balik modal, terhitung dari awal membangun usaha ini. Juga, tidak banyak biaya operasional yang harus dikeluarkan, selain untuk pakan hamster. Lantaran, ia mengerjakannya sendiri dan memasarkannya via online. “Meski by online, kadangkala ada yang datang langsung ke sini,” ujarnya.

Untuk pengiriman ke luar daerah, Aceh misalnya, Fadlan memanfaatkan jasa bus dan supirnya. Untuk itu, ia berkordinasi dengan supir bus, agar menjaga hamsternya. Contoh, jika si hamster lemas, maka supir bus diminta memberinya madu. Sementara untuk konsumen, dibebani ongkos kirim Rp50 ribu.

Fadlan mengaku, jika tidak memiliki kendala dalam memelihara hamsternya. “Karena disenangi, jadi seperti tidak ada kendala. Cuma membersihkan, serta memberi makan dan minum,” ucapnya.

Dalam menjaga kebersihan, ia menggunakan pasir penghilang aroma. Sehingga, air kencingnya tidak tercium ke seluruh ruangan. Hal ini pula, yang membuat ruangan di area “peternakannya” ramah aroma.

Kalau pun ada kendala, Fadlan melanjutkan, bersifat alamiah yaitu penyakit. Ada beberapa jenis penyakit yang menyerang hamster, seperti jantung, tumor, dan heat stroke. Untuk itulah, ia memberikan campuran Quaker Oat pada pakannya. Sedangkan untuk minumannya, hanya air putih matang.

“Hamster yang terkena heat stroke, harus dihindarkan dari matahari. Kalau lemas, langsung dimasukkan ke dalam kulkas, tapi pintu jangan ditutup atau langsung dikasih madu,” jelasnya.

Meski mengaku masih sekadar hobi atau belum fokus pada profit, tapi Fadlan tetap mempunyai target. Ke depannya, ia ingin menjadi eksportir hamster. Karena, ia ingin menaikkan citra Indonesia yang sudah terlanjur buruk di mata pecinta hamster dunia. “Target berikutnya baru profit,” pungkasnya.

 

 

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!