Kandungan Proteinnya Lebih Banyak daripada Daging Sapi

Kecipir

 

Sering dianggap sepele. Pemahaman petaninya masih sebatas sebagai sayuran. Itulah, kecipir. Padahal, tanaman ini mempunyai segudang manfaat. Bahkan, kandungan proteinnya 12 kali lipat lebih banyak daripada Daging Sapi

 

e-preneur.co. Anak-anak dalam masa pertumbuhan sekaligus juga pada masa belajar membutuhkan asupan gizi, khususnya protein nabati, yang cukup. Tapi, jika kondisi keuangan orang tua mereka tidak memungkinkan, mengingat harga daging sapi―sebagai salah satu sumber protein nabati―tidaklah murah, tentu saja kebutuhan itu tidak akan terpenuhi.

Kepala Sekolah (kepsek) dan para guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rengas, Ciputat Timur, Tangerang, tidak kekurangan akal. Dua kali dalam sebulan, mereka memberi makanan tambahan bergizi berupa bubur kacang hijau kepada para murid mereka, gratis.

Ternyata, kegiatan mulia para guru ini belum memberi hasil yang memuaskan. Hingga, suatu ketika, Adi Kharisma berkunjung, ngobrol, dan menawarkan SDN yang menampung anak-anak dari kalangan menengah ke bawah ini, untuk menanam kecipir.

Mengapa kecipir? “Berdasarkan beberapa literatur tentang kecipir yang saya baca, dikatakan bahwa olahan biji buah kecipir yang telah matang memiliki kandungan protein nabati 12 kali lipat lebih banyak daripada daging sapi,” jelas Adi Kharisma, pemilik bisnis tempat makan berbasis ketela ungu.

Tentu saja, hal ini sangat menarik perhatian para pahlawan tanpa tanda jasa di SDN ini. “Kami pun menanamnya tidak lama kemudian. Lantas, kami mencoba mengolah biji-biji buahnya yang sudah menua (berwarna hitam, red.) menjadi susu,” tutur Retno Budi.

Ternyata, anak-anak suka. “Imbasnya, kejuaraan demi kejuaraan diraih anak-anak didik kami,” lanjut Kepsek SDN Rengas itu, sambil menunjukkan dengan bangga deretan piala yang diraih para muridnya.

Sekadar informasi, bila menginginkan buah kecipir yang telah matang dibutuhkan waktu enam bulan, terhitung dari masa tanam hingga masa panen. Tapi, bila yang dibutuhkan buah kecipir muda, maka waktu panennya dapat kurang dari enam bulan.

Biji-biji buah kecipir yang telah menua ini, Retno melanjutkan, diolah dengan cara yang sangat sederhana yaitu direbus hingga gampang dilepaskan dari kulitnya, lalu ditiriskan, dihaluskan dengan cara diblender, disaring, dan jadilah susu. “Untuk menghindari rasa langu yang ada, saat diblender tambahkan gula, pandan, dan jahe,” jelas sarjana pendidikan dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta, ini.

Sementara hasil saringannya (ampas atau onggok, red.) dapat dicampur dengan telur, kemudian digoreng, dan jadilah lauk pauk yang lezat. Biji-biji buah kecipir yang telah matang ini, juga dapat diolah menjadi minuman semacam kopi atau tempe. Bahkan, juga dapat diolah menjadi minyak.

Buah kecipir yang sudah tua memiliki kandungan protein 31 kali lipat lebih banyak ketimbang yang masih muda

Untuk buah kecipir yang masih muda (berwarna hijua, red.), biasanya dijadikan sayur. Di negara kita, justru buah kecipir muda inilah yang dipanen.

“Padahal, kandungan protein pada buah yang sudah tua jauh lebih tinggi ketimbang yang masih muda, dengan perbandingan 31:1. Di sisi lain, anak-anak di sini lebih membutuhkan protein daripada sekadar sayur,” Adi, menambahkan.

Sedangkan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai lalap, dengan syarat pertumbuhan daunnya lebat, agar tidak mengurangi jumlah buahnya. Sari daunnya dapat digunakan untuk mengobati radang telinga pada anak.

Untuk umbi, bagian yang belum dimanfaatkan hingga kini, dapat dijadikan bahan makanan. Karena, juga mengandung protein tinggi.

Kelebihan tanaman liar yang bernama Latin psophocarpus tetragonolobus tersebut bukan cuma itu, melainkan juga karena ia mudah ditanam dalam jenis tanah apa pun dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Sehingga, dalam pembudidayaannya, tidak memerlukan tenaga kerja khusus dan tidak membutuhkan lahan khusus. Sebab, tanaman ini tumbuh menjalar.

“Pembelian benih dan pupuk pun hanya dilakukan pada awal pembudidayaan. Sebab, biji-biji dari buah yang sudah tua, setelah diseleksi, dapat digunakan sebagai benih,” ungkap Adi, yang mengambil bibit unggul kecipir ini di Bali atau Gunung Kidul (Yogyakarta). “Sayang, pemahaman petani kecipir masih sebatas sebagai sayuran,” pungkasnya.

 

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!