Layang-layang yang Ekspresif

Odilia Kites

 

Di mata orang awam, layang-layang hanyalah mainan anak-anak. Namun, bagi Vonny, bisa juga dijadikan sarana edukasi untuk mengekspresikan jiwa seni anak-anak. Untuk itu, agar tidak tergilas oleh perkembangan pesat dalam dunia mainan anak-anak, melalui Odilia Kites, ia mengemasnya dengan bahan baku berkualitas

 

e-preneur.co. Kuambil buluh sebatang…Kupotong sama panjang…Kuraut dan kuikat dengan benang…Kujadikan layang-layang…Bermain…Berlari…Bermain layang-layang. Masih ingatkah Anda dengan lagu ciptaan komponis AT Mahmud ini? Belum tentu ya.

Hal ini dapat terjadi, karena, kini sangat jarang kita menjumpai penjual layang-layang. Sedangkan mereka yang memainkannya, juga hanya dapat dijumpai di kota-kota kecil. Selain itu, banyak orang tua zaman sekarang yang beranggapan bahwa layang-layang adalah mainan murahan sekaligus berbahaya, yang biasanya dimainkan anak-anak kampung.

“Padahal, layang-layang itu sebenarnya permainan yang menyenangkan dan menantang. Permainan outdoor yang lebih bagus ketimbang cuma duduk di depan televisi, bermain playstation, atau memainkan handphone,” kata Vonny Odilia.

Di samping itu, kreator sekaligus owner Odilia Kites ini menambahkan, di dalam layang-layang juga terkandung unsur-unsur matematika, fisika, sport, seni, geografi, sejarah, dan lain-lain. Apalagi, jika orang tua mau menemani anak-anak mereka bermain. Sehingga, tercipta kedekatan emosional (teamwork).

Untuk mengubah image layang-layang sekaligus pola pikir para orang tua zaman sekarang itulah, Odilia Kites menyediakan berbagai jenis layang-layang yang boleh dibilang spesial. Dalam arti, menggunakan bahan baku yang berkualitas yaitu fiberglass untuk kerangkanya.

“Fiberglass lebih lentur dibandingkan bambu. Sehingga, kemungkinan patah lebih kecil. Selain itu, ‘serutannya’ sama. Berbeda dengan bambu, yang serutannya cenderung tidak sama. Imbasnya, layang-layang itu akan terbang dengan posisi miring,” ungkap sarjana D-3 Akademi Sekretaris Tarakanita, Jakarta, itu.

Di dalam layang-layang terkandung unsur-unsur matematika, fisika, sport, seni, geografi, sejarah, dan lain-lain

Kerangka ini dirancang knockdown. “Jadi, kalau akan dibawa ke mana-mana tinggal dilepaskan kerangkanya, lantas kainnya digulung, kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik yang menjadi wadahnya,” tambahnya.

Sebagai pengganti kertas, Vonny menggunakan kain ripstop yang lebih tipis dan ringan, serta lentur daripada kain parasut. Di samping itu, juga tidak mudah sobek seperti halnya kertas dan tidak basah meski diterpa hujan.

“Kotor pun tinggal disemprot dengan air, lalu dilap, langsung bersih lagi deh,” ujar kelahiran Jakarta itu. Kain ini juga dapat digambari dan diwarnai, dengan menggunakan cat waterproof.

Pada awalnya, layang-layang buatan Vonny hanya putih polos. “Terserah nantinya mau digambari apa sama pembeli,” imbuhnya.

Dengan berjalannya waktu, muncul permintaan agar layang-layang ini diberi gambar, tapi tidak diwarnai. Dengan demikian, anak-anak dapat membeli layang-layang baik yang masih polos, sudah digambari, atau sudah digambari tapi belum diwarnai.

Hal ini, dimaksudkan untuk memancing kreativitas mereka. Selanjutnya, memicu mereka untuk menerbangkannya (memamerkan). Sehingga, pada akhirnya mereka akan bermain di luar rumah.

Namun, layang-layang yang dilengkapi dengan nilon―agar lebih aman― sebagai talinya itu, memang lebih berat ketika akan diterbangkan. Untuk itu, dibutuhkan angin yang lebih kencang. Sehingga, cenderung dimainkan di lapangan atau tepi pantai dan bukan untuk diadu.

Layang-layang ini juga tidak murah harganya. “Dasar pertimbangan ‘mahalnya’ Odilia Kites yaitu harga bahan bakunya, tingkat kesulitan yang tinggi dalam pembuatannya, dan ukurannya yang lebih besar. Di samping itu, Odilia Kites memberi kesempatan kepada anak-anak, yang menjadi konsumen utama produk ini, untuk mengekspresikan jiwa seni mereka. Jadi, jika sebuah layang-layang sudah bersifat personalized, maka tidak dapat lagi dihargai dengan rupiah,” tegasnya.

Odilia Kites yang dibangun tahun 2005 dengan modal nyicil ini, membagi produknya menjadi beberapa bagian. Misalnya, dilihat dari kerangkanya, tersedia layang-layang dengan kerangka (bentuk konvensional) dan layang-layang tanpa kerangka (sled kite).

Pada layang-layang tanpa kerangka, terdapat kantung-kantung yang berfungsi untuk memerangkap angin. “Gambarannya, seperti parasut dalam terjun payung, tapi dalam konsep yang lebih sederhana,” jelasnya.

Dilihat dari tali kendalinya, terbagi menjadi satu tali (single line), dua tali (double lines), dan empat tali (four lines). “Dengan single line, layang-layang hanya akan terbang meliuk-liuk. Dengan double lines, layang-layang dapat terbang berputar-putar, naik-turun, dan sebagainya. Sedangkan, dengan four lines, layang-layang akan terbang seperti parasut,” jelasnya.

Sayang, layang-layang ini masih tersendat dalam pemasarannya. “Mungkin, karena saya belum memiliki outlet dan tidak menjual dalam bentuk satuan. Sejauh ini, saya hanya ‘melempar’ produk saya melalui berbagai bazar, festival, sekolahan, event organizer, dan lain-lain di sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, serta Bandung,” ucapnya.

Namun, apa pun kendalanya, Vonny berkeyakinan prospek bisnis layang-layangnya, khususnya, tetap bagus. “Pertama, yang bermain di bisnis ini belum banyak. Kedua, jika kita memberikan barang yang bagus, inovatif, dan menarik dipastikan akan ada tanggapan/ketertarikan dari konsumen,” pungkasnya.

Untuk itu, pada langkah awal bisnisnya, ia akan menjual brand produknya terlebih dulu sebagai exclusive kites. Selanjutnya, ia akan melengkapinya dengan kite training atau seminar kecil tentang segala tetek bengek layang-layang.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!