Suvenir pun bisa Menjadi Sarana Belajar dan Bermain

Ular Tangga Tematik

 

Di tangan kreatif dan ide cemerlang seperti Kenny, ular tangga yang merupakan permainan yang tidak lekang oleh waktu bukan cuma semakin abadi, melainkan juga semakin bernilai jual

 

e-preneur.co. Setiap detik adalah waktu yang sangat berharga bagi pertumbuhan anak-anak. Karena itu, harus diisi dengan berbagai hal yang bermanfaat. Bahkan, di saat mereka sedang berulang tahun atau tidak memiliki kegiatan apa pun.

Pemikiran semacam ini, melahirkan ide dalam benak Kenny Dewi K. Harahap untuk membuat suvenir ulang tahun berupa permainan ular tangga. Tapi, ular tangga ini bukan sembarang ular tangga, melainkan di sebagian kotaknya terdapat foto diri anak-anak yang sedang berulang tahun mulai dari dia di dalam kandungan (foto USG/ultrasonografi, red.) hingga umurnya yang sekarang.

“Harapan saya, suvenir itu bisa digunakan sebagai sarana belajar sambil bermain bagi anak-anak yang menerimanya. Dibandingkan, sekadar menerima suvenir berupa bingkisan makanan kecil. Selain itu, juga memberikan alternatif suvenir ulang tahun yang unik, memiliki nilai edukasi, sekaligus sebagai alternatif media dokumentasi yang menarik,” jelas perempuan, yang akrab disapa Kenny ini.

Foto-foto itu, bisa pula berupa berbagai kegiatan yang pernah dilakukan anak tersebut. “Di samping itu, dapat berupa foto-foto si bocah dengan keluarga atau teman-temannya,” imbuhnya.

Ular Tangga Tematik, begitu nama yang diberikan, juga tidak melulu dihiasi foto diri, tapi bisa juga digabungkan dengan tema tertentu. Contoh, Fun with English, Fun with Math, mengenal ciptaan Allah, bumi, antariksa, dan lain-lain.

Selain itu, supaya lebih menarik dan membuat anak-anak itu merasa senang, dia juga membuat ular tangga yang menghadirkan foto-foto mereka bersama dengan beberapa karakter dalam film kartun favorit mereka. “Saya juga memiliki modifikasi permainan ular tangga berupa peta perjalanan, yang juga dapat digabungkan dengan foto anak. Peta perjalanan ini menyangkut peta negara, benua, atau sekadar peta perjalanan anak dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya, dari rumah ke sekolah,” tutur Master of Business Administration dari Institut Teknologi Bandung ini.

Namun, tidak berarti hanya foto anak-anak yang boleh berada dalam permainan klasik itu, tapi juga foto-foto orang dewasa. Misalnya, orang tua si anak. Karena, diharapkan, orang tua juga bisa ikut bermain bersama anak-anak mereka. “Bahkan, saya juga pernah diminta membuat ular tangga untuk suvenir wedding anniversary,” lanjutnya.

Nah, bila berminat, konsumen tinggal mengirimkan 10–15 foto melalui e-mail atau CD (compact disc). Boleh juga berupa foto aslinya. Dengan jumlah foto sebanyak itu, dimaksudkan agar terbentuk komposisi yang indah antara foto dan gambar yang lain.

Bukan cuma unik dan menarik, melainkan juga edukatif

“Idealnya, 15 foto itu dimuat semuanya. Tapi, bila konsumen hanya menginginkan kurang dari 10 foto atau malah lebih dari 15 foto, maka saya akan mengusahakan membuat desain yang lebih pas,” kata pemilik SIDKAR Thematic Kids Event and Birthday Souvenir (baca: SIDKAR, red.), sebuah perusahaan event organizer (EO) yang mengkhususkan diri pada acara anak-anak.

Melalui rumah tinggal sekaligus home industry-nya yang terletak di kawasan Buah Batu, Bandung, ia membuat ular tangga itu dengan menggunakan bahan art paper yang cukup tebal dan kemudian dilaminasi. “Saya menggunakan art paper, lantaran secara artistik cukup representatif dan ringan. Sehingga, biaya pengirimannya tidak terlalu membebani konsumen. Sedangkan laminasi, dimaksudkan agar tidak mudah rusak atau kotor,” ujar kelahiran Bandung, 14 Mei 1975 itu.

Untuk dadunya, ia melanjutkan, berbahan karton duplex yang dibuat lebih halus ketimbang dadu pada umumnya. Sementara untuk tempat pengocok dadu, didesainnya sendiri. Bentuknya, berupa pola yang nantinya dapat dibentuk atau dirakit menjadi kotak oleh si anak. Sehingga, motorik halusnya juga ikut terlatih.

Namun, permainan seukuran kertas A3 (30 cm x 42 cm) ini, hanya dapat diperoleh dengan cara dipesan. Sebab, masih bersifat customized, menyesuaikan dengan keinginan pemesan.

“Tidak ada batasan untuk jumlah pemesanan. Mau memesan satu pun, saya terima dengan senang hati,” kata Kenny, yang memerlukan waktu seminggu untuk menyelesaikan dolanan ini.

Kenny yang mempromosikan permainan yang diciptakan pada tahun 1870 ini melalui website, setiap bulan mengerjakan (baca: menerima pesanan, red.) sekitar 15 desain atau 300 buah. Pesanan-pesanan ini bukan cuma datang dari seluruh Indonesia, melainkan juga dari Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia. Bahkan, dari Doha (Arab Saudi).

Tapi, Ular Tangga Tematik ini bukanlah satu-satunya produksi SIDKAR. EO yang berdiri tahun 2006 itu, juga menghasilkan berbagai suvenir lain yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Seperti, tas sablon foto, bantal dan topi berbordir nama, ember lukis, kaleng hias servietten, dan lain-lain.

“Saya juga menerima pemesanan undangan ulang tahun yang bersifat personalized. Karena, dapat juga menggunakan foto-foto anak,” jelas Kenny, yang membangun SIDKAR dengan modal awal Rp8 juta. Dan, sama halnya dengan Ular Tangga Tematik, berbagai produk tersebut di atas hanya dapat diperoleh dengan cara memesan.

Hal itu, tidak menjadi kendala bagi perempuan yang kini bekerja di Indonesian Waldorf Steiner Association ini untuk terus lebih kreatif dan inovatif. Termasuk, dalam desain dan packaging-nya. Terbukti, pemilik dari Tokecang Natural Toys dan Jagad Alit‒Waldorf ini juga mampu menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!