Camilan Meksiko, Citarasa Indonesia

Taco

(Mr. Tacoz)

 

Sejak beberapa waktu lalu, kita diserbu berbagai camilan impor. Namun, tidak semuanya cocok di lidah atau kantong kita. Dian pun berinisiatif memodifikasi taco, hingga pas dengan selera kita dan harganya terjangkau. Imbasnya, bukan cuma laris manis, melainkan waralabanya juga diminati

 

e-preneur.co. Sejak beberapa waktu lalu, negara kita dibanjiri oleh berbagai camilan impor, seperti pizza, burger, sandwich, kebab, dan sebagainya. Termasuk, taco.

Makanan ringan yang berasal dari Meksiko ini, mirip dengan sandwich atau kebab. Ia terdiri atas gulungan atau lipatan tortilla (kulit Tepung Gandum atau Tepung Jagung, red.) yang diisi dengan berbagai jenis sayuran dan daging giling segar, yang telah dibumbui paduan Lada Hitam, oregano, cabe, dan lain-lain.

Kehadiran taco, sebenarnya bukan baru-baru ini saja. Kita dapat menjumpai taco dan makanan-makanan Meksiko lain di berbagai resto yang menyajikan makanan Meksiko, yang banyak tersebar di Jakarta, khususnya.

Dan, bila mendapat sambutan yang cukup bagus bisa dimaklumi. Mengingat, selera pedas gurihnya sesuai dengan lidah masyarakat kita.

Hal itu pula, yang menjadi alasan kuat bagi Dian Purwaningtyas Budianto bukan sekadar mencicipi makanan ringan ini, melainkan juga mencari resepnya. Kemudian, ia membuat dan menjualnya.

“Selama ini, boleh dikata, saya hanya ‘menjelajah’ American Junk Food. Padahal, menurut saya, Indonesia masih membutuhkan variasi makanan dengan citarasa baru, tapi tidak jauh berbeda dengan selera lidah kita. Saya yakin, taco dan beberapa makanan Meksiko lain juga dapat meramaikan dunia kuliner kita,” kata Dian.

Berpatok pada keyakinan itu, ia bertekad menjadi pelopor dalam pengembangannya, dengan bentuk ekonomis yang bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Maka, pada November 2007, Dian pun memperkenalkan Taco di Malang. Sementara modalnya hanya Rp1,5 juta, yang digunakan untuk membeli gerobak bekas roti bakar, cat, pemesanan banner, dan perlengkapan masak, serta bahan baku awal.

Sedikit modifikasi agar cocok di lidah kita

“Pada mulanya, memang tidak mudah memperkenalkan makanan ini kepada masyarakat umum di sana. Tapi, kami secara aktif mengikuti berbagai bazar yang diselenggarakan beberapa sekolah” kisahnya.

Hingga, suatu ketika, dagangan yang diberi nama Mr. Tacoz ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para pengunjung bazar. “Mungkin, mereka merasa penasaran dan tergoda oleh aroma daging giling panggang yang dipadu dengan Oregano,” lanjutnya.

Imbasnya, dalam tempo tiga jam, Mr. Tacoz pun tandas. Padahal, antrian masih panjang.

Di sisi lain, mungkin juga lantaran harga produk Mr. Tacoz saat itu terbilang terjangkau. Dian menjualnya dengan harga Rp6.500,- sampai Rp12.500,- baik dari yang berukuran mini hingga jumbo, maupun dari tingkat kepedasan mild (biasanya untuk anak kecil) sampai super hot (untuk yang doyan pedas).

“Pada dasarnya, rasa bumbu daging taco saya sama dengan aslinya, hanya tingkat kepedasannya yang berbeda serta jenis bahan kulitnya,” ungkapnya. Dalam perkembangannya, Mr. Tacoz terus menambahkan menu baru dan aneka saus khas negara yang terkenal dengan Topi Sombrero-nya itu.

Sedikit modifikasi itu dilakukannya, karena, meski bumbu asli Meksiko itu sangat khas, tapi terasa menyengat atau kadangkala malah hambar. Sehingga, ia merasa kurang cocok di lidah kita. Untuk itu, ia sedikit mengurangi takaran pada bumbu yang satu dan menambah takaran pada bumbu yang lain.

“Taco saya memiliki rasa pedas dan gurih yang khas, yang bisa langsung disukai ketika orang pertama kali mencobanya,” ujar sarjana sains ini. Selain itu, makanan ringan ini baru dibuat setelah dipesan, untuk menjamin kesegaran bahan-bahannya. “Jadi, bukan fast food, melainkan fresh food,” tambahnya.

Sementara untuk target marketnya, Mr. Tacoz menyasar mereka dari kalangan menengah ke bawah dengan usia 12−40 tahun. “Menurut saya, variasi makanan siap saji asing untuk kalangan menengah ke bawah lebih sedikit dibandingkan untuk kalangan menengah ke atas. Sedangkan untuk kisaran umur itu, makanan ini cocok untuk mereka yang (secara psikologis) masih dalam tahap suka mencoba-coba makanan baru maupun yang mulai memperhatikan kesehatan mereka,” jelas mantan Kepala Taman Kanak-kanak ini.

Pada Januari 2009, Dian dan suaminya mengembangkan sistem kemitraan Mr. Tacoz dan memperkenalkannya melalui internet. Hanya dalam hitungan bulan, Mr. Tacoz pun memiliki 14 outlet (13 di antaranya milik mitra, red.), yang tersebar di Malang, Surabaya, Jakarta, Bandung, dan lain-lain.

Rencana ke depan? “Kami mempunyai impian bahwa suatu saat Mr. Tacoz akan sekelas dengan resto Taco Bell (franchisor taco terbesar di dunia saat ini, red.),” pungkas Dian, yang membangun usahanya di Graha Mr. Tacoz, Jalan Rungkut Mejoyo Selatan, Surabaya.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!