Tembus Mancanegara dengan Fokus dan Meningkatkan Kualitas Produk

Gitar Akustik

(Suwig Guitar Custom)

 

Bila berbicara tentang gitar akustik, maka yang terlintas dalam benak mereka yang akrab dengan dunia alat musik petik ini, tentulah Hartop. Sebab, melalui Suwig Guitar Custom, ia membuat gitar akustik berkualitas sesuai dengan keinginan konsumen. Imbasnya, dari tahun ke tahun, permintaan/pemesanan selalu ada. Termasuk, dari mancanegara

 

e-preneur.co. Generasi pertama membangun, generasi kedua mempertahankan dan mengembangkan, generasi ketiga menghancurkan imperium bisnis yang dibangun generasi pertama. Begitulah, bunyi sebuah pepatah Cina kuno tentang siklus bisnis.

Tapi, di zaman moderen seperti saat ini, pepatah itu betul-betul sudah kuno. Sebab, pada umumnya, justru generasi ketigalah yang membuat bisnis generasi pertama semakin berkembang. Hal ini terjadi, karena, adanya dimensi yang berbeda. Sehingga, mereka lebih kritis.

Di samping itu, adanya penyebaran informasi yang sangat cepat, gampang diperoleh, dan terbuka luas. Dan, Suharto Suwignyo telah membuktikannya.

Hartop, begitu ia akrab disapa, meneruskan usaha sang Kakek, Hardjo Suwignyo, yang dibangun sekitar tahun 1930-an di Solo. “Usaha pembuatan alat musik petik dan gesek ini dijalankan secara turun temurun dari Kakek saya. Lalu, diteruskan oleh Bapak saya, Maryanto Suwignyo, pada sekitar tahun 1960-an di mana lokasi usahanya sudah dipindahkan ke Jakarta. Selanjutnya, dari bantu-bantu saja, akhirnya Bapak menyerahkan usaha ini ke saya sekitar tahun 1999−tahun 2000,” kisah Hartop.

Pada mulanya, ia melanjutkan, usaha ini hanya membuat alat musik petik dan gesek untuk melayani pasar di Indonesia dan Malaysia. Saat tongkat kepemilikan dipindahkan ke Maryanto, tidak terjadi perubahan yang signifikan. Kecuali, adanya manajemen dan gitar yang dibuat untuk memenuhi permintaan berbagai toko alat musik.

Ketika pada akhirnya Hartop yang memegang kendali atas usaha ini, ia segera melakukan perubahan paradigma bagaimana caranya agar usaha ini dikenal banyak orang. Mengingat, begitu banyak orang yang datang ke bengkel ini sekadar untuk diperbaiki gitarnya.

“Dari situlah, terlintas dalam benak saya untuk membuka fasilitas servis gitar. Selain itu, dari berkenalan dengan orang-orang itu, bermunculanlah berbagai macam ide. Di antaranya, membuat gitar sesuai dengan yang diinginkan konsumen (custom) di mana waktu itu (tahun 2000-an) belum ada usaha sejenis yang melakukan hal ini,” tuturnya.

Apa yang dilakukan pria yang menamai usahanya Suwig Guitar Custom atau Suwig Guitar Workshop ini, tidak diiklankan atau dipromosikan. Namun, menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya berkembang seperti saat ini.

Suwig Guitar Workshop menggunakan kayu yang berbeda-beda untuk setiap gitar. Karena, berbeda kayunya, berbeda pula sound yang dihasilkan

Di samping itu, dengan alasan agar lebih spesifik, Hartop menambahi produknya yang semula hanya gitar elektrik, maka sejak tahun 2008, juga membuat gitar akustik. “Hal ini juga saya lakukan, karena, saat itu mereka yang bergerak dalam pembuatan gitar akustik masih dalam hitungan jari. Saya ingin, ketika orang-orang berbicara tentang gitar akustik, maka mereka akan menyebut Suwig,” ungkap Hartop, yang memberi merek Suwig pada gitar akustik buatannya.

Sebagian dari impian itu, terwujud pada tahun 2010 dan tahun 2011. Kala itu, Suwig diikutsertakan dalam pameran gitar akustik di Singapura. “Setidaknya, gitar akustik kami sudah mulai dikenal di luar negeri,” imbuhnya.

Keunggulannya dari para pesaing? Tentu, itu pertanyaan yang muncul. Ternyata, Hartop tidak mengetahuinya dengan pasti. Karena, hanya fokus pada produknya dengan mengutamakan kualitas.

“Dengan fokus pada produk sendiri dan terus meningkatkan kualitas, dengan sendirinya kami telah menciptakan poin (baca: kelebihan, red.). Buktinya, dari tahun ke tahun, permintaan/pemesanan selalu ada. Sebaliknya, jika terus-menerus memikirkan pesaing, akhirnya capek sendiri,” ujar sarjana teknik mesin dari Universitas Mpu Tantular, Jakarta, ini.

Dalam membuat gitar akustik, Suwig Guitar Custom menggunakan sistem customized atau pemesanan. Tapi, kendati bersifat pemesanan, hal ini sudah membuat usaha yang berlokasi di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, ini agak kewalahan.

Sebab, untuk membuat sebuah gitar akustik saja dibutuhkan waktu tiga minggu. Sementara setiap bulannya, usaha ini rata-rata menerima dua pemesanan. Bahkan, satu kali dalam perjalanan hidup usaha ini pernah menerima pemesanan 24 gitar dalam satu bulan!

Sedangkan dalam berproduksi, Suwig Guitar Workshop menggunakan kayu yang berbeda-beda untuk setiap gitar. Karena, berbeda kayunya, berbeda pula sound yang dihasilkan. Sementara sebagian besar kayu yang digunakan merupakan kayu impor.

“Hal ini, tidak ada hubungannya dengan kualitas kayu di Indonesia. Apalagi, Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan kayu. Tapi, semata-mata, karena gitar merupakan alat musik yang dikembangkan di Eropa. Sehingga, lebih afdal menggunakan kayu impor yang menghasilkan suara, yang sudah diterima oleh semua kalangan,” jelas kelahiran Solo, 21 Maret 1975 ini.

Namun, tidak berarti Suwig Guitar Custom tidak menggunakan kayu lokal. Gitar-gitar yang dibuat di sini, ada juga yang memadukan antara kayu impor dengan kayu lokal. Misalnya, bagian belakang dan samping body, serta neck gitar menggunakan kayu lokal, sementara bagian depannya (top body) menggunakan kayu impor seperti spruce atau cedar.

Sedangkan untuk servis yang mencakup neck yang patah, mengganti papan body, cat ulang, setting ulang, dan sebagainya dibebankan tarif tertentu. Selain itu, Suwig Guitar Custom juga menyediakan pelayanan purna jual berupa garansi selama tiga tahun. Untuk semua kerja keras ini, Suwig Guitar Custom membukukan omset rata-rata Rp50 juta/bulan.

Tapi, Hartop belum puas sampai di situ. Ia ingin melanjutkan usaha turun-temurun ini hingga menjadi besar, dalam arti, produknya dipakai lebih banyak orang. Lalu, membuka kursus pelatihan gitar dan membuka gerai.

“Suatu saat nanti, saya juga ingin usaha ini dijalankan dengan mesin, tanpa meninggalkan core-nya. Sehingga, ada gitar yang diproduksi secara masal dan ada yang eksklusif,” ucapnya.

Apalagi, ia menambahkan, prospek usaha ini sangat bagus. Mengingat, gitar (dan bas) merupakan alat musik yang paling mendominasi dalam dunia musik. Dengan kata lain, usaha semacam ini tidak akan pernah mati.

“Di sisi lain, kami belum mampu memenuhi pasar gitar di Jakarta sekali pun, tapi sudah mampu bersaing dengan gitar buatan luar negeri,” pungkas Hartop, yang kini memindahkan usahanya di kawasan Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan. Hal itu, telah dibuktikannya dari adanya pemesanan gitar buatannya dari seluruh Indonesia, Australia, Kanada, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Inggris, Skotlandia, dan Swedia.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!