Bertahan dengan Inovasi Tiada Henti

Cake

(De’Cake Boutique)

 

Salah satu cara bertahan dari pasar yang sudah penuh sesak dan “memelihara” konsumen yakni dengan melakukan banyak inovasi. Seperti, yang dilakukan Desy dan De’Cake Boutique-nya yang inovasi-inovasinya tidak pernah mati

 

e-preneur.co. Kehadiran kue, diakui atau tidak, sangat penting dalam setiap tahapan kehidupan kita. Dikatakan begitu, karena, kue selalu hadir saat seseorang dilahirkan di muka bumi ini, lalu ketika ia berulang tahun, menikah, dan akhirnya meninggal. Kue juga selalu ada di hari-hari keagamaan atau perayaan.

Dengan demikian, konsumen kue sangat besar. Karena itu, tidak salah kalau dikatakan prospek bisnis kue atau bakery sangat bagus. Dan, ibarat ada gula ada semut, maka di mana ada bisnis menjanjikan, di situ pula dipastikan banyak orang berusaha ikut menggelutinya.

Agar bisa menjadi unggulan, setidaknya bertahan, dalam bisnis ini, setiap pemilik bakery harus memiliki ciri khas dan segmen pasar. Misalnya, bermain di cake hotel atau decorated cake.

“Di decorated cake itu sendiri masih besar sekali pasarnya. Misalnya, hanya bermain di dua dimensi, menggunakan butter cream atau chocolate modeling. Atau, seperti saya yang menggunakan plastic icing (adonan yang liat dan mudah dibentuk, serta tahan suhu ruang, terbuat dari campuran gula bubuk, glucose, dan putih telur, red.),” kata Desy Natalina.

Kondisi inilah, yang membuat pemilik De’Cake Boutique ini berani ikut terjun di bisnis butik cake. Di samping itu, ia juga tidak takut produknya ditiru.

“Karena, kalau ada yang mencontoh produk saya, maka saya akan membuat produk baru lagi. Apalagi, produk-produk saya juga terinspirasi dari buku-buku terbitan luar. Pokoknya harus lebih kreatif, rajin mengeluarkan model-model baru, dan selalu mencari celah yang belum dimasuki. Terutama, dalam dekorasinya,” lanjutnya.

Berkaitan dengan celah yang belum dijamah para pengusaha bakery lain, terutama dalam dekorasinya, Desy mengisinya dengan menggunakan bahan baku hiasan kue yang 85% impor. Misalnya, emas 22 karat berbentuk spray atau powder yang diimpor dari Jepang. Atau, Kristal Swarowsky, perhiasan mahal dari Austria.

“Lebih dari itu, semua hiasan di kue saya bikinan tangan dan dari gula yang dapat dimakan atau setidaknya safe dimakan (termasuk serbuk emas 22 karat tersebut, red.), serta tidak berbahan pengawet, mengingat anak kecil gampang tergiur pada hiasan kue dan asal comot saja. Sehingga, demi keamanan, kami selalu menggunakan bahan baku yang dapat dimakan,” jelas putri bungsu Nilasari, salah satu pakar dalam dunia tata boga Indonesia, ini.

Do the best untuk konsumen

De’Cake Boutique dibangun oleh Desy pada Januari 2006. Butik cake yang terletak di Darmawangsa Square Citywalk, Jakarta Selatan, ini merupakan perkembangan dari workshop yang dinamai The Cake Shop, yang didirikannya dua tahun sebelumnya di Tanjung Duren, Jakarta Barat.

“The Cake Shop merupakan awal terbentuknya bisnis kue saya. Tapi, dalam perkembangannya, ternyata kebanyakan konsumen saya tinggal di Jakarta Selatan. Mereka sangat kreatif. Sehingga, saya tertantang untuk membuka butik cake di sini,” kisahnya.

Berbeda dengan The Cake Shop, De’Cake Boutique merupakan butik cake yang mengusung konsep dekorasi pada cake. “Sehingga, kue-kue yang ada di sini benar-benar kue yang full decorated dan detil,” imbuhnya.

De’Cake Boutique juga sebuah showroom. Jadi, hanya memamerkan contoh-contoh hiasan kue. Sedangkan untuk proses pembuatannya merupakan tugas The Cake Shop.

Untuk keseluruhan bisnis kuenya ini, Desy menanamkan modal sekitar Rp300 juta yang sebagian besar terserap di pembangunan De’Cake Boutique dan gaji karyawan. Untuk omsetnya, silahkan Anda menghitung sendiri bila dalam sehari terdapat rata-rata 2‒3 pemesanan, sedangkan harga untuk wedding cake dimulai dari Rp4,5 juta dan Rp350 ribu untuk birthday cake.

Harga yang terbilang mahal ini berkaitan dengan tinggi kue, detil pembuatan, model, dan bahan baku yang digunakan. Karena itu, tidak salah bila Desy menjadikan masyarakat kelas B+ sampai A+ sebagai konsumennya.

Bagaimana prospeknya? “Butik cake sangat bagus prospeknya. Sebab, di kota-kota besar, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka ia akan semakin menghargai detil pembuatan hiasan kue yang dipesannya. Tidak lagi sekadar ukuran dan rasa,” katanya.

Di samping itu, ia melanjutkan, sejak 10 tahun terakhir ini, muncul kecenderungan di kalangan pengantin yang semula hanya menginginkan kue pengantin yang bentuknya sangat besar tapi cuma berujud dummy, kini beralih ke kue pengantin setinggi lima tingkat tapi benar-benar kue. Di sisi lain, pasar bisnis butik cake, di Jakarta khususnya, boleh dibilang sudah penuh sesak. Padahal, hanya beberapa gelintir saja yang benar-benar dikunjungi konsumen karena faktor lokasi yang kurang strategis, misalnya.

“Bila kita bisa do the best untuk konsumen, di mana pun lokasi butik cake itu tidak masalah,” pungkasnya. Memang, selalu ada banyak cara untuk (setidaknya) bertahan dalam bisnis apa pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Desy dan De’Cake Boutique-nya telah membuktikan hal itu dengan inovasi-inovasinya yang tidak pernah mati dan nama besar Nilasari.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!