Mementingkan “Lidah” Pelanggan untuk Mengembangkan Usaha

Sushi

(Rumah Sushi)

 

Tidak perlu menunggu sampai gelar sarjana diraih, jika ingin membangun sebuah usaha. Sambil menyelesaikan skripsi, empat mahasiswa Universitas Al-Azhar ini sudak membuktikannya dan berhasil. Rumah Sushi mereka berkembang, dengan lebih mementingkan lidah pelanggan ketimbang memikirkan pesaing

 

e-preneur.co. Zaman sudah berubah. Dulu, para mahasiswa kuliah untuk meraih gelar sarjana sebagai bekal untuk mendapatkan pekerjaan kantoran, yang memberi posisi mentereng dan gaji tinggi. Namun, sekarang, setelah gelar sarjana diraih, sebagian besar dari mereka justru ingin membangun usaha sendiri. Malah, ada yang sudah memulainya sewaktu masih berstatus mahasiswa.

Seperti, Aditia Alfarizi, Wisnu Sumarwo, Achmad Ariefin, dan Riswan Hemy TM yang memulai usaha saat sedang menyelesaikan skripsi. “Awalnya, kami berdelapan ngobrol tentang bisnis apa yang akan dibangun setelah lulus kuliah. Kami ingin bisnis dengan modal yang tidak besar dan bisa patungan,” kisah Wisnu Sumarwo (baca: Wisnu, red.).

Sesudah itu, mereka yang sekarang para mantan mahasiswa Universitas Al-Azhar, Jakarta, ini bergerak mencari tempat untuk usaha. Tapi, setelah sekian lama mencari, mereka tetap tidak menemukan tempat yang pas dengan budget. Hingga, satu persatu mengundurkan diri dan akhinya tinggal berempat.

“Saat sedang nongkrong di tempat Riswan (Riswan Hemy TM, red.), kami kepikiran mengapa tidak membuka rumah makan sushi,” lanjutnya. Dari situ, Wisnu dan kawan-kawan mulai membuat anggaran belanja, yang dasarnya pun mereka sama sekali tidak mengerti. “Kami melakukannya dengan menebak-tebak saja,” imbuhnya.

Mereka juga kebingungan dengan harga sewa yang diajukan, ketika salah seorang sahabat menawarkan tempat membuka usaha di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. “Kami tidak mempunyai banyak uang. Namun, akhirnya, setelah dibicarakan, sang pemilik tempat berbaik hati dan mengizinkan kami membayar sewa di akhir bulan,” ujar sarjana komunikasi ini.

Sushi murah, tapi tidak murahan

Kemudian, hanya dengan bermodalkan Rp200 ribu, peralatan memasak yang dibawa dari rumah masing-masing, satu meja makan (sehingga ada pelanggan yang terpaksa duduk di rumput, red.), dan belajar membuat sushi dari (situs) youtube (lantaran tidak mampu membayar biaya belajar pada seorang chef, red.), pada 1 Desember 2010, mereka berhasil membuka rumah makan sushi. Meski, Rumah Sushi, begitu nama yang diberikan, hanya mempunyai tiga menu.

“Sebenarnya, kami belum mengetahui cara memasak nasi dan menggulungnya. Imbasnya, nasi pun hangus dan berantakan,” tutur Aditia Alfarizi (baca: Aditia, red.). “Ketika sudah berhasil dengan satu menu, kami mencoba menu yang lain. Hasilnya, sama dengan yang sebelumnya alias berantakan. Tapi, kami pantang menyerah dan terus mencoba. Hingga, pada akhirnya, kami berhasil. Sekarang, kami sudah mempunyai 70 menu,” Achmad Ariefin, menambahkan.

Menu-menu itu, mempunyai nama yang unik yang mereka comot dari tokoh-tokoh film kartun. “Kami mengambilnya dari film-film kartun favorit kami,” kata Aditia.

Keunikan, juga terdapat pada lokasi usaha mereka di mana posisinya sangat ke dalam. Hingga, tidak terlihat dari luar. Namun, hal itu, justru membuat para pelanggan merasa nyaman dan mau datang kembali. “Kalau mau ke Rumah Sushi seperti sedang masuk ke hutan. Tapi, pelanggan justru betah dan balik lagi,” ungkap Wisnu.

Sementara konsep yang diusung yaitu bagaimana menjual sushi yang murah, tapi tidak murahan. Terbukti, harga menu yang dipatok terjangkau untuk kantung mahasiswa, meski bahan-bahan makanan yang digunakan impor. Seperti cuka, beras, dan sebagainya yang telah diteliti kehalalannya.

“Kami tidak memikirkan bagaimana pesaing kami. Kami lebih mementingkan lidah (baca: selera, red.) pelanggan dan bagaimana mengembangkan usaha ini,” lanjutnya.

Dalam perjalanannya, Rumah Sushi berkembang menjadi enam outlet yang tersebar di kawasan Kelapa Gading Permai (Jakarta Utara), Blok M dan Cinere (Jakarta Selatan), Kalimalang (Jakarta Timur), Bumi Serong Damai (Tangerang), serta Bendungan Hilir (Jakarta Pusat). Selain itu, juga mempekerjakan total sekitar 80 karyawan.

Sementara sebagai usaha bersama, mereka menerapkan sistem yang adil. Dalam arti, mereka tidak memberlakukan sistem bagi hasil, melainkan sistem gaji. Sama seperti karyawan mereka.

Keunikan ini, kalau boleh dibilang begitu, juga merambah ke soal “jabatan”. Di sini, tidak ada istilah manajer tapi kapten, co kapten, dan letnan.

Sedangkan untuk rekrutmen pegawai, mereka tidak melihat pendidikan terakhinya. “Pegawai kami kebanyakan lulusan SMP. Bahkan, ada pula yang SD. Kami memberi mereka kesempatan bekerja, asalkan mempunyai kemauan” ujar Wisnu, yang mewakili kawan-kawannya, berencana membuka cabang lebih banyak lagi di seluruh Indonesia. Selain itu, juga ingin karyawan mereka bisa menjadi pengusaha, sama dengan mereka.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!