Mau Jongkok ya Monggo, Mau Duduk ya Silahkan

Multiclos

 

Lantaran merasa lebih nyaman dengan kloset jongkok, sebagian masyarakat kita menggunakan kloset duduk seperti kloset jongkok. Padahal, itu sangat berbahaya. Kondisi ini, menimbulkan ide dalam benak Ana untuk mendesain Multiclos, kloset yang dapat dipakai dalam kondisi jongkok maupun duduk

 

e-preneur.co. Ingat (maaf) BAB (Buang Air Besar), tentu ingat kloset. Sebab, apa pun namanya, entah itu kloset, toilet, atau WC (Inggris: Water Closet, red.) adalah bagian dari perlengkapan rumah, yang fungsi utamanya sebagai tempat untuk membuang air seni atau feses. Di sisi lain, toilet atau WC juga dapat diartikan sebagai ruangan atau tempat perlengkapan tersebut di atas berada.

Dilihat dari bentuknya, terdapat tiga jenis kloset yakni kloset duduk yang umum digunakan masyarakat Barat. Sementara kloset jongkok, lazim digunakan masyarakat Asia Tenggara, Asia Timur, sebagian Eropa Selatan, dan Eropa Timur. Sedangkan kloset berdiri, khusus digunakan oleh para pria dan hanya untuk buang air kecil.

Bagi orang-orang Asia Tenggara, dalam hal ini orang-orang Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah, kloset jongkok dirasa lebih nyaman untuk (maaf) buang hajat besar. Sebab, selain lebih sulit tertular kuman dan bakteri, juga menguatkan otot kaki dan membuat (maaf) bokong lebih seksi.

Namun, kloset jongkok kurang nyaman bagi para Ibu hamil, lansia (lanjut usia), penderita rematik, dan orang-orang gemuk. Demikian, dikutip dari pernyataan I Wayan Kesumadana, dokter spesialis kandungan dari Rumah Sakit Kasih Ibu Denpasar, Bali.

Sedangkan kloset duduk, meski bagi beberapa orang terasa lebih nyaman, tapi piranti kebersihan yang diciptakan para ilmuwan dari Inggris itu membuat kontraksi otot perut berlangsung lebih lama. Di samping itu, kuman mudah menempel pada pinggiran kloset.

Sehingga, harus dibersihkan dulu sebelum digunakan. Terutama, untuk kloset duduk yang tersedia di toilet umum. Jika keadaan memaksa, usahakan (maaf) pantat tidak menyentuh dudukan kloset.

Berkaitan dengan itu, ketika di perkantoran-perkantoran khususnya―seiring dengan perkembangan zaman―kloset jongkok digantikan dengan kloset duduk, terjadilah semacam gegar budaya. Tidak mau kehilangan kenyamanan, sebagian karyawan tetap menggunakan kloset duduk laiknya kloset jongkok. Alhasil, bekas sepatu, sandal, atau telapak kaki―yang tentu saja kotor―akan tertinggal di tempat dudukannya.

Kejorokan ini semakin bertambah, saat yang bersangkutan tidak mengguyur apa yang baru saja dibuang. Mengingat, ia terbiasa menggunakan kloset jongkok.

Kloset duduk biasanya mempunyai suatu tombol tertentu, yang mengeluarkan air untuk cebok atau mengguyur kotoran. Tapi, kadangkala cuma menyediakan tisu.

Simpel, unik, dan nyeleneh

Fenomena sehari-hari yang berkaitan dengan urusan “belakang” itu, terjadi pula di kantor Ana Ningsih. Kloset duduk juga digunakan di tempat kerja Instruktur Elektronika Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, Jawa Tengah, ini.

Padahal, masih ada beberapa orang yang tidak bisa atau merasa tidak nyaman menggunakannya. “Kemudian, terbersitlah ide untuk membuat kloset yang bisa digunakan baik dengan berjongkok maupun sambil duduk,” kata perempuan, yang biasa disapa Ana ini.

Pada waktu yang hampir bersamaan, ia melihat adanya ajang lomba bertitel Djarum Black Innovation Award (DBIA). Terlintaslah keinginan untuk mengikutinya.

“Konsep DBIA itu simpel, maka desain yang aku kirimkan juga simpel saja. Aku nggak menyangka akan menang,” tutur Ana, yang dalam ajang lomba ini masuk dalam empat besar.

Namun, ia melanjutkan, dari awal ia sudah mengetahui kelemahan produk desainnya. “Nggak mungkin aku memproduksinya sekarang. Aku masih akan mengembangkan lagi. Jadi, semuanya masih berwujud business plan,” ujarnya.

Bagaimana pun, ia memaparkan, kloset duduk tidak dirancang sama halnya dengan kloset jongkok. Kloset jongkok didesain mampu menanggung beban berat di atasnya.

Sehingga, bila kloset duduk disamakan cara pemakaiannya dengan kloset jongkok akan sangat berbahaya. Sangat mungkin terjadi kecelakaan. Seperti, terpeleset, tergelincir, munculnya masalah pada kaki atau selangkangan, dan sebagainya.

Bukan hanya itu, ada kemungkinan toilet duduk ini akan rubuh atau pecah. Imbasnya, akan timbul luka yang mengerikan pada orang yang berada di atasnya. “Aspek safety, estetika, sanitasi, dan lain-lain inilah yang membuatku mendesain ulang Multiclos,” ungkapnya.

Multiclos, begitulah nama produk yang diberikan oleh sarjana elektro dari Universitas Katolik Sugiyopranoto, Semarang, Jawa Tengah, ini. Multiclos yang berasal dari kata Multi dan Closet ini merupakan kloset, yang dapat digunakan baik sebagai kloset jongkok maupun kloset duduk.

Multiclos terbuat dari PVC. “Rencananya, hanya memiliki satu ukuran yang paten tapi dengan berbagai macam warna,” jelas kelahiran Semarang itu.

Pada dasarnya, ia melanjutkan, Multiclos sama dengan kloset duduk yang terdapat di pasaran. Dalam arti, memiliki satu tutup dan satu tempat untuk menahan, ketika seseorang sedang duduk di atasnya.

Tapi, ditambahkan lagi satu tutup kloset khusus yang digunakan saat yang bersangkutan jongkok, yang didesain dengan lekukan-lekukan kecil agar pemakainya tidak terpeleset. Sedangkan lebarnya, ditambahi agar pijakan kaki lebih mantap.

Multiclos, bisa dibilang, sebuah produk yang simpel dan unik, di samping nyeleneh. Sebab, kloset duduk yang dibuat, dikembangkan, dipakai oleh negara-negara maju, dan lalu juga digunakan sebagian masyarakat perkotaan di negara kita ―dengan alasan mengikuti kemajuan zaman (baca: moderen, red.)―oleh Ana justru dirombak lagi hingga juga dapat berfungsi sebagai kloset jongkok, yang notabene klosetnya orang-orang di daerah atau dari kalangan bawah. Tapi, apa pun itu, Multiclos diharapkan dapat menjadi salah satu pemecah masalah besar, yang berkaitan dengan lintas budaya.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!