Ketika Piringan Hitam Berubah Menjadi Produk Fungsional

Limbah Piringan Hitam

Vinyl Obsessions

 

Piringan hitam memang sudah tidak diproduksi lagi. Bahkan, sebagian yang tersisa sudah tidak berfungsi lagi. Tapi, ternyata, masih tetap dapat dimanfaatkan dalam bentuk yang lain di tangan John dan Kustiana, dengan harga jual yang menggiurkan

 

e-preneur.co. Piringan hitam muncul untuk pertama kalinya pada tahun 1948. Sesuai dengan perkembangan teknologi, digantikan posisinya oleh kaset, compact disc, dan akhirnya MP3.

Kini, piringan hitam yang memiliki tiga ukuran dalam hitungan rpm (rotation per minute) yaitu 78, 45 dan 33⅓ ini, tinggal kenangan. Media untuk merekam musik itu, hanya dapat dijumpai di kediaman para kolektor atau pasar barang antik.

Namun, sebenarnya, piringan hitam masih dapat dimanfaatkan dengan mengubahnya menjadi barang-barang fungsional. Setidaknya, itulah yang dilakukan oleh John Christian Torr dan Kustiana, yang tidak ingin piringan hitam menjadi sekadar koleksi atau bahkan limbah.

Di workshop mereka yang terletak di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, piringanhitam-piringanhitam itu diubah menjadi jam dinding, alas makan (tatakan gelas dan piring), frame (hiasan dinding), tas, mangkuk, dan sebagainya. Perubahan ini, kadangkala tidak mengubah bentuk aslinya, seperti tas, jam dinding dan frame. Tapi, adakalanya terpaksa mengubah bentuk aslinya, seperti mangkuk dan alas makan.

“Meski sudah berubah bentuk atau fungsi, beberapa produk olahan piringan hitam tersebut masih dapat digunakan sesuai fungsi aslinya. Misalnya, piringan hitam dalam bentuk frame dapat dibongkar pasang. Dalam arti, dikeluarkan untuk didengar suara rekaman di dalamnya, lalu dimasukkan lagi ke dalam frame, dan berubah lagi menjadi hiasan dinding,” jelas Lusiana Marpuah, partner mereka yang ditunjuk sebagai juru bicara.

Demikian pula dengan yang sudah dibentuk menjadi jam dinding, tinggal dicopot mesin-mesinnya. “Karena, tidak direkatkan secara permanen,” lanjutnya.

Usaha yang diberi nama Vinyl Obsession ini, dibangun John dan Kustiana dengan modal Rp10 juta yang mayoritas dibelanjakan untuk membeli piringan hitam. Dalam berproduksi, mereka menggunakan dua ukuran piringan hitam yaitu pertama, yang berukuran 45 rpm (ukuran kecil) dan beredar tahun 1950-an. Kedua, yang berukuran lebih besar (78 rpm) dan dirilis tahun 1970-an.

“Awalnya, kami konsentrasi pada piringan hitam yang merekam lagu-lagu dari berbagai band ternama di mancanegara. Dalam perjalanannya, kami mengombinasikan dengan berbagai piringan hitam dari band-band dan artis-artis terkenal di Indonesia,” kata Lulu, begitu ia biasa disapa.

Vinyl Obsession menyasar konsumen dari kalangan menengah ke atas, khususnya kaum ekspatriat. Sebab, piringan hitam identik dengan budaya mereka. Di samping itu, para bule cenderung menyukai yang serba antik/klasik.

Masih dapat digunakan sebagai produk lain yang ramah lingkungan dan lebih bermanfaat

“Untuk itu, kami lebih banyak memasarkan produk-produk kami melalui berbagai bazar yang biasanya diselenggarakan oleh Hotel Kemang, Hotel Ritz Carlton, Jakarta International School, dan lain-lain. Kami juga memasarkannya melalui internet atau ke Inggris jika John sedang mudik,” ujarnya.

Sistem pemasaran tersebut, Lulu melanjutkan, sangat berperan terhadap jumlah produk mereka setiap bulannya. Selain itu, juga pada kebutuhan.

Misalnya, saat itu mereka akan mengikuti suatu bazar atau memeriahkan event-event tertentu, maka saat itu pula mereka berproduksi sebanyak yang dibutuhkan dalam bazar atau event-event itu. Mereka juga berproduksi, jika ada pesanan. Singkat kata, mereka tidak pernah berproduksi secara rutin.

“Yang ada di outlet, sifatnya contoh produk olahan dan berbagai piringan hitam dalam bentuk aslinya. Bila pengunjung berminat dibuatkan sesuai dengan contoh produk, maka kami akan segera membuatkan. Memang agak dadakan,” katanya.

Untuk memperoleh bahan bakunya, John rajin mendatangi para kolektor piringan hitam di Jakarta yang biasanya sudah bosan dengan koleksinya itu dan ingin menjualnya. “Para kolektor piringan hitam di luar Jakarta juga sudah menghubungi kami, tapi kami belum memiliki cukup waktu untuk mendatangi mereka,” ucapnya.

Selain itu, John juga berbelanja ke pasar barang antik yang terletak di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat. Dengan para pedagang itu, Vinyl Obsession menjalin kerja sama.

Jadi, ia menambahkan, meski piringan hitam sudah tidak diproduksi lagi, tapi mereka tidak kuatir kehabisan bahan baku itu. Kekuatiran mereka justru pada pemasarannya.

“Untuk mengatasi kendala ini, kami rajin mengikuti berbagai bazar di mana target market kami biasanya berada, seperti di Festival Kemang, Darmawangsa Square, Pasaraya, dan sebagainya,” katanya. Selain itu, Vinyl Obsessions juga menambah jumlah item produknya, seperti notebook, aksesori perempuan, dan peralatan sekolah.

Tapi, pada dasarnya, Lulu menegaskan, Vinyl Obsessions yang setiap bulan memenuhi pesanan (kebanyakan dalam bentuk frame) untuk menghiasi interior kafe, resto, rumah, atau stasiun radio ini tidak menginginkan piringan hitam menjadi limbah tak berguna. Vinyl Obsessions yakin, piringan hitam ini masih dapat dimanfaatkan dalam bentuk yang lain dan ramah lingkungan.

Harapan mereka terwujud. Bila semula Vinyl Obsession masih menjadi satu-satunya produsen olahan dari piringan hitam di Indonesia, kini banyak pihak sudah mengikuti jejak bisnis mereka.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!