“Kalau Kita Terus Berpikir, Berkreasi, dan Banyak Beribadah, Maka Semakin Tua, Kita Akan Semakin Bersemangat”

Nuzli Arismal

Banyak orang yang berpikir dan bersikap jika pensiun tiba, maka “berakhir” pula hidup mereka. Padahal, pensiun justru suatu masa di mana orang-orang sudah bebas berkarya sebisa dan sebanyak mungkin. Seperti Haji Alay, yang meski sudah sepuh, tapi terus berpikir, berkreasi di berbagai bidang usaha, dan banyak beribadah agar semakin bersemangat dan bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang

e-preneur.co. Kondisi negara yang sedang bergolak, seringkali mengubah jalan hidup seseorang. Dan, itulah yang terjadi pada Nuzli Arismal.

Karena kondisi darurat perang akibat pemberontakan PRRI/Permesta (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta) di kampung halamannya, Bukittinggi, Sumatra Barat, orang-orang takut keluar rumah. Termasuk, kedua orang tuanya.

Tapi, lantaran tidak bisa berhenti makan, ia terpaksa berdagang. Ia berdagang kue serabi ke markas-markas tentara. Padahal, umurnya baru lima tahun dan belum bersekolah. 

Hal itu, berlanjut dengan berjualan jengkol, cabe, pete, jagung, dan lain-lain yang dibawa Kakeknya, ke pasar. Bahkan, ketika pemberontakan PRRI/Permesta berakhir dan ia mulai bersekolah, kegiatan berdagang terus berlanjut. Pagi hari, ia membawa dagangan makanan atau buah-buahan ke sekolah, siang hari (sepulang sekolah) ia berdagang di pasar.

“Saya menjadi terbiasa berdagang. Tapi, saya senang. Karena, menghasilkan uang. Dengan adanya uang, kita dapat membeli apa pun. Jadi, teman-teman tidak bisa jajan, saya bisa jajan. Teman-teman tidak bisa membeli apa pun, saya bisa membeli apa saja. Termasuk, membeli peralatan sekolah sendiri dari uang yang saya kumpulkan,” kata Haji Alay, begitu ia akrab disapa.

Lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia merantau ke Palembang. Di sini, ia bersekolah di PLKI (Pusat Latihan Kerajinan Industri), pendidikan setingkat SMA (Sekolah Menengah Atas), nyambi berdagang rokok secara berkeliling yang dimodali Pamannya. Tapi, karena lokasi sekolahnya jauh dan biayanya mahal, ia tidak mampu melanjutkan pendidikannya.

Selanjutnya, ia fokus berdagang. Namun, tidak berarti ia berhenti belajar. Ia mengikuti berbagai pendidikan non formal. “Saya terilhami oleh Rasulullah bahwa menuntut ilmu itu dari ayunan sampai liang kubur,” lanjut kelahiran Bukittingi, 30 Mei 1953 ini.

Tahun 1972, ia membuka toko untuk pertama kalinya, dari modal yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. “Saat itu umur saya 19 tahun, tapi sudah mempunyai pekerjaan yaitu sebagai pedagang. Saya memilih menjadi pedagang, sebab Rasulullah mengatakan bahwa sembilan dari 10 pintu rezeki itu dari berdagang,” ungkapnya.

Jadikan hidup kita bermanfaat!

Di sisi lain, pria yang memang tidak memiliki niat sedikit pun menjadi pegawai ini melanjutkan, Rasulullah mengatakan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah atau memberi lebih baik daripada menerima. Memberi gaji lebih baik ketimbang menerima gaji.

Setelah empat tahun berjalan, toko yang menjual kain meteran itu dibongkar. Lalu, ia pindah ke Lampung dan berdagang kain, elektronik, dan lain-lain.

Tahun 1977, ia hijrah ke Jakarta untuk berdagang juga. Di kawasan Pasar Kampung Ambon, Jakarta Timur, untuk pertama kalinya ia membuka toko. Lalu, pindah ke Pasar Tebet, Jakarta Selatan. Dan, akhirnya, ke Pasar Tanah Abang Ruko Baru Blok F, Jakarta Pusat.

Toko yang diberinya nama MSG (Mira Super Grosir) ini bergerak di bidang penjualan barang-barang branded, seperti celana panjang, kaos, kemeja, jaket, jas, sepatu, sandal, dan sebagainya. Selain itu, di sini, Haji Alay juga menjual produk hasil kreasinya sendiri, misalnya baju muslim, baju biasa, dan lain-lain.

“Barang-barang yang ada di toko saya, memasok ke berbagai toko di luar Jakarta. Bahkan, sampai ke luar negeri, seperti Colombo, Rusia, Malaysia, dan Singapura,” jelasnya.

Saat wawancara ini dilakukan, Haji Alay telah berusia 60 tahun. Tapi, menurutnya, stamina dan daya berpikirnya masih seperti dulu, seperti waktu masih muda.

“Stamina dan daya berpikir berkurang karena tidak atau jarang dipakai. Kalau kita terus berpikir, berkreasi, dan banyak beribadah, maka semakin tua, kita akan semakin bersemangat,” ucapnya.

Hal inilah, ia menambahkan, yang ingin ia bagikan kepada teman-teman yang sudah berumur. Terutama, yang sudah pensiun. Bahwa, pensiun bukanlah akhir hidup kita. Justru, setelah itu, banyak karya yang dapat kita buat.

“Di luar negeri, orang-orang memulai karir di umur 50 tahun. Lalu, mengapa kita malah berhenti di umur 55 tahun? Padahal, di usia itu, kita masih produktif dan sangat berpengalaman,” ujarnya.

Bagi mereka yang cerdas, ia melanjutkan, begitu pensiun, tidak akan berhenti. Tapi, justru mencari apa lagi yang dapat mereka lakukan dan yang bisa membuat hidup mereka bahagia dunia–akhirat.

“Di sisi lain, jangan karena berhenti bekerja, berhenti pula beribadah. Ibadah yang dimaksud di sini yaitu muamalah atau bekerja. Allah menjadikan kita sungguh-sungguh orang yang harus berkarya. Allah berkata bahwa Aku menjadikan manusia itu untuk repot, artinya, kita tidak boleh beristirahat! Mesti bekerja!” tegasnya.

Hal itu, bukan sekadar pepesan kosong. Haji Alay menunjukkannya dengan juga terjun ke usaha properti, seperti membangun perumahan, mencari mal-mal yang “mati” untuk dihidupkan hingga ia dijuluki Dokter Mal, serta membangun sekolah setingkat SMP dan SMA yang gratis untuk anak-anak yatim dan tidak mampu.

Ia juga menaruh perhatian pada usaha pertambangan dan peternakan, selain memberi modal kepada orang-orang yang ingin berdagang. “Jangan pernah berhenti! Jadikan hidup kita bermanfaat!” ujar Haji Alay, yang telah menyerahkan kepengelolaan tokonya pada anak-anaknya.

Ya, Haji Alay memang hanya berencana ingin bermanfaat lebih banyak lagi bagi orang lain dengan berbagai cara, asalkan mempunyai uang. “Karena, dengan banyak uang akan semakin banyak orang yang dapat kita bantu,” pungkas pria, yang juga menjadi tabib dan mengajar di beberapa perguruan tinggi tentang ekonomi, kesehatan, dan energi ini.

Haji Alay membagikan kiat suksesnya:

  1. Bertemanlah (Kalau ingin berbisnis, bertemanlah dengan pebisnis).
  2. ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).
  3. Bergabunglah dalam komunitas bisnis.
  4. Sebelum membangun bisnis, bekerjalah terlebih dulu pada seseorang. Atau, belajarlah dulu sesuai dengan pilihan bisnisnya.
  5. Kelola sendiri permodalan.
  6. Kelola sendiri bisnis yang dipilih.
Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!