“Jangan Hanya Makan Makanan Yang Enak, Tapi Juga Harus Yang Sehat”

H. Amril Lubis (Aneka Ikan Asap Citayam)

Munculnya tren “jangan makan asal enak tapi juga harus menyehatkan”, membuat masyarakat mancanegara beralih ke menu makanan berbahan baku ikan. Imbasnya, kehadiran ikan asap karya Amril dianggap sebagai produk etnik Indonesia yang unik. Hingga, Aneka Ikan Asap Citayam pun, dalam perjalanannya, mampu melanglang buana

e-preneur.co. Meski harganya lebih murah, ikan juga sama gurih dan lezatnya dengan ayam, sapi, kambing, dan kerbau Selain itu, satwa air ini juga mengandung sejumlah manfaat kesehatan bagi tubuh. Karena, mengandung di antarnya omega-3 yang merupakan komponen penting dalam pembentukan otak dan omega-6 yang dapat menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.

Ikan juga dapat diolah menjadi berbagai menu makanan. Bukan sekadar dibakar, digoreng, digulai, atau dipepes, melainkan juga diolah menjadi ikan asap. Bertolak dari hal itulah, H. Amril Lubis mengolah ikan asap di “pabriknya” yang terletak di Citayam, Bogor.

Pada umumnya, pengolahan ikan asap yang masih bersifat home industry memakan waktu 24 jam–26 jam. Berbeda dengan ikan asap hasil karya Amril, yang hanya membutuhkan waktu empat jam demi alasan efisiensi, tanpa mengurangi kelezatan rasanya.

Keuntungan lain dari hasil karyanya yaitu rasio ikan yang dihasilkannya yaitu 1:1,8 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 1,8 kg ikan segar). Padahal, aslinya 1:5 (1 kg ikan asap dihasilkan dari 5 kg ikan segar).

“Tapi, dengan alasan ekonomis, biasanya saya 1:3 (menghasilkan 1 kg ikan asap dari 3 kg ikan segar). Dengan cara ini, kadar gizi ikan asap saya juga lebih tinggi,” jelasnya.

Pada dasarnya, ia melanjutkan, semua jenis ikan dapat diasapi. Terutama yang berdaging tebal, seperti Ikan Patin dan Ikan Lele (ikan air tawar), serta Ikan Marlin, Ikan Tuna, dan Ikan Cakalang (ikan air laut).

“Ikan-ikan segar yang kami ambil dari Muara Angke dan Muara Baru tersebut, kami olah secara tradisional. Dalam arti, tidak menggunakan bahan kimia dan bumbu apa pun. Sehingga, ikan yang dihasilkan asli rasa ikan tersebut,” ungkapnya.

Singkat kata, ikan asap itu lezat karena daging ikan itu memang enak. Nah, untuk menambah kelezatannya saat disantap, ia menyarankan cukup dicocolkan ke sambal instan atau sambal kecap.

Lauk siap makan ini, mampu bertahan selama setahun dan aman atau terbebas dari bau busuk. Sebab, sudah disimpan dalam lemari pendingin bersuhu –15° C. Sebelum disantap, panaskan dalam oven/microwave atau dikukus terlebih dulu.

Kelezatan ikan asap ini dihasilkan dari rasa enak asli ikan tersebut

Aneka Ikan Asap Citayam, demikian merek dagangnya, dipasarkan ke seluruh Indonesia melalui sebuah pasar swalayan. Selain itu, juga “dilempar” ke Uzbekistan, Kyoto, dan Kuala Lumpur.

Namun, ternyata, omset yang dikumpulkan Amril masih jauh lebih kecil ketimbang yang diharapkan. “Sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah), saya masih membutuhkan dukungan dana dan pemasaran,” kata pria, yang menamai usahanya Petikan Cita Halus ini.

Merunut ke belakang, setelah pensiun dari sebuah perusahaan perminyakan (tahun 2001), Amril ingin membuka usaha pembenihan ikan di 11 kolam ikannya yang masing-masing seluas 23 m² x 13 m². Di kolam-kolam tersebut, ia menebarkan benih-benih Ikan Mas, Ikan Patin, Ikan Gurame, Ikan Bawal, Ikan Nila, Ikan Lele, dan Ikan Tembakang, masing-masing sebanyak 10.000 benih.

“Saya bukan ahli perikanan, tapi cuma ingin berbisnis pembenihan ikan. Imbasnya, saya terkaget-kaget ketika 8–9 bulan setelah benih ditebarkan, saya harus memanen 5 ton ikan. Meski sudah dimanfaatkan dengan berbagai macam cara dan dibagikan kepada para tetangga, ikan-ikan ini tetap tidak habis,” tutur alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi YAPPAN, Jakarta, ini.

Untuk mendapatkan nilai tambah, pada pesta ulang tahun putrinya (tahun 2002), ia mengolah ikan-ikan tersebut menjadi ikan asap yang sebagian dibagikan kepada para tetangga. Komentar mereka, ikan asap itu enak.

Selanjutnya, ia membagikan ikan-ikan asapnya ke mantan teman-teman kantornya. “Hasilnya, mereka langsung memesan 2–3 kg,” kisah kelahiran Lubuk Sikaping, Sumatra Barat, itu.

Kabar tentang kelezatan ikan asapnya sampai ke telinga tetangganya, yang lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Selanjutnya, pada tahun 2003, Amril diajak untuk bertemu dengan dosennya guna mempresentasikan ikan asapnya.

“Saya berharap dengan pertemuan tersebut, bila nantinya saya akan mengkomersialkan ikan asap ini dan ada konsumen yang komplain, maka saya bisa memberikan jawaban,” katanya. Hasilnya, ia diangkat menjadi 43 UKM binaan IPB. Beberapa hari kemudian, ia diundang untuk mengisi stan dalam acara ulang tahun IPB.

Pada tahun 2004, dengan modal nekad, Amril mengikuti pameran produk ekspor di Kemayoran. Dalam acara tersebut, brosur dan kartu namanya sampai ke tangan ajudan Megawati, yang waktu itu menjabat presiden dan membuka pameran itu. Tiga hari kemudian, ia diundang secara resmi untuk menghadiri acara yang dihadiri para atase perdagangan RI di luar negeri.

Pada akhirnya, usaha main-main ini berubah menjadi bisnis keluarga, yang menyerap puluhan tenaga kerja dari kalangan anak-anak putus sekolah dan mantan anak jalanan. Dengan bantuan mereka dan beberapa dapur pengasapan, usaha ini setiap hari mampu memproduksi rata-rata 1 ton ikan asap.

Sayangnya, tidak semuanya dapat diserap pasar. Hingga, akhirnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberinya tempat di UKM Center Waduk Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, agar dapat diketahui masyarakat luas.

Sekitar Bulan Juli atau Agustus 2005, ketika ia diundang Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (sekarang: Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, red.) untuk mengikuti pameran di Gedung SPC, salah seorang staf Giant-Hero mengambil brosur produknya. Selanjutnya, ia diundang ke sana.

“Berdasarkan kesepakatan, saya harus memasok Ikan Pari Asap sebanyak 5 kw/minggu,” ujarnya. Tapi, ketika pasar swalayan ini tidak mampu menjualnya, permintaan tersebut hanya berjalan tiga bulan. Selanjutnya, diganti dengan berbagai ikan asap lain, seperti Ikan Marlin, Ikan Cakalang, Ikan Tuna, dan Ikan Kakap Merah.

Dalam perkembangannya, Amril juga mengirim pesanan ke Belanda sebanyak 5 ton Lele Asap per bulan dan 18 ton semua jenis ikan asap ke Timur Tengah melalui Singapura.

Apa pun kendalanya, menurut Amril, ikan asap yang dianggap produk etnik oleh masyarakat mancanegara ini, memiliki masa depan sangat bagus. Apalagi tren masyarakat sekarang yang tidak hanya makan makanan enak, tapi juga harus sehat. Jadi, tidak salahnya menjadikan ikan asap sebagai solusinya.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!