Mengatasi Persaingan dengan Standar GMP Produk Olahan

Amanah Cemilan Indonesia

Meski harus jatuh bangun dalam menjalankan usaha, Joko tidak pernah menjadikannya beban yang menghambat. Owner Amanah Cemilan Indonesia ini justru menjadikannya cambuk untuk terus maju. Hasilnya, produk usahanya telah mengisi 100 outlet

e-preneur.co. Semakin berhasil menjalankan usaha, semakin banyak pula tantangannya. Setidaknya, hal ini dialami Joko Sudarwanto.

Pada Maret 2011, ia sukses menjalankan usaha minuman jus dari buah asli. Usaha “bermerek” J-Qoe ini tersebar di 11 lokasi.

Namun, lantaran usaha ini berlokasi di pinggir jalan, maka setiap hari ia justru disibukkan dengan urusan dengan Satpol PP dan preman pasar. Imbasnya, dengan berat hati, Joko harus meninggalkan usaha yang saat itu sedang naik daun.

“Secara bisnis, lumayan menjanjikan. Tapi, saya tidak tahan mental mengurusi hal-hal yang sulit dipahami secara akal. Saya yang capek kerja, kok mereka yang dengan mudahnya mendapatkan hasilnya,” kisahnya.

Setelah menjual J-Qoe, ia beralih ke usaha camilan. Usaha yang dibangun di Medan Selayang, Medan, itu didominasi beragam Keripik Singkong dan Keripik Pisang. Lantaran, bahan bakunya mudah didapat dan pangsa pasar tidak pernah surut.

Pada awalnya, ia membeli produknya dari orang lain dalam jumlah banyak, lalu dikemas dan dipasarkan ke toko dengan sistem konsinyasi. “Dari yang semula laku rata-rata 2–3 kg/hari meningkat sampai lebih dari 10 kg/hari,” lanjutnya.

 Namun, ia harus menghadapi kendala lagi yaitu kualitas produk yang dibeli dari pihak lain itu tidak stabil. Akibatnya, banyak yang harus dikembalikan. Sehingga, ia rugi besar dan sempat berhenti berjualan.

Tapi, tidak berarti ia patah semangat. Pada Desember 2011, Joko bangkit dan memilih mengolah sendiri produknya mulai dari nol dengan memakai “merek” Amanah.

Untuk itu, ia membuat kualitas standar dan menambah varian rasa Keripik Singkongnya menjadi rasa gurih asin, balado, barbeque, dan rasa jagung. Demikian pula dengan rasa Keripik Pisangnya, menjadi rasa keju bakar, cokelat, dan original.

Usahanya tidak sia-sia. Dengan harga jual konsumen Rp5 ribu dan Rp10 ribu per bungkus, penjualannya meningkat hingga 50 kg/hari.

Lalu, ia mengembangkan produknya agar bisa dinikmati masyarakat luas, dengan memproduksi kemasan untuk warung dengan harga konsumen Rp500,- dan Rp1.000,- per bungkus. Dari sini, total penjualan naik dengan rata-rata per hari laku 150 kg. Lantas, ia menambah pekerja hingga 12 orang untuk proses produksi hingga pemasaran, dengan jumlah penyebaran ke outlet mencapai lebih dari 1.200-an.

Mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, penyimpanan, sampai pengiriman produk ke pelanggan mengikuti standar GMP

Pada April 2012, Joko menahbiskan nama usahanya menjadi Amanah Cemilan Indonesia. Sementara, untuk Keripik Singkong eceran Rp500,- diberi “nama” Keripik Balado, eceran Rp1.000,- (Super 5), serta eceran Rp10 ribu dan Rp20 ribu (Keripik Pedas Dua Cabe). Sedangkan Keripik Pisangnya, diberi “nama” Cripies dengan varian harga Rp1.000,-, Rp10 ribu, dan Rp20 ribu.

Sejatinya, dengan meningkatnya penjualan ini, ia bisa tenang. Tapi, ternyata, hambatan itu belum mau pergi. Karyawannya mulai menuntut kenaikan UMR (Upah Minimum Regional). 

Joko tidak bisa memenuhi. Karena, perhitungan omset belum bisa menutup biaya produksi, ditambah lagi adanya kenaikan BBM pada tahun 2013 itu yang berimbas pada naiknya bahan baku. Sehingga, menurunkan margin keuntungan.

“Pada Oktober 2013, saya memutuskan mengurangi produksi produk yang margin keuntungannya kecil yaitu eceran Rp500,- dan Rp1.00,-, serta mengurangi jumlah karyawan hingga tinggal enam orang,” ungkapnya.

Kemudian, ia fokus pada penjualan produk yang dibandrol Rp6 ribu ke atas. Ia menjualnya ke outlet ritel moderen yang telah menyusut menjadi sekitar 100 outlet, yang mencakup koperasi, kantin sekolah, dan toko roti.

Joko juga lebih menekankan pada produk primadona konsumen yakni Keripik Pedas Dua Cabe yang warna merah, disusul Keripik Pedas Dua Cabe yang warna hijau. “Tren Cripies keju bakar juga naik, termasuk yang rasa cokelat dan original,” ujarnya.

Meski banyak camilan sejenis, ia melanjutkan, dipastikan standarisasi yang ia gunakan dalam proses produksi membantu menjaga kualitas produknya. “Kami berusaha membuat standarisasi di setiap proses. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, penyimpanan, sampai pengiriman produk ke pelanggan dijaga semaksimal mungkin mengikuti standar GMP produk olahan,” bebernya.

Sedari usaha masih kecil, ia menambahkan, ia berusaha menerapkan proses produksi standar tinggi. “Kami memakai minyak goreng bermerek dan berlabel halal. Garam pun kami pakai yang berlabel halal. Bumbu tabur baik pedas, keju, cokelat, dan lain-lain langsung didatangkan dari produsen yang telah mempunyai sertifikat halal dan GMP/HACCP,” pungkas Joko, yang nantinya akan menambah varian-varian baru dan berharap produk Amanah Cemilan Indonesia bisa menembus pasar ekspor.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!