“Jadikan Ikhlas dan Istiqomah Sebagai Pegangan dalam Menghadapi Gempuran”

H. Zainul Fatah SH (Managing Director PT Farindo Jaya Pratama)

Jatuh dan bangun serta pahit, getir, asam, dan manisnya kehidupan harus Fatah jalani dan hadapi terlebih dulu sepanjang tahun 1988–2010, sebelum akhirnya membangun dan berhasil mengembangkan Fast Track. Menurut Managing Director PT Farindo Jaya Pratama itu, gempuran-gempuran kehidupan tersebut bisa ia lalui, karena menjadikan ikhlas dan istiqomah sebagai pegangannya

e-preneur.co. Selama ini, berbagai perusahaan ekspedisi selalu berpusat di kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta dan Surabaya. Tapi, seiring waktu berjalan, juga dapat ditemui di kota-kota kecil di luar Jawa, seperti Balikpapan. Mengingat, peluang bisnisnya masih sangat besar dan luas.

Salah satunya, PT Farindo Jaya Pratama. Perusahaan ini menaungi Fast Track, perusahaan ekspedisi yang telah menggurita dengan puluhan cabang milik sendiri, yang mencakup sebagian dari kota-kota besar dan kecil di Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Jawa, dan Bali.

Berikut, wawancara e-preneur.co dengan H. Zainul Fatah SH, Owner, Founder, sekaligus Managing Director PT Farindo Jaya Pratama.

Bisa diceritakan dari awal, sebelum membangun Fast Track?

Saya dilahirkan di Sampang, Madura, pada 9 Januari 1969 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adik saya perempuan.

Karena satu dan lain hal, sejak umur tiga bulan saya dititipkan pada Nenek. Jadi, Neneklah yang mengasuh saya. Sementara, kedua orang tua tinggal terpisah dari kami.

Tahun 1985, saya lulus dari Sekolah Menengah Pertama dan tidak berniat meneruskan pendidikan. Sebab, tidak ada biaya.

Saya memutuskan untuk bekerja. Pekerjaan pertama saya yaitu sebagai pelayan toko, tapi kenyataannya saya mengerjakan semuanya di toko itu. Serabutanlah. Pekerjaan ini, saya jalani selama tiga tahun.

Tahun 1988, saya merantau ke Balikpapan. Lantaran, saya mendengar kalau ada salah satu kerabat kami yang sukses di kota itu.

Tujuan saya ke sana untuk bekerja, untuk membantu kehidupan Nenek. Tapi, sesampainya di Balikpapan, seorang kerabat yang lain justru meminta saya untuk meneruskan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Meski, sebenarnya, saya sudah tidak mempunyai harapan bisa menerusakan sekolah lagi.

Pada tahun pertama di SMA, sambil sekolah, saya menjalani pekerjaan seperti pembantu rumah tangga di rumah kerabat saya itu. Sementara, untuk menambah uang saku, saya mengajar mengaji.

Pada tahun kedua, kerabat saya itu sudah tidak mampu lagi membiayai sekolah saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar dari rumah mereka.

Selanjutnya, saya bertanya ke banyak orang: siapakah Orang Madura yang paling sukses di Balikpapan?

Sebelum bertemu dengan orang itu, saya tidur di kuburan. Untuk menyambung hidup, saya menjadi muadzin (orang yang mengumandangkan adzan, red.) dan membacakan doa ketika ada orang-orang yang berziarah. Itu saya jalani selama tiga bulan.

Akhirnya, saya memperoleh informasi tentang Orang Madura yang paling sukses di kota ini. Tapi, ternyata, dia orang Malang. Lantas, saya bekerja untuknya sebagai pembantu rumah tangga. Kondisi ini, saya jalani selama dua tahun.

Tahun 1991, saya lulus SMA. Saat itulah, saya memutuskan untuk kuliah dan keluar dari rumah tersebut. Kalau hal ini tidak saya lakukan, saya tidak akan pernah mandiri.

Lalu, saya masuk ke Fakultas Hukum, Universitas Balikpapan. Saya ingin menjadi pengacara. Tapi, pada semester I–II, kadangkala saya ingin berhenti kuliah.

Berkat dorongan teman-teman, akhirnya saya meneruskan kuliah. Apalagi, kemudian, oleh kampus, saya diberi pekerjaan sebagai tukang fotokopi. Pekerjaan ini saya jalani selama tiga tahun.

Sementara untuk makan, saya sudah mempunyai jadwal. Dalam arti, hari ini makan di rumah A, besok di rumah B, lusa di rumah C, dan begitu seterusnya.

Lantas, sambil kuliah, saya juga bekerja pada sebuah perusahaan sebagai office boy. Hal ini, saya jalani sepanjang tahun 1991–1992. Saya juga pernah bekerja di bagian marketing sebuah perusahaan lain selama enam bulan, sebelum akhirnya pindah lagi ke perusahaan yang lain lagi.

Saya pernah berjanji pada diri sendiri, tidak akan pulang kampung sebelum selesai kuliah dan mempunyai jabatan di kantor. Sekali pun, orang tua saya meninggal.

Mungkin, Allah mendengar tangisan saya ini dan diberiNya saya jalan dengan diterima di sebuah perusahaan. Kendati, pada saat kos, ternyata saya harus satu tempat dengan kandang ayam.

Di perusahaan ini, saya bekerja sebagai kurir motor selama delapan bulan. Selanjutnya, posisi saya naik menjadi customer service, marketing, sampai akhirnya (tahun 1996) saya menempati posisi sebagai kepala cabang untuk Samarinda.

Pada tahun ini pula, saya lulus kuliah dan setahun kemudian menikahi KW Mustikorini. Tahun 2000, saya ditarik kembali ke Balikpapan. Menjadi kepala cabang selama delapan tahun, saya pun memperoleh penghargaan sebagai kepala cabang terbaik.

Tahun 2010, atas dorongan banyak pihak dan juga melihat kemampuan kerja saya selama 16 tahun, serta setelah mengikuti Entrepreneur University, saya pun semakin merasa mantap untuk keluar dari perusahaan ini. Tapi, untuk itu, saya selalu komunikasi dengan Yang Di Atas, selain dengan istri.

Saya bertanya kepada istri, bagaimana kalau saya keluar dari kantor ini. Istri saya menyarankan agar kami mempersiapkan kehidupan kami selama 3–6 bulan ke depan terlebih dulu. Dalam arti, jangan asal keluar. Dari situ, saya semakin terpacu hingga akhirnya saya keluar dari perusahaan ini dan membangun Fast Track.

Kapan Fast Track dibangun?

Pada mulanya, saya membangun Fast Track di sebuah garasi pada Juli 2010, dengan modal awal Rp50 juta. Modal ini, dihasilkan dari hasil kerja saya selama bertahun-tahun (Dengan hasil kerja kerasnya ini pula, pada akhirnya Fatah bisa menepati janjinya untuk pulang kampung. Selain itu, ia juga berhasil membiayai kuliah istrinya hingga meraih gelar sarjana ekonomi).

Enam bulan kemudian, saya mampu membeli sebuah rumah toko yang terletak di Sentra Eropa, Balikpapan Baru, Balikpapan, yang sekarang menjadi kantor pusat Fast Track dengan harga Rp1,5 milyar. Pembukaan Fast Track di lokasi ini pada 17 Desember 2010, sekaligus menjadi hadiah ulang tahun untuk istri saya.

Sekadar informasi, PT Farindo Jaya Pratama, saat ini berlokasi di Komplek Mandiri, Sepinggan, Balikpapan Selatan, Balikpapan. Sedangkan Graha Fast Track, berlokasi di Kompleks Her Mandiri, Sepinggan, Balikpapan.

Belajarlah terlebih dulu bagaimana caranya agar mental bisa kuat, sebelum menjadi pengusaha

Apa sih Fast Track?

Fast Track merupakan usaha di bidang kargo atau ekspedisi, yang melayani pengiriman barang dan tidak hanya fokus atau terbatas pada barang-barang atau moda tertentu, tapi melayani semua jenis barang (kurir, logistik, barang pindahan, dan sebagainya) baik lewat darat, laut, maupun udara.

Fast Track itu sendiri berarti Jalur Cepat. Maksudnya, kami selalu berusaha menjadi yang tercepat. Karena itu, kami selalu memilih jalur-jalur yang dimungkinkan untuk cepat ke tujuan.

Selain itu, Fast Track memberikan pelayanan 24 jam dan garansi kalau terlambat dari jadwal yang dijanjikan. Demikian pula, jika barang hilang/rusak. Tentu saja, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Mengapa bidang ekspedisi yang menjadi pilihan bisnis Anda?

Fast Track dibangun dengan pertimbangan bisnis kargo cukup menarik. Dari sisi peluang juga besar sekali.

Faktanya, Fast Track sudah memiliki puluhan cabang yang semuanya milik sendiri. Cabang-cabang itu tersebar di Balikpapan, Samarinda, Berau, Tarakan, Bontang, Banjarmasin, Makassar, Jakarta, Surabaya, Denpasar, Jambi, Solo, dan Yogyakarta, serta Semarang.

Mengapa melakukan pelebaran cabang?

Saya menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan di mana perusahaan-perusahaan itu mempunyai cabang-cabang. Nah, di mana cabang mereka berada, di situlah kami juga membuka cabang. Sebab, hal itu, akan mempermudah akses informasi.

Namun, membuka cabang itu tidak mudah. Mengingat, perlu persiapan, market, dan dana. Tapi, jika nantinya ada cabang yang tutup, itu bukan masalah.

Karena, dengan pernah membuka cabang di lokasi tersebut, berarti kita sudah meninggalkan nama. Selanjutnya, tinggal mengajak orang-orang menjadi mitra. Dan, cabang yang telah ditutup akan diganti dengan kemitraan.

Masih adakah masalah? Bagaimana mengatasinya?

Selalu ada. Seperti, human error dan sumber daya manusia (SDM) yang keluar masuk. Tapi, meski hal ini dianggap sebagai sesuatu yang sudah di luar kendali, kami selalu menerapkan Standard Operating Procedure, evaluasi, dan perbaikan agar dijalankan.

Untuk masalah yang bersifat eksternal, tetap ada pencegahan atau tindakan-tindakan yang dianggap perlu. Sehingga, pelayanan dan kepuasan pelanggan harus tetap dikedepankan.

Pada intinya, kami tetap mencari solusi dari setiap masalah. Hasilnya, kami dapat menekan kesalahan atau meminimalkan risiko.

Sementara konsep kerja yang saya terapkan di sini yaitu konsep kekeluargaan. Komunikasi harus selalu dilakukan. Sekecil apa pun suatu permasalahan harus dikemukakan, sehingga dapat dicari solusinya. Sedangkan untuk kesejahteraan karyawan, saya ikutkan mereka ke Jamsostek (sekarang: BPJS Ketenagakerjaan, red.).

Di sisi lain, saya selalu memberi motivasi ke teman-teman pengusaha bahwa karyawan itu jangan dianggap sebagai karyawan saja, melainkan juga owner di mana besar tidaknya perusahaan juga tergantung pada mereka.

Kalau gempuran-gempuran, terutama dari para pesaing, bagaimana mengatasinya?

Itu biasa saja. Tergantung, sejauh mana kekuatan kita. Menjadi pengusaha harus belajar terlebih dulu bagaimana caranya agar mental bisa kuat. Kalau mental tidak kuat, apa yang akan terjadi justru akan membuat stres.

Gempuran-gempuran dari pesaing itu banyak. Bahkan, karyawan kami keluar, lalu membangun sendiri. Tapi, itu tidak apa-apa bagi kami. Justru, membuat kami introspeksi untuk mengetahui di mana sebenarnya kekuatan kami.

Saya tidak menganggap para pesaing sebagai musuh, tapi mitra. Di sisi lain, masalah rezeki itu sudah ada yang mengatur kok.

Dalam menghadapi gempuran, secara pribadi, yang saya jadikan pegangan pertama hanyalah ikhlas. Dengan ikhlas, saya berpikir pasti ini ada hikmahnya.

Namun, bicara ikhlas berarti bicara dengan hati dan itu tidak bisa diganggu gugat. Kedua, istiqomah (konsisten dan komit, red.).

Selain itu, harus ada support dari istri. Karena, usaha apa pun tanpa ada izin dari keluarga (baca: istri/suami, red.) tidak akan mungkin bisa berjalan. Hal ini, sudah saya rasakan. Ke mana pun saya melangkah, saya akan bertanya pada istri.

Baik istri maupun suami yang akan membuka bisnis tanpa support atau izin dari keluarga, tidak bakalan berhasil. Ini hal penting sekali, yang harus saya sampaikan kepada teman-teman yang baru atau akan memulai usaha.

Seberapa besar peran istri (dan juga Ibu) dalam kehidupan Anda?

Support-nya luar biasa. Meski, kadang-kadang dia tidak men-support saya ketika saya ingin membuka suatu usaha baru.

Di sisi lain, saya selalu mengajarkan kepada teman-teman, jika dalam berbisnis, cobaan muncul silih berganti, sujud dan ciumlah kaki Ibu kita, serta meminta restunya sebelum membuka usaha. Bagi saya, Ibu itu nomor satu. Tidak tergantikan.

Bagaimana prospek bisnis ekspedisi pada umumnya?

Menjanjikan! Selama orang masih mempunyai kantor dan ada yang harus dikirimkan, maka selama itu perusahaan pengiriman barang masih dibutuhkan. Perusahaan kargo baru bisa mati, setelah perusahaan-perusahaan yang membutuhkan jasanya mati.

Bagaimana prospek Fash Track?

Bicara tentang market-nya, market Fash Track berada di tengah-tengah berbagai perusahaan ekspedisi nasional maupun lokal.

Ke depannya?

Pengembangan SDM dan jangkauan bisnis di seluruh Indonesia dengan sistem cabang sendiri maupun franchise. Di luar itu, saya membangun Taman Pendidikan Alquran (Sebelumnya, Fatah telah membangun masjid dengan biaya Rp3,5 milyar, musholla, pesantren, dan panti jompo, di samping membuatkan orang tuanya rumah dua lantai di kampung halamannya) dan ingin membahagiakan keluarga, termasuk orang tua saya.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!