Membesar Karena Tidak Membatasi Target Market

Hayashi Toys Mart

Anak-anak merupakan target market paling empuk dalam dunia bisnis. Sementara boneka, identik dengan anak-anak. Tapi, tidak begitu dengan Hayashi Toys Mart. Perusahaan pembuatan dan distributor boneka milik Anang ini, justru tidak membatasi target market-nya agar bisa menjadi semakin besar

e-preneur.co. Seiring waktu berjalan, boneka yang dulu identik dengan mainan anak-anak, kini juga disukai orang-orang dewasa. Berkaitan dengan itu, Hayashi Toys Mart atau Hayashi (usaha yang bergerak di bidang pembuatan, distribusi, dan pelatihan pembuatan boneka, red.), tidak hanya menjadikan anak-anak sebagai target market-nya.

“Hayashi tidak akan mungkin bisa menjadi besar, kalau target market-nya cuma anak-anak. Bahkan, konsumen Hayashi lebih banyak orang dewasa. Pengalaman Hayashi selama belasan tahun yang tidak membeda-bedakan pasar, telah membuktikan hal itu,” jelas Anang Sujana, pemilik Hayashi Toys Mart.

Hayashi, Anang melanjutkan, baru menguasai sekitar 3% market boneka. Artinya, masih ada 97% market dari lebih 270 juta penduduk Indonesia yang belum dimasuki. “Jadi, terlalu sedikit jika Hayashi hanya fokus pada anak-anak,” imbuhnya.

Namun, Anang mengakui bahwa bisnis yang menyasar anak-anak lebih mudah dalam pemasarannya. Karena, mereka begitu gampang tertarik ketika melihat yang lucu-lucu. Dengan demikian, tidak mengherankan, jika banyak pelaku usaha pemula di bisnis ini atau yang belum menemukan pasar, menjadikan anak-anak sebagai target market.

“Tapi, idealnya, kita tidak boleh membatasi diri. Mengingat, ruang lingkupnya akan terlalu kecil. Untuk Hayashi, meski bergerak di bisnis yang dekat dengan anak-anak, sesungguhnya bisnis ini untuk semua konsumen,” tegas pria, yang tidak menamatkan pendidikannya di STIE Kusuma Negara ini.

Kelahiran Bogor, 5 Juni 1969 ini juga mengakui, jika sebuah bisnis yang menjadikan anak-anak sebagai target market akan mampu mendongkrak omsetnya atau lebih laku. “Untuk bisnis yang menyasar anak-anak, kita harus mengikuti tren. Terutama yang sedang ditayangkan TV. Kalau kita banyak mengambil model dari situ, maka itulah yang paling laku,” ujarnya.

Namun, ia menambahkan, Hayashi tidak pernah mengikuti tren. Karena, Hayashi ingin laku setiap hari, bukan hanya disukai anak-anak, atau laku pas musim/tren saja.

Dekat dengan anak-anak, tapi untuk semua konsumen

Imbasnya, dengan total produksi sekitar 1.000 pieces/hari selama 25 hari kerja, Hayashi tetap belum bisa memenuhi pesanan. Untuk itu, Hayashi pun membentuk kemitraan dengan mengajari orang-orang yang berminat dengan ilmu yang Anang miliki. “Lalu, hasil buatan mereka ditampung Hayashi,” ungkap pria, yang membangun Hayashi dengan modal awal Rp500 ribu ini.

Di awal menawarkan kemitraan, tercatat Hayashi memiliki 13 mitra produksi yang tersebar tidak jauh dari induknya yaitu pabrik Hayashi yang terletak di Jalan Blue Safir Raya, Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat. Selain itu, Hayashi juga memiliki mitra toko yang jumlahnya sekitar puluhan dan tersebar di seluruh Indonesia.

Perjanjian kemitraan ini berlangsung selama tiga tahun. Tapi, jika dalam tempo setahun kerja sama mitra sudah bisa berjalan sendiri, mitra diperbolehkan untuk melepaskan diri dengan menggunakan nama toko sendiri. Sementara, kalau produk tidak laku, boleh ditukar.

Apa sih keunggulan Hayashi? “Pertama, bargaining position-nya selalu lebih tinggi. Bagi kami, pembeli bukan raja, melainkan partner. Jadi, pembeli tidak bisa mendikte,” tegasnya.

Kedua, kualitas produk lebih bagus, proses pembuatan lebih cepat, dan harga lebih murah di mana hal itu dibuktikan dengan orderan yang selalu banyak hingga ada yang harus tolak. “Memang ada yang lebih murah, tapi isi di dalamnya berbeda. Sementara dikatakan lebih cepat, berbeda dengan pabrik lain yang terus-menerus membuat boneka, Hayashi pagi membuat boneka, sorenya boneka-boneka itu sudah dijual. Jadi, seperti menjual kue,” lanjutnya.

Sementara sistem penjualannya menggunakan berbagai macam cara, asalkan menghasilkan uang. Seperti ritel, grosir, kemitraan, datang langsung, atau dikirimkan. Untuk pengiriman, Hayashi yang dijual dengan harga Rp5 ribu–Rp1,5 juta per boneka ini memberikan minimal order 1 koli atau senilai Rp2,5 juta plus ongkos kirim.

Dengan pemasarannya yang sudah ke seluruh Indonesia secara online, Anang menegaskan prospek bisnis Hayashi sangat bagus!

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail