Mengolah Limbah Organik Menjadi Pewarna Kain

Pewarna Alami (Creative Kanawida)

Pada dasarnya, apa pun yang disediakan oleh alam pasti ada gunanya. Karena itu, tanpa ragu sedikit pun, Rini sering memunguti limbah organik di mana pun ia berada. Selanjutnya, mengolahnya menjadi pewarna kain. Imbasnya, produk-produknya yang berlabelCreative Kanawida diminati konsumen dalam negeri maupun mancanegara

e-preneur.co. Ketika batik merajai dunia kain di Indonesia, bangsa kita menggunakan pewarna kain yang terbuat dari bahan alam (baca: pewarna alami, red.). Tapi, dalam tempo terbilang singkat, keberadaan pewarna alami itu digantikan oleh perwarna kain dari bahan kimia (baca: pewarna kimiawi, red.).

Sebab, pewarna kimiawi lebih mudah proses pewarnaannya dan lebih tahan lama. Lebih dari itu, jauh lebih mudah diperoleh ketimbang pewarna kain dari secang, indigo, jelawi, jambal, dan lain-lain tersebut.

Namun, kemudian, diketahui bahwa limbah pewarna kimiawi dapat merusak (salah satunya) air tanah dan berefek negatif terhadap pemakainya (menyebabkan kanker, red.). Kondisi ini, membuat pewarna alami terpicu untuk hadir lagi.

Bahkan, jumlah warnanya semakin lama semakin bertambah banyak. Sebab, semakin banyak pula orang yang melakukan percobaan terhadap segala yang terdapat di alam ini. Hingga, muncullah pewarna kain dari daun dan kulit mangga, serta kulit, daun, dan biji rambutan, kulit manggis, kulit jengkol, akar-akaran, kulit pohon mahoni, alang-alang, kecapi, dan sebagainya. 

Apalagi, ternyata, masing-masing bahan baku dari alam itu tidak hanya mengeluarkan satu warna, tapi banyak warna. Tergantung pada penguatan warna (fiksasi). Contoh, daun mangga dapat menghasilkan warna kuning, cokelat, dan hijau. Sedangkan kulit rambutan mampu menghasilkan warna cokelat.

Ketika kain sutra, katun, atau kain dari serat nanas dicelupkan ke dalam pewarna dari daun mangga, maka kain-kain tersebut akan berwarna kuning. Namun, ketika difiksasi ke dalam air tawas akan berubah menjadi kuning muda, difiksasi ke dalam air kapur akan berubah menjadi kuning atau cokelat, dan ketika difiksasi ke dalam cairan asam akan berubah menjadi hijau atau abu-abu.

Tidak hanya mengeluarkan satu warna, tapi banyak warna

Di samping fiksasi, bahan baku kain yang berbeda akan menghasilkan efek warna yang berbeda pula. “Untuk kainnya, saya juga menggunakan bahan baku dari alam. Karena, pewarna alami hanya dapat diserap oleh kain-kain yang juga terbuat dari bahan alam, seperti kapas, sutra, serat nanas, dan sebagainya,” kata Sancaya Rini, pemilik Creative Kanawida, usaha tenunan dari serat dan pewarna alami.

Untuk itu, perempuan yang akrab disapa Rini ini mendapat pasokan dari pengrajin dan penenun kain dari berbagai daerah, dengan spesialisasi mereka masing-masing. Misalnya, untuk kain dari kapas dipasok dari Tuban (Jawa Timur), kain dari serat nanas dan sutra dari Pemalang dan Pekalongan (Jawa Tengah), serta kain dari serat batang pisang dari Pemalang.

Selanjutnya, setelah mengalami pewarnaan dengan pewarna alami, kain-kain itu dibentuk menjadi kap lampu, sarung bantal, tirai, selendang, pakaian, kain panjang, syal, kerudung, cover bed, dan lain-lain. “Produk-produk ini, saya titipkan ke beberapa galeri di Kemang. Saya juga menerima pesanan dari Jerman dan Jepang, yang dipesan melalui website saya,” ujarnya.

Namun, untuk pewarna alami buatannya, sarjana pertanian dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini belum mampu memasarkannya. Karena, dibutuhkan modal yang tidak sedikit untuk itu.

“Untuk membentuk pewarna alami seperti pewarna kimiawi dibutuhkan bantuan teknologi tinggi dan rumit. Tapi, kalau ini terwujud, nantinya saya akan membuatnya dalam bentuk powder,” ungkap Rini, yang juga berencana membuat ecoproduct dengan harga terjangkau dan pakaian jadi.

Pewarna alami, ia melanjutkan, memang memiliki keunggulan berupa ramah lingkungan, tidak membawa efek samping bagi pengrajinnya, dan terasa sejuk dipandang. Tapi, juga memiliki kelemahan yaitu proses pewarnaannya lebih lama (lima kali lebih lama daripada dengan menggunakan pewarna kimiawi, red.).

Selain itu, beberapa warna yang dihasilkan lebih mudah lusuh. “Untuk mengatasi warna yang mudah lusuh ini, saya mencampur warna-warna yang kurang kuat dengan yang sedikit lebih kuat,” bebernya.

Merunut ke belakang. Awalnya, Rini sekadar belajar membatik. Lalu, ia disadarkan oleh suaminya akan bahaya limbah pewarna kain yang digunakannya bagi air tanah. Lantas, ia mengganti bahan dasar pewarna batik karyanya, dengan membeli pewarna alami di sebuah tempat di Yogyakarta.

“Karena merasa tidak mungkin ke kota ini setiap kali saya membutuhkan bahan pewarna kain, terpikir oleh saya bahwa kemungkinan di sekitar saya juga banyak bahan alam, yang dapat digunakan sebagai pewarna,” tutur perempuan, yang memulai bisnis ini pada tahun 2006 di rumah sekaligus home industry-nyadi Pamulang, Tangerang Selatan.

Ia juga terinspirasi oleh sebuah ayat dalam Al-Qur’an, yang intinyasegala sesuatu yang ada di muka bumi ini pasti ada gunanya. “Lalu, saya pun melakukan eksperimen,” ucap perempuan, yang mendapatkan bahan baku pewarna kainnya secara gratisan ini.

Hasilnya, dari manggis busuk yang sudah tidak dapat dikonsumsi orang, ia bisa menghasilkan sebuah warna. Bahkan, dari kulit semacam pohon eucalyptus yang ia kelupas, bisa dihasilkan warna oranye.

“Kesimpulannya, semua yang ada di alam ini harus dicoba. Karena, kemungkinan dapat diolah menjadi pewarna,” pungkas Rini, yang setiap produknya berciri khas memuat warna merah olahan dari secang.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!