Bertahan dengan Kesederhanaan Menu

Nasi Uduk Babe Saman

Makan berhubungan dengan enak atau tidaknya rasa masakan. Bukan masalah asli atau tidaknya. Dan, warung makan yang masakannya enak tentulah banyak pengunjungnya. Prinsip inilah, yang dipegang teguh Zainal dengan mempertahankan resep warisan Ayahnya. Imbasnya, pengunjung terus mendatangi Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman

e-preneur.co. Jangan sepelekan Pedagang kakilima (PKL). Sebab, sebagian besar dari mereka―dalam perjalanannya―berhasil menjadi juragan kaya raya.

Salah satunya, Zainal Arifin. Ia bukan hanya melanjutkan usaha yang telah susah payah dibangun oleh sang Ayah, melainkan juga menjadikan Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman terkenal hingga ke Banjarmasin.

“Ayah saya membangun usaha ini dari nol. Sebagai anaknya, saya hanya tinggal melanjutkan. Begitu pun dengan saudara-saudara saya yang lain, yang juga ikut mengelola usaha ini,” tutur Zainal.

Merunut ke belakang, pada mulanya, Babe Saman membuka warung Nasi Uduk di sebuah rumah petak di pinggir jalan pada tahun 1963. Di awal merintis usahanya, ia harus menghadapi pahit getir dalam menjalankan roda usaha.

Seperti, digusur oleh aparat trantib (ketentraman dan ketertiban) sampai sejauh kurang lebih 100 m dari tempat saat ini. Imbasnya, mereka memutuskan pindah ke lokasi ini pada tahun 1984 sampai sekarang. Selain itu, Babe Saman juga harus menghadapi persaingan antara sesama pedagang Nasi Uduk.

 “Saya dan saudara-saudara saya, memang tidak terlalu merasakan bagaimana susahnya membangun usaha ini. Tapi, kami tetap memutar otak agar usaha ini tidak runtuh di tangan generasi kami,” katanya.

Masalah “kejar-kejaran” dengan petugas Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja), memang tidak terjadi lagi terhadap para pedagang Nasi Uduk di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, ini. Sebab, sekarang, lokasi ini bagian dari gedung pasar.

Yang enak masakannya, yang banyak pengunjungnya

Namun, ia tetap harus menghadapi masalah persaingan antara sesama pedagang Nasi Uduk yang kian ketat. Sekadar informasi, kini, kawasan Kebon Kacang telah dipenuhi puluhan pedagang Nasi Uduk yang menyajikan menu sejenis. Untuk itu, Zainal harus berstrategi bagaimana membuat Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman bisa tetap berjalan.

Untuk mempertahankan usaha yang juga sudah tersebar hingga Riau itu, ternyata Zainal hanya mengandalkan kesederhanaan menu-menu yang sudah dihadirkan sejak Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman dibuka. Ia merasa cukup dengan cuma membuat Nasi Uduk Ayam Goreng senikmat mungkin, sesuai dengan resep turunan dari sang Ayah.

Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman menyajikan Nasi Uduk yang dibungkus daun pisang, lalu dibentuk kerucut. Sementara semua lauk pauknya digoreng, seperti Ayam Goreng dan jeroannya (hati, ampela, usus dan jantung), babat, empal, dan paru sapi, serta udang. Sedangkan menu tambahannya, hanya Asinan Betawi.

Untuk sambal yang menjadi primadonanya, juga tidak banyak berubah dari dulu hingga sekarang yaitu Sambal Kacang. Kalau pun ada penambahan menu (yang dilakukan pada tahun 1990-an, red.), cuma berupa Sambal Goreng, serta tahu dan tempe goreng. Sedangkan minumannya, Zainal hanya menyediakan teh dan jeruk yang bisa dipesan dingin atau hangat.

 “Mengapa takut dengan orang-orang yang mengklaim Nasi Uduk mereka yang asli. Bagi saya, yang penting laku. Selama pelanggan masih suka dengan resep Nasi Uduk Babe Saman, urusan asli atau bukan itu tidak penting. Toh, akhirnya, pelanggan sendiri yang menilai Nasi Uduk mana yang enak,” tegasnya.

Dan, ucapannya memang terbukti. Pelanggan Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman tidak hanya didominasi generasi sepuh yang saat Zainal masih kecil setia berkunjung, tapi juga disinggahi generasi milenial.

“Saya tidak tertarik menyediakan menu baru. Saya tetap mempertahankan kesederhanaan. Sederhana saja tetap dicari orang, kan?” ujarnya.

Setiap hari, Zainal dengan dibantu para karyawannya mesti menyiapkan 100 ekor daging ayam berikut jeroannya untuk dijajakan pukul 17.00−24.00. Tapi, biasanya, sebelum jam tutup warung, semua menu sudah habis terjual dan para pelanggan yang kehabisan terpaksa gigit jari.

“Nasi uduk yang biasanya paling cepat habis. Dan, kalau sudah habis, meski lauk masih tersedia, biasanya pelanggan langsung pergi,” pungkasnya. Imbasnya, omset ratusan juta pun dibukukan setiap bulannya. Sebuah angka yang terbilang fantastis untuk ukuran PKL.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!