Keju Rumahan yang Kualitasnya Sangat Dijaga

Trie’s Cheese

Produk rumahan seringkali diidentikkan dengan murahan. Tapi, Trie menepis anggapan itu dengan menghasilkan Trie’s Cheese yang kualitasnya sangat dijaga. Salah satunya yaitu bahan bakunya berupa susu murni. Imbasnya, dapat dijadikan alternatif keju di antara kepungan keju-keju pabrikan 

e-preneur.co. Tahukah Anda, bila keju berskala rumahan dapat dibuat hanya dengan modal tidak lebih dari Rp300 ribu? Selain itu, saking gampangnya, cukup menggunakan peralatan dapur. Ironisnya, kalau boleh dibilang begitu, mereka yang “bermain” di keju rumahan ini, jumlahnya masih dalam hitungan jari tangan sebelah.

Namun, bagi Tri Haryanto, hal ini justru dianggapnya celah usaha yang masih terbuka sangat lebar atau belum mempunyai pesaing. Lalu, pria yang akrab disapa Trie ini pun, melakukan trial and error pada Juni 2010. Pada April 2011, ia baru berani menjualnya di bawah bendera Trie’s Cheese.

“Modalnya cuma Rp300 ribu. Karena, saya masih menggunakan peralatan dapur milik istri. Dan, hasilnya sebanyak 15 lt,” kisah Trie, yang membangun usahanya di kediamannya yang terletak di kawasan Grand Depok City, Depok.

Pada mulanya, Trie’s Cheese menghasilkan dan memasarkan empat jenis keju. Pertama, edam yang merupakan keju bertekstur keras dan asal muasalnya dari Kota Edam, Belanda. Di Indonesia, keju ini biasanya digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan kue kering. “Saya memberinya merek Deep Oak Edam Cheese,” tuturnya.

Kedua, mozzarella yaitu keju basah yang kalau dipanggang akan meleleh. Biasanya, keju yang asal muasalnya dari Italia ini digunakan dalam pizza, pasta, lasagna, dan lain-lain. “Keju ini saya beri brand Mozzaretrie,” lanjutnya.

Ketiga, cream cheese atau keju yang berbentuk seperti ice cream. Biasanya, dioleskan pada roti, kue, atau biskuit. Trie menamai produknya ini Trie’s Cream Cheese.

Keempat, paneer yang merupakan keju khas India, Pakistan, Iran, dan sekitarnya. Keju yang sangat simpel dan fleksibel ini, di India biasanya dimasak kari atau gulai. Di Indonesia, dikenal sebagai keju yang biasanya dipotong-potong dadu. Trie menamainya Paneeretrie.

Bukan produk murahan

Nama-nama yang disematkan pada keju itu, sengaja dibuat oleh sarjana Bahasa Inggris, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta ini, untuk menghindari “pertemuan” dengan keju buatan pabrik. Dengan demikian, dihasilkan ceruk pasar yang berbeda.

“Pasar kami, sebagian besar masih end user atau mereka yang membeli untuk dikonsumsi sendiri. Pada momen-momen tertentu, misalnya lebaran, konsumen biasanya membeli dalam kapasitas lebih besar daripada biasanya,” ungkap pria, yang berproduksi dua hari sekali untuk setiap jenis keju dengan hasil akhir sebanyak kira-kira 5 kg.

Demikian pula, dengan masalah harga. Contoh, keju edam buatan pabrik disebut cheddar. Keju yang sering digunakan para pedagang martabak atau roti bakar ini dihargai kurang lebih Rp60 ribu–Rp70 ribu per kilogram, sedangkan edam Trie’s Cheese dihargai Rp140 ribu/kg.

“Edam buatan saya tidak dapat dipersaingkan dengan buatan pabrik. Tapi, lebih tepat dengan edam buatan Belanda, yang biasa ditemui di berbagai toko yang kerap dikunjungi kalangan ekspatriat,” ujarnya, tanpa bermaksud sombong.

Sebab, ia menambahkan, Trie’s Cheese bukan sekadar keju, melainkan produk rumahan yang harganya tidak murahan. Karena, kualitasnya sangat dijaga. Salah satu buktinya yaitu menggunakan susu murni.

Namun, sayangnya, Trie’s Cheese belum merambah pasar yang saat ini dikuasai keju pabrikan. Karena, kelahiran Purwokerto, 24 Juni 1968 ini lebih memilih fokus di product development atau lebih tepatnya penyempurnaan produk.

Meski begitu, ia tetap memiliki target yaitu masuk ke para produsen kue rumahan yang tersebar di Jabodetabek. Mengingat, jumlah mereka sangat banyak dan produk mereka bertebaran di mana-mana.

“Sekali pun cuma produk rumahan, tapi kapasitas produksi mereka luar biasa. Bisa mencapai 5.000 pieces/hari,” ujarnya. Selain itu, mitra binaan UKM Center FE‒UI ini juga menjual keju-kejunya dari satu bazar ke bazar berikutnya dan melalui milis natural cooking club.

Ke depannya? “Saya ingin membangun integrated cheese house di mana konsumen yang datang dapat membeli keju dan produk olahannya yang siap santap. Saya akan membangunnya di kota-kota yang banyak dikunjungi wisatawan, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Bogor,” katanya.

Sementara berbicara tentang prospek, menurutnya, konsumsi keju dari tahun ke tahun akan meningkat. Mengingat, anak-anak zaman sekarang semakin menggemari keju, sementara makanan dengan tambahan keju semakin mudah diperoleh.

“Kendati, yang mendapat keuntungan para importir. Sebab, yang dikonsumsi masyarakat masih keju ‘asing’. Tapi, saya tidak kuatir jika harus bersaing dengan mereka. Ini sebuah pilihan dan silahkan Anda memilih,” pungkasnya.

Dalam perkembangannya, Trie menghasilkan keju-keju lain. Di antaranya, halloumi (Trie memberinya nama Olivetri, red.) yaitu keju segar khas Cyprus yang kemudian populer di Yunani, Turki, Lebanon, dan Syria. Berikutnya, black mozzarella yang diberinya nama Mozzanero.

Facebooktwittergoogle_plusmailFacebooktwittergoogle_plusmail
error: Content is protected !!