Meraih Generasi Muda dengan “Bermain” di Kasual

Brahmani Batik

Rasa cinta Wiwid terhadap kain batik, membuatnya mengubah busana batik dari yang lebih banyak dipakai untuk ke kantor atau acara-acara resmi menjadi busana ready to wear. Khususnya, bagi anak-anak muda. Untuk itu, Brahmani Batik pun lebih banyak bermain di kasual dilihat dari warna, motif, dan desainnya. Imbasnya, produk ini mampu merambah seluruh Indonesia

e-preneur.co. Rasa cinta terhadap batik bisa memunculkan ide bisnis. Setidaknya, itulah yang terjadi pada Wiwid Anggoro.

Pada lebaran 2010, Wiwid pulang ke Solo. Tepatnya, ke rumah Eyangnya yang juragan batik “bermerek” Wiryomartono. Di sini, kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1983 ini tertarik dengan kain-kain batik sang Eyang.

Lalu, ia “mengambilnya” (Jawa: kulakan, red.) untuk nantinya dijual ke Jakarta. Ternyata, usahanya berjalan lancar. Apalagi, sekitar tahun 2009–2010, batik sedang booming.

Dalam perjalanannya, di antara sekian pelanggannya, ada yang menanyakan apakah Wiwid juga menjual baju. “Sebenarnya tidak ada. Tapi, karena aku anggap ini peluang, aku bilang ada. Selanjutnya, bajunya aku ambil dari orang lain,” kisah Wiwid, yang membuat baju untuk dipakai sendiri dari kain-kain batik yang tidak terjual/tidak laku.

Namun, kemudian, para pelanggan tersebut justru “meminta” baju seperti yang dipakai Wiwid. “Dari situlah, aku mulai menerima pesanan yang berlanjut membuat baju untuk orang-orang yang ingin tampil muda dan memasarkannya secara online,” tambahnya.

Lalu, sekitar tahun 2011, Wiwid membuka outlet di Thamrin City, Jakarta Pusat, dengan nama Brahmani Batik. Pertimbangannya, sebagian dari orang-orang yang ingin memesan baju pasti ingin datang ke rumahnya, lantas mereka akan kesulitan mencari alamatnya, sementara di rumah mereka akan bertemu dengan anak-anaknya, dan sebagainya.

Modelnya sepanjang masa dan variatif. Sehingga, bisa dipakai dalam berbagai acara

“Tapi, sebenarnya, Brahmani Batik merupakan proyek idealisku. Dimulai dari kecintaanku terhadap batik, kemudian timbul keinginan untuk membuat kain batik menjadi busana, yang bisa dipakai anak-anak muda. Semacam busana ready to wear bagi mereka. Mengingat, selama ini, busana batik lebih banyak dipakai untuk ke kantor atau acara-acara resmi,” ungkap Wiwid, yang menanamkan modal sebesar Rp15 juta dalam usaha ini.

Jadi, sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia ini melanjutkan, tidak hanya setelah mereka tua atau masuk dunia kerja baru memakai baju batik dan itu pun karena terpaksa. “Tapi, lebih karena mereka cinta batik dan melihatnya sebagai identitas bangsa mereka,” tegasnya.

Dengan target market anak-anak muda atau mereka yang berjiwa muda (berumur 20 tahun–30 tahun), namun masih pantas pula dipakai oleh mereka yang telah berumur 30 tahun ke atas, Brahmani Batik pun lebih banyak bermain di kasual dilihat dari warna, motif, dan desainnya.

“Untuk motif batiknya, bukan tradisional. Meski, ada juga motif sogan yang aku ambil dari Solo, lalu aku jadikan blazer. Batik yang tersedia di sini batik cap dan batik tulis. Sementara dari sisi warna, karena ditujukan bagi anak-anak muda, otomatis warna-warnanya pun cerah. Dan, untuk bahannya, hampir semuanya ada, seperti katun, doby (kain tenun dengan mesin), viscose, dan sutera,” jelas Wiwid, tentang produknya yang dibanderol dengan harga mulai dari Rp200 ribu.

Untuk mengisi outlet ini, setiap bulan diproduksi sebanyak 60–70 pieces di mana 50%-nya diserap pasar, sementara sisanya diputar lagi dan dicampur dengan yang baru. Karena, modelnya sepanjang masa dan variatif. Sehingga, orang-orang bisa memakainya kapan saja.

Di luar itu, Brahmani Batik juga menerima pesanan seragam baik untuk seragam kantor, acara pernikahan, dan sebagainya dengan minimal order 50 pieces dengan motif, warna, dan desain terserah pemesan. Untuk itu, pemesanan harus dilakukan dua bulan sebelumnya.

Ke depannya, Wiwid berencana membuka outlet lagi di lokasi yang sama, dengan harga produk lebih mahal daripada yang ada di outlet yang lama.

FacebooktwittermailFacebooktwittermail
error: Content is protected !!