Yang Jadul Untuk Generasi Milenial

Sagon Zaya

Melihat masih ada nilai jual di sagon, salah satu camilan jadul yang mulai sulit dicari, Asih pun memunculkan kembali sagon khas kampung halamannya. Selain itu, juga berinovasi dengan memunculkan aneka varian rasa agar dapat menyentuh generasi milenial. Dan, konsumen menanggapi dengan baik keberadaan Sagon Zaya

e-preneur.co. Sagon adalah makanan tradisional yang dibuat dari tepung ketan, kelapa, dan gula pasir. Tapi, di Kebumen, sagon dibuat dari tepung kacang hijau, kelapa, dan gula pasir.

Masyarakat Nampudadi, Petanahan, Kebumen, hanya membuat sagon ini menjelang lebaran. Biasanya, untuk dikonsumsi sendiri atau hidangan bagi para tamu.

“Bibi Surip adalah salah satu tetangga sekaligus kerabat kami. Beliau sering diminta orang-orang untuk membuatkan sagon. Sementara bahan bakunya, mereka menyediakan sendiri. Setelah pesanan jadi, mereka tinggal memberi uang lelah,” tutur Gumanti Asih.

Asih, begitu ia akrab disapa, merasa sagon buatan sang Bibi tersebut enak. Lalu, ia memutuskan belajar pada beliau sampai pada akhirnya mencoba membuatnya sendiri.

Awalnya, Asih menggunakan kacang hijau hasil tani Bapaknya sebagai percobaan dan berhasil. Dalam perkembangannya, mengingat kebutuhan semakin banyak, ia juga menggunakan kacang hijau milik tetangganya.

“Kami pun menjadikannya sebagai usaha pada Desember 2015. Tapi, masih bersifat coba-coba. Dalam arti, suami yang bekerja sebagai sales, sambil ngider barang yang dijual, ia juga menyebarkan sample sagon ini,” kisah perempuan, yang hanya menggelontorkan modal Rp500 ribu dalam usaha ini, yang lantas digunakan untuk membeli kacang hijau dan gula pasir.

Ada yang rasa keju, kismis, dan cokelat juga lho

Januari 2016, Asih dan suaminya serius menjadikannya usaha dengan meluncurkan sagon yang diberi “merek” Zaya. Bahkan, dalam perjalanannya, sarjana D-3 manajemen ini mempekerjakan enam karyawan yang semuanya perempuan.

Mengingat selalu saja ada karyawannya yang tidak masuk saat berproduksi, terutama pada musim sawah (menanam dan memanen padi, red.), musim mantu (kawinan), dan ada yang meninggal, maka dalam sehari hanya bisa dihasilkan sekitar 40 bungkus (1 bungkus = 200 gr). Selanjutnya, dengan harga Rp25 ribu, Zaya dipasarkan melalui berbagai celah. Seperti, melalui berbagai toko di Kebumen dari Prembun hingga Purbowangi, selain itu juga ke Lampung dan Kudus.

Zaya juga dapat dibeli secara online melalui whatsapp dan online shop (tangan kedua). Tidak mengherankan, jika produk ini langsung diserap pasar.

Namun, Asih belum mau berhenti sampai di situ. Ia ingin memunculkan kembali makanan jadul (jaman dulu) ini agar tidak hilang ditelan waktu. Untuk itu, ia tidak hanya menyasar mereka yang telah berumur 30 tahun ke atas atau yang pernah mengenal sagon, melainkan juga generasi milenial.

Untuk itu, kelahiran Kebumen, 6 Maret 1983 ini memunculkan varian-varian rasa yang digemari anak-anak muda. Semisal, keju. “Ternyata, mendapat tanggapan positif,” katanya.

Di samping varian keju, kismis, dan cokelat yang dibanderol dengan harga Rp30 ribu/kemasan, ia juga “melahirkan” varian jahe, wijen, dan daun jeruk yang dipatok dengan harga Rp25 ribu/kemasan. Imbas lebih lanjut, saat lebaran, jumlah produksi naik lebih dari 50% dan omset melonjak lebih dari tiga kali lipat.

“Kalau melihat sekarang sudah banyak pihak yang juga membuat sagon seperti saya, saya kira usaha pembuatan sagon ada prospeknya. Tapi, mereka bukan pesaing, melainkan pemicu agar kami terus bertahan di usaha ini dan terus berinovasi,” pungkas Asih, yang ke depannya berencana menambah kapasitas produksi dan melebarkan pasar.

FacebooktwittermailFacebooktwittermail
error: Content is protected !!