Kaya akan Warna, Bentuk, Corak, dan Jenis

Puring

Tren tanaman hias selalu berganti dan berputar. Tidak pernah ada yang akan terus diminati sampai bertahun-tahun. Tapi, khusus untuk Puring, bila tidak ada lagi yang mau mengoleksinya, ia masih dapat digunakan untuk menghiasi taman. Sebab, kaya akan warna, bentuk, corak, dan jenis

e-preneur.co. Puring (Latin: codiaeum variegatum, red.) adalah tanaman hias daun yang masih termasuk dalam keluarga Eforbia. Meski diingat lebih sebagai tanaman pengganti pagar, penghias taman, atau penanda makam, sebenarnya tanaman yang konon berasal dari Maluku ini kaya akan warna, bentuk, dan corak.

Selain itu, tanaman yang dapat pula dijumpai di Thailand, Florida (Amerika Serikat), Australia, dan daerah-daerah beriklim panas (baca: tropis, red.) ini, juga memiliki ribuan jenis. Sebab, Puring mudah diperbanyak baik dengan cangkok maupun stek pucuk.

Tanaman yang dapat tumbuh hingga setinggi tiga meter ini, juga tumbuh sepanjang tahun dan tahan terhadap terpaan langsung sinar matahari. Di samping itu, gampang dirawat. Karena, hamanya mudah diberantas.

Lebih dari itu semua, Puring bermanfaat pula sebagai obat. Misalnya, rebusan daunnya untuk menurunkan demam, sedangkan rebusan akarnya berguna sebagai obat pencahar. Tanaman ini mampu pula menyerap gas beracun, dari kapasitas rendah hingga sedang.

“Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, sudah waktunya Puring dijadikan tanaman penghias taman, bukan sekadar penanda makam atau pengganti pagar,” kata Lastini Chandra, pemilik Ladika Flora.

Sangat layak dijadikan penghias taman

Berbicara tentang harganya, menurut perempuan yang “bermain” Puring sekitar tahun 2005 itu, bervariasi. Tergantung pada ukuran dan jenisnya. Untuk Puring jenis biasa, misalnya, ia membandrol dengan harga Rp20 ribu–Rp30 ribu. Harga ini, tentu berbeda dengan Puring-puring yang sedang naik daun seperti Puring Oscar dan Puring Kura-kura.

“Untuk Puring Oscar setinggi satu meter, saya pernah menjualnya dengan harga Rp2,5 juta–Rp3 juta per pot. Sebab, masih langka dan mempunyai daun-daun lebar bermotif batik,” kata insinyur pertanian dari Institut Pertanian Bogor ini. Sekadar informasi, untuk Puring-puring jenis langka, meski masih berwujud anakan sudah laku terjual minimal Rp1 juta/pot.

Sementara berbicara tentang prospeknya, pemilik 10 pohon indukan Puring Kura-kura ini yakin bahwa Puring akan terus diminati. Meski, tren tanaman hias sudah berakhir.

“Maklum, namanya juga tanaman hias, akan selalu berganti dan berputar. Jadi, nggak ada yang akan terus diminati sampai bertahun-tahun. Tapi, khusus untuk Puring, bila tidak ada lagi yang mau mengoleksinya, ia masih dapat digunakan untuk menghiasi taman,” pungkas pemilik lebih dari 100 jenis Puring ini di kediamannya, Tanah Baru, Depok.

Catatan

Jika ingin membudidayakan Puring dalam skala rumah tangga, Anda cukup memiliki lahan seluas halaman rumah (50 m²), yang mendapat terpaan matahari secara langsung. Selanjutnya, belilah pohon indukan 5−10 jenis yang berbeda. Misalnya, dua pohon indukan untuk setiap jenisnya. Sehingga, akhirnya terkumpul 20 pohon indukan dari 10 jenis yang berbeda.

Lantas, pilihlah pohon indukan yang mempunyai maksimal lima cabang, yang nantinya setelah dicangkok akan menghasilkan 100 pohon anakan. Sistem cangkok ini akan memberi keberhasilan 100%. Sebaliknya, jika menggunakan sistem stek pucuk.

Pohon indukan nantinya akan mengeluarkan cabang-cabang baru. Sehingga, jika ingin memperbanyak lagi, tidak perlu lagi membeli pohon indukan. Pohon indukan juga akan bertahan hidup untuk jangka waktu tak terhingga. Ini berarti terjadi penghematan dalam investasi. Penghematan juga ada pada biaya produksi, karena Puring ini mudah ditanam dan tumbuh.

FacebooktwittermailFacebooktwittermail
error: Content is protected !!