Sensasi Menginap di Rumah Abad XIX

Rumah Flatterman

Siapa yang menyangka jika Rumah KS 15, begitu nama “dagangnya”, adalah rumah Keluarga Flatterman, pendiri Yayasan Mardi Waluyo di Semarang? Selain digunakan untuk semua kegiatan yayasan, rumah yang dibangun pada tahun 1890 dan kemudian direnovasi pada tahun 2018 itu kini juga dibuka untuk umum. Bahkan, rumah yang terlihat sangat terawat dan elok itu bisa disewa untuk berbagai acara

e-preneur.co. Sejak Desember 2018, rumah yang terletak di sudut persimpangan antara Jalan Kyai Saleh dengan Jalan Veteran, Semarang, Jawa Tengah, itu tidak kusam lagi. Bahkan, terlihat sangat terawat.

Rumah bergaya Eropa itu bagaikan rumah baru. Hal ini, terlihat dari rerumputan yang terjaga pertumbuhannya dan suasananya yang terang benderang pada malam hari.

Selain itu, rumah hook tersebut terbuka untuk dikunjungi. Juga, bisa disewa baik oleh perorangan maupun group dengan tarif sesuai kebutuhan, serta digunakan untuk rapat, seminar, foto pre wedding, dan sebagainya.

Johanes Christiono dari MIK (Media Informasi Kota Semarang) memperoleh informasi dari seorang petugas bernama Devina bahwa sekarang, rumah itu dikelola oleh Mardi Waluyo. Yayasan tersebut mempromosikannya sebagai Rumah KS 15 atau Rumah Kyai Saleh 15.

Baik struktur bangunan maupun mebelnya masih orisinal

Merunut ke belakang, Rumah KS 15 merupakan milik Abraham Flatterman atau Fletterman, yang diperkirakan dibangun pada tahun 1890. Sementara Flatterman itu sendiri adalah arsitek kelahiran Den Haag, Belanda, 13 Desember 1888. Ia wafat di Semarang pada 26 Mei 1959 dan dimakamkan di Mount Carmel, Ungaran, Semarang.

Perancang Hotel Kesambi Hijau ini, semasa hidupnya menikahi Corrie, perempuan Belanda kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah. Pasangan suami-istri (pasutri) ini mengangkat anak yang dinamai Marx atau Max, lantaran tidak memiliki keturunan. Kemudian, Marx menikahi Elly Krisanti. Pasutri ini juga tidak memiliki anak.

Pada tahun 1958, Corrie mendirikan Yayasan Mardi Waluyo. Semula, yayasan ini bernama Vereeniging tot Bevordering van de Inlandsche Ziekenverpleeging. Perkumpulan yang didirikan di Semarang oleh orang-orang Belanda pada tahun 1914 ini, bertujuan untuk memberi pelayanan/perawatan kesehatan pada kaum pribumi yang sedang sakit.

Mengingat, pasutri Flatterman merupakan pengurus aktif yang terlibat langsung dalam setiap kegiatan yayasan, maka segala kegiatan yayasan itu berlangsung di rumah yang kini juga dikenal sebagai Rumah Flatterman (penduduk setempat menyebutnya Rumah Baterman, red.). Sayang, setahun setelah yayasan berdiri, Flatterman meninggal.

Pada tahun 2013, Elly Krisanti, sebagai pemilik terakhir rumah yang berdiri di atas lahan seluas 3.602 m² ini, menghibahkan rumah dan lahannya kepada Yayasan Mardi Waluyo, sekaligus sebagai penghormatan terakhir untuk Corrie yang wafat pada tahun 1965. Lantas, tahun 2018, rumah berlantai dua itu direnovasi oleh yayasan.

“Semua struktur bangunan dan mebelnya masih orisinal baik itu ruang tamu, kamar tidur, ruang makan, maupun kamar mandi. Bahkan, lampu penerangannya pun kuno. Sementara di teras belakang dan taman samping, diberi kursi taman. Sehingga, kita bisa duduk-duduk sambil menyaksikan artistiknya bangunan ini,” kata Johanes Christiono.

FacebooktwittermailFacebooktwittermail
error: Content is protected !!