A password will be e-mailed to you.

Berkunjung ke Kebumen dan ingin makan siang dengan menyantap makanan berkuah? Coba deh ke Warung Sop Bu Jum yang legendaris itu

Perjalanan dari Jakarta ke Kebumen membutuhkan waktu sekitar 6−7 jam, dengan menggunakan kereta api. Bila berangkat pada jam 07.00, maka kita akan sampai di Stasiun Kebumen paling lambat jam 14.00 (dalam kondisi normal). Artinya, sudah masuk waktu makan siang.

Bila ingin makan siang di Kebumen, maka yang terlintas dalam benak yakni Sate Ambal. Padahal, ternyata, bukan sate yang berasa sangat manis ini saja yang menjadi ikon kuliner di Kebumen. Di kota ini, juga terdapat Soto Daging Bu Jum yang legendaris.

Warung Sop Bu Jum, begitu namanya, boleh dikata sangat dikenal oleh penduduk setempat. Karena, warung makan yang berlokasi di Jalan Mangga, Keposan atau yang dulu dikenal sebagai Perempatan Toko Damai ini telah menyediakan sop, sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Menunya memang hanya sop, tapi seenak buatan Ibu kita. Dalam arti, kuahnya bening dan gurih, sayurannya lengkap, dan daging sapinya yang dipotong-potong dalam ukuran relatif besar itu empuk dikunyah.

Untuk menambah sedap, bisa ditambahkan sambal (bumbu) kecap. Atau, dengan lauk pelengkapnya, seperti tempe tepung goreng, tahu/tempe bacem, kerupuk udang, perkedel, dan sebagainya.

Untuk harganya, sangat terjangkau. Satu porsi baik dengan dicampur nasi maupun dipisah dibanderol Rp16 ribu. Kalau ingin makan lebih puas lagi, sediakan anggaran sekitar Rp20 ribu−Rp25 ribu. Selain itu, datanglah ke warung sederhana ini sekitar jam 12.00−13.00.

Saat itu, kami datang kurang lebih jam 15.00 lantaran kereta api terlambat masuk ke Stasiun Kebumen. Tuan rumah yang menjemput langsung membawa ke Warung Sop Bu Jum.

Seorang perempuan yang sudah sepuh (berumur sekitar 85 tahun) namun kecantikan masa lalunya belum luntur, menyambut dengan sangat ramah dan langsung menanyakan pesanan kami. Dari sedikit obrolah, tahulah kami jika beliau adalah Bu Jum yang karena usia, kini hanya menyambut para tamu dengan duduk di kursi dengan wajah teduh dan suara yang lembut.

Selanjutnya, kami menyantap nasi sop yang panas, sesuai lidah, dan dalam porsi yang lumayan besar. Kami juga menyomot tempe tepung goreng dan kerupuk udang, lalu mengakhiri makan yang sudah kesiangan itu dengan segelas teh manis panas. Rasa lelah dan lapar pun langsung menguap…Alhamdulillah. (Russanti Lubis)