A password will be e-mailed to you.

Mengiring dan mengulang kesuksesan nan gemilang menghadirkan Sandiwara Sastra, Kemendikbudristek, Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media hadirkan sebuah seri monolog “Di Tepi Sejarah”.

Seri monolog yang menceritakan tentang tokoh-tokoh yang ada di tepian Sejarah, yang mungkin tak pernah disebut namanya dan tak begitu disadari kehadirannya dalam narasi besar Sejarah bangsa Indonesia.

Meski begitu, justru mereka seringkali adalah orang-orang yang berada di pusaran Sejarah utama dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Indonesia. Apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan yang telah mereka alami diharapkan dapat menjadi jalan bagi kita untuk lebih memaknai arti Kemerdekaan bangsa Indonesia yang pada tahun ini telah memasuki tahun ke-76.

Produser dari Titimangsa Foundation, Happy Salma, di acara virtual Press Conference kehadiran seri monolog “Di Tepi Sejarah”, Senin, 20 September 2021, menyampaikan bahwa ide awal seri monolog “Di Tepi Sejarah” tercetuskan ketika dirinya sedang menggarap monolog “Aku Istri Munir” yang berkisah tentang Suciwati Munir karya Seno Gumira Ajidarma.

“Monolog ‘Aku Istri Munir’ kala itu saya mainkan di ruang yang kecil, sebuah kamar dalam sebuah rumah. Memang niat awalnya pentas, ini merupakan persembahan kecil saja bagi perjuangan Suciwati Munir. Tapi banyak sekali yang setelah menonton pentas itu menjadi menemukan jalan lain untuk merawat ingatan. Dari situ, saya jadi terinspirasi bahwa dengan situasi sekarang, banyak juga cara untuk tetap bergerak, berbuat dan semoga bermanfaat lewat panggung teater yang tidak kehilangan ruh panggungnya.”

Lanjutnya,”Maka saya berharap “Di Tepi Sejarah” dapat menjadi kaca mata lain bagi bangsa Indonesia melihat sejarahnya.”

Di acara yang dipandu Sophienavita, Yulia Evina Bhara, Produser dari KawanKawan Media, mengatakan bahwa seri monolog, ini merupakan upaya untuk menyediakan media alternatif dalam pembelajaran Sejarah di Indonesia.

“Seni pertunjukan dapat menyampaikan isu terkini mau pun masa lampau dengan sudut pandang yang lain dan karena sifatnya yang lentur, dapat dikemas dalam bentuk lintas media. Komponen seni pertunjukan seperti visual dan bunyi diharapkan menjadi stimulus bagi penontonnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang kisah yang diangkat. tambahnya. Dan saya merasa terhormat terlibat dalam kolaborasi ini.”

“Di Tepi Sejarah” yang akan ditayangkan di kanal Budaya milik Kementerian Pendidikan, Budaya, RIset dan Teknologi, (Kemendikbudristek) Indonesiana, kiranya ada alasan lain, Yaitu belum adanya media resmi dari Indonesia yang menjadi wadah diplomasi Budaya secara Internasional. Padahal, Negara-Negara maju sudah memiliki media kebudayaan terintegrasi yang menjadi sarana diplomasi Budaya.

Kanal Indonesiana merupakan kanal media khusus budaya yang di inisiasi oleh Kemendikbudristek. Kanal media, ini bertujuan untuk mewadahi, mengintegrasikan, serta mempromosikan karya dan ekspresi budaya masyarakat Indonesia.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid menyampaikan harapannya agar publik berpartisipasi dalam mengembangkan dan memanfaatkan Kanal Indonesiana.

“Sudut pandang lain dalam melihat peristiwa Sejarah yang ditawarkan dalam seri monolog, ini menunjukkan bahwa kontribusi sekecil apa pun dalam perjuangan kemerdekaan juga begitu berarti. Semangat, ini sangat dibutuhkan hari ini ketika Indonesia tengah berjuang melawan pandemi,” imbuhnya.

Pementasan “Di Tepi Sejarah” mengangkat 4 judul monolog; “Nusa Yang Hilang”, “Radio Ibu”, “Sepinya Sepi”, dan “Amir, Akhir Sebuah Syair”, mewakili keanekaragaman wilayah dan melibatkan orang-orang di seluruh pelosok Indonesia.

Rangkaian monolog, ini tentu menawan, dengan dilibatkannya Sutradara Teater, Sutradara Visual, dan Penulis Naskah yang berbeda untuk setiap judul, dan tentu mumpuni di bidangnya. Yang adalah, Ahda Imran dan Kamila Andini, Felix Nesi, Yustiansyah Lesmana, Yosep Anggi Noen, Heliana Sinaga dan Iswadi Pratama.

Seri monolog kian berpesona dan sangat layak tonton. Taburan bintang : Chelsea Islan, Laura Basuki dan Chicco Jerikho, mewarnai keindahan monolog seri ‘Di Tepi sejarah’.

Pementasa ini bisa diakses melalui Kanal Indonesiana.
Kanal ini dapat diakses melalui siaran televisi jaringan Indihome saluran 200 (SD) dan 916 (HD) atau laman https://www.useetv.com/livetv/indonesiana atau indonesiana.tv.

(Andriza Hamzah) Photo : Ist