A password will be e-mailed to you.

Sajian pentas teater terkini “Di Tepi Sejarah” seri monolog yang diprakarsai oleh Happy Salma dan Yulia Evina Bhara selaku Produser dari Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media, merupakan kerja bersama dengan Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, tak hanya layak dinikmati.

Lebih dari itu, goresan Sejarah sangat lekat. Menceritakan tentang tokoh-tokoh yang ada di tepian Sejarah, yang mungkin dari mereka tak pernah disebut namanya. Bahkan, tak begitu disadari kehadirannya dalam narasi besar Sejarah bangsa Indonesia.

Meski begitu, justru mereka seringkali adalah orang-orang yang berada di pusaran Sejarah Utama dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Indonesia.

Produser dari Titimangsa Foundation, Happy Salma, pun berbagi kisah, bahwa ide awal seri monolog “Di Tepi Sejarah” tercetuskan ketika ia sedang menggarap monolog “Aku Istri Munir” yang berkisah tentang Suciwati Munir karya Seno Gumira Ajidarma.

“Dari sana saya terinspirasi menghadirkan seri monolog “Di Tepi Sejarah”. Maka saya berharap “Di Tepi Sejarah” dapat menjadi kaca mata lain bagi bangsa Indonesia melihat sejarahnya,” kata Happy Salma di acara , di acara virtual Press Conference kehadiran seri monolog “Di Tepi Sejarah”, Senin, 20 September 2021.

Di acara yang dipandu Sophienavita kian menarik dengan apa yang disampaikan Laura Basuki, Pemeran The Sin Nio, wanita tua Tionghoa di monolog “Sepinya Sepi”. “Dari melihat script yang begitu bagus, membuat saya semakin deg-degan dan perut sampai mules. Bagaimana tidak, problem utama saya terletak di suara. Saya berperan sebagai wanita Tionghoa, yang berbahasa Tionghoa, maka saya pun mempelajari sekaligus cara bicaranya. Suara saya harus terdengar layaknya wanita usia 47 tahun. Untuk itu saya latihan vokal dan berdialog sembari berlari. Ini benar-benar pengalaman baru dan luar biasa. Tapi kesemua sangat menyenangkan.”

Di Tepi Sejarah mengangkat 4 judul monolog; “Nusa Yang Hilang”, monolog, Penulis naskah Ahda Imran dan Kamila Andini yang merangkap juga sebagai Sutradara teater dan visual, berkisah tentang seorang yang bernama asli Muriel Stuart Walker (diperankan oleh Aktris Chelsea Islan), wanita kelahiran Skotlandia yang tumbuh besar di Amerika. Ia pergi ke Bali dan berganti nama menjadi Ketut Tantri, sebagai sebuah harapan dari film yang ditontonnya tentang keindahan Bali. Tetapi kenyataan berkata lain. Ketut Tantri terlibat jaringan
gerakan bawah tanah, ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Monolog “Radio Ibu”, Penulis naskah Felix Nesi, bercerita tentang Riwu Ga (Arswendy Bening Swara), seorang pria tua kelahiran di Sabu, Nusa Tenggara Timur. Riwu bertemu keluarga Bung Karno semasa pembuangan Presiden pertama RI itu di Ende. Riwu adalah mantan pelayan, pengawal dan sahabat Bung Karno yang menjadi petani jagung di masa tuanya. Walau pun tinggal di pondok kebun, ia terus mendengarkan radio peninggalan Bu Inggit. Ia ingin memastikan masa depan cerah Indonesia sesudah merdeka, seperti mimpi-mimpi Bung Karno.

“Sepinya Sepi”, — penulis naskah oleh Ahda Imran — mengangkat kisah seorang wanita tua Tionghoa, The Sin Nio, — diperankan oleh Laura Basuki –, yang berkeinginan ikut terjun ke kancah revolusi. Ia mewujudkan keinginanya itu dengan masuk tentara sebagai prajurit. Meski begitu, ia harus rela mengubah penampilannya menjadi pria, dan memakai nama Moechamad Moechsin. Menelan kesepian yang tak memberinya tempat, bahkan dalam kematian sekali pun, makamnya tak pernah mendapat tempat.

“Amir, Akhir Sebuah Syair”, berkisah tentang Amir Hamzah (Chicco Jerikho), seorang Sastrawan yang hidup di masa terjadinya revolusi sosial di Indonesia. Ia juga adalah keturunan dari Kesultanan Langkat. Bersama Armin Pane dan Sutan Takdir, Amir bergerak, berjuang demi Indonesia yang berdaulat dengan pena dan kata-kata, dengan sajak, roman, risalah, dan kisah kisah. Dan, untuk itu, Amir telah mengorbankan diri dan hidupnya.

Di akhir hidupnya, ia dipancung oleh seorang algojo bernama Ijang Widjaja, yang merupakan guru silat Amir di masa kanak-kanak. Penulis naskah oleh Iswadi Pratama.

Seri monolog “Di Tepi Sejarah” melibatkan Seniman yang berdedikasi pada profesinya, di antaranya yaitu Iskandar Loedin (Penata Artistik dan Cahaya), Deden Jalaludin Bulqini (Penata Artistik dan Multimedia), Mamed Slasov (Penata Cahaya), Retno Ratih Damayanti (Penata Kostum), Eba Sheba (Penata Rias), Ricky Lionardi (Penata Musik), Achi Hardjakusumah (Penata Musik), Freza Anhar (Penata Musik), Imam Maulana (Penata Musik dan Suara) dan Batara Goempar (Penata Sinematografi Nusa yang Hilang).

(Andriza Hamzah) Photo ; Ist