A password will be e-mailed to you.

Kondisi pandemi yang memberi guncangan pada perekonomian Indonesia dan global, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendorong para pelaku UMKM untuk mengembangkan diri dan menjadi tulang punggung perekonomian Nasional.

Penggerak UMKM Alumni dan inisiator LUPBA One Brand, Dr. Dewi Tenty Septi Artiany, SH, MH, M.kn, menyebutkan UMKM seharusnya bisa menjadi leader perekonomian Nasional.

Dewi Teti

“Kondisi pandemi memang memengaruhi kondisi UMKM kita. Tapi dengan mengembangkan kemasan, tampilan secara digital, kemampuan bertransaksi digital dan proses pengiriman, maka UMKM Indonesia akan dapat berkembang, menjadi tulang punggung perekonomian Nasional. Tentunya dengan dukungan Pemerintah dan kolaborasi sesama pelaku UMKM,” kata Dewi Tenty, saat dihubungi.

Ia menyebutkan pelaku UMKM di Indonesia ada sekitar 64 juta unit dan membantu menyokong PDB Indonesia, sehingga seharusnya profil UMKM ini dijaga dan lebih ditingkatkan.

“Tetapi memang, dengan adanya pandemi, terjadi kemerosotan, baik karena faktor penyakit mau pun aspek permodalan. Yang mengakibatkan terjadinya ketidakproduktifan. Ditambah juga dengan adanya disrupsi, yaitu perubahan besar-besaran menuju era digital, yang umumnya dilakukan 10 tahun, tapi kita lakukan hanya dalam kurun 1 tahun saja. Yang membuat para pelaku UMKM tergopoh-gopoh menghadapinya,” jelasnya.

Berdasarkan data, pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) yang mengaplikasikan teknologi digital, sekitar 4 juta. Menjadi pertanyaan besar, 60 juta pelaku UMKM lainnya bagaimana?

“Angka ini banyak, bila tidak segera kita benahi. Maka bila 60 juta pelaku UMKM tidak mengaplikasikan teknologi digital maka mereka akan tertinggal. Karena kita tidak tahu, kapan pandemi ini berakhir. Bila pandemi cepat berlalu, maka 60 juta pelaku UMKM, bisa kembali membuka pasar offline. Tapi balau pandemi berkepanjangan maka pilihannya adalah mendorong semakin banyak pelaku UMKM yang Go Digital,” ucapnya lagi.

Dewi Tenty menegaskan bahwa Go Digital memang suatu keniscayaan tapi bukan suatu pencapaian. Untuk pencapaian, masih butuh banyak hal yang harus dipersiapkan.

“Tidak semudah membalikkan telapak tangan, untuk memasuki pasar digital. Ini seperti berenang di Samudra. Selama ini mereka berenang di kolam kecil. Artinya, akan banyak perubahan dan pertempuran yang tak hanya menghadapi pelaku UMKM luar Negeri selain pelaku UMKM dalam Negeri tapi juga industri-industri yang lebih dahulu masuk ke Dunia digital. Ini merupakan tantangan tersendiri,” kata wanita yang juga berprofesi sebagai pengacara ini.

Ia menyatakan bahwa jangankan untuk dibeli produknya, untuk bisa dilihat dan masuk ke dalam wish list sudah merupakan prestasi. Maka bila dibeli dan kemudian repeat order, itu merupakan pencapaian yang sangat baik.

“Untuk bisa dilihat, harus ada dukungan. Baik dari sisi kemasan, yang memungkinkan pelanggan tertarik, memudahkan pengiriman serta menjaga kualitas produk selama proses pemasaran dan pengiriman. Atau dari sisi tampilan produk atau bisa saya sebutkan, foto. Karena dalam pemasaran digital, panca indra yang dipergunakan itu hanya mata. Bagaimana penampilannya bisa mendorong konsumen untuk membeli,” urainya.

Faktor berikutnya adalah masalah pembayaran yang harus dilakukan secara teknologi.

“Transaksi digital, ini untuk sebagian orang, bukan lah hal yang gampang. Artinya, orang yang melakukan transaksi digital harus melek teknologi dan bankable untuk dapat menggunakan produk perbankan,” urainya lebih lanjut.

Faktor terakhir adalah pengiriman karena banyak kekecewaan dari masyarakat yang dalam hal ini adalah konsumen.

“Bisa karena tampilan berbeda, produk berbeda, waktu pengiriman hingga pengemasan dalam proses pengiriman. Misalnya, produknya keripik. Tapi pengirimannya tidak hati-hati, sehingga hancur keripiknya,” papar Dewi Tenty.

Semua faktor itu, lanjutnya, yang akan mampu mendukung keberlanjutan usaha UMKM di masa digital.

“Jadi bukan hanya Go Digital saja. Tapi bertahan di pasar digital. Sehingga produktivitas usaha bertahan atau meningkat lebih bagus, yang mendorong penyerapan tenaga kerja lebih banyak,” paparnya lebih lanjut.

Dewi Tenty menyebutkan jika dibandingkan antara jumlah pelaku UMKM dengan jumlah penduduk Indonesia, seharusnya tidak perlu ada masalah dalam hal ketersediaan pasar dan penyerapan produk.

“Faktanya, kita repot mencari peluang pemasaran. Artinya ada yang salah dan kurang pas dengan skema yang ada. Harusnya tetap pada Bangga Buatan Indonesia, Bangga Menggunakan Produk UMKM bangsa sendiri agar bisa meningkatkan UMKM naik kelas. Ini lah yang harus dilakukan oleh pemerintah,” katanya.

“Kalau mau bicara keadilan untuk UMKM, harusnya UMKM sudah menjadi leader bagi perekonomian Nasional. Itu lah harapan saya,” pungkasnya.

(Natasha Syaini) Photo : NS