A password will be e-mailed to you.

Dari melihat jumlah pelaku UMKM di Indonesia, ada sekitar 64 juta, maka seharusnya profil UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dapat lebih ditingkatkan, bahkan UMKM seharusnya bisa menjadi leader perekonomian Nasional.

Sekali pun di tengah kondisi pandemi yang memang memengaruhi kondisi UMKM, tetapi dengan mengembangkan kemasan, tampilan secara digital, kemampuan bertransaksi digital dan proses pengiriman, maka UMKM Indonesia akan dapat berkembang, menjadi tulang punggung perekonomian Nasional. Tentunya dengan dukungan Pemerintah dan kolaborasi sesama pelaku UMKM.

Dewi Teti

Demikian dikatakan oleh Penggerak UMKM Alumni dan inisiator LUPBA One Brand, Dr. Dewi Tenty Septi Artiany, SH, MH, M.kn. Lanjutnya, bahwa salah satu cara yang bisa mendukung para pelaku UMKM adalah membentuk komunitas.

Keberadaan komunitas dinyatakan akan mampu mendorong para pelaku UMKM agar dapat berkembang. Tak hanya dari segi peningkatan produk tapi juga membuka jaringan pemasaran.

“Seperti Perkumpulan Bumi Alumni (PBA), merupakan komunitas yang membantu para pelaku UMKM yang menjadi anggotanya, untuk memenuhi kompetensi di semua faktor yang memengaruhi produktivitas usaha mereka. Maksudnya, pengembangan kemasan, tampilan secara digital, kemampuan bertransaksi digital dan proses pengiriman,” kata Dewi Tenty.

Ia juga menyebutkan komunitas dapat membantu pemasaran produk dan membentuk suatu mata rantai perekonomian.

Masa pandemi ini lanjutnya, merupakan suatu masa inkubasi bagi para pelaku UMKM yang tergabung di PBA.

“Masa ini adalah masa di mana para pelaku UMKM mengasah skillnya, menambah knowledge-nya agar nanti saat masa normal dan pasar offline dibuka, mereka sudah bisa meng-upscale kemampuan mereka dan mampu bersaing dengan produk yang lebih bergengsi,” ucapnya lagi.

Hassan M. Lubis

Salah seorang anggota PBA, yang memiliki produk kopi Mangaraja, Hassan M. Lubis menyebutkan salah satu yang mampu mendukung perkembangan UMKM adalah keberadaan komunitas.

“Di masa 4.0 sekarang, produk yang berbasis komunitas lah yang mampu bertahan di masa pandemi. Contohnya, beberapa brand yang memiliki konsumen dengan fanatisme tinggi itu bisa bertahan karena mereka mampu membina komunitasnya agar solid dan mampu menyediakan produk berkualitas yang sesuai,” kata Hassan saat dihubungi terpisah.

Hal ini lah yang juga menjadi dasar dalam komunitas PBA. Di mana kesolidan awal, dimulai dari kesamaan rasa dan latar belakang sebagai alumnus salah satu Uiversitas terkenal di Bandung, Universitas Padjajaran.

“Selain itu, kesamaan visi misi juga membuat komunitas kuat. Ditambah dengan komitmen untuk saling melengkapi, baik dalam pemasaran maupun bahan baku. Sehingga terbentuklah suatu rantai ekonomi,” urainya.

Sebagai contoh, ia menyebutkan dirinya yang memiliki produk usaha kopi, bisa bertemu dengan sesama anggota komunitas yang memiliki perkebunan kopi atau usaha green bean.

“Atau contoh lainnya, adalah salah satu anggota yang bergerak di bidang kemasan atau percetakan. Kami anggota yang lainnya, didorong untuk membuat kemasan di dia,” urainya lagi.

Tak hanya, penghasil produk, kekuatan komunitas PBA juga karena anggotanya yang memiliki latar belakang profesi yang berbeda. Ini juga yang memungkinkan para anggota bisa saling sharing. Misalnya, jika ada anggota yang ingin mengetahui tentang hukum, ada anggota komunitas yang memiliki profesi ahli hukum. Sehingga tinggal tanya atau minta waktu sharing saja, kata Hassan.

Kekuatan komunitas sendiri dibangun dengan berbagai kegiatan, baik yang bersifat pelatihan, sharing pengalaman atau ilmu mau pun kegiatan silahturahmi lainnya.

“Akhirnya komunitas ini menjadi seperti lembaga bisnis, yang akan meningkatkan kompetensi para anggotanya, untuk sama-sama maju dalam frame visi dan misi yang sama,” ujarnya.

Setelah setahun menjadi bagian dari komunitas PBA, Hassan menyebutkan bisa mendaparkan banyak manfaat.

“Kalau transaksi ekonomi dan ilmunya pasti dapatlah. Karena memang itu sudah menjadi dasar dari komunitas. Tapi ada hal lainnya, yaitu kebanggaan sebagai alumni dari kampus. Di mana, para alumni ini menjadi terdorong munculnya aura almamater yang dulunya sudah menghilang seiring kesibukan dalam keseharian dan profesi masing-masing,” pungkasnya.

(Natasha Syaini) Photo : Ist