A password will be e-mailed to you.

Pentingnya kewaspadaan terhadap kanker payudara subtipe tripel negatif (TNBC) yang dikenal lebih agresif dari jenis kanker payudara subtipe lainnya yang menyerang wanita di bawah usia 40 tahun. Dan, di Indonesia menurut sebuah penelitian pada 2014, kejadian TNBC menjadi terbesar kedua di antara tipe kanker payudara lainnya dengan persentase 25 persen.

Kejadian baru kanker payudara di seluruh Dunia menempati urutan pertama dengan sekitar 2,3 juta kasus baru dan 680 ribu kematian. Sementara di Indonesia telah menempati peringkat terbanyak dengan kasus baru mendekati 66 ribu dan tingkat kematian lebih dari 22 ribu jiwa pada 2020.

Demikian hasil riset The International Agency for Research on Cancer mengeluarkan Global Cancer Incidence, Mortality and Prevalence 2020 atau yang kita kenal dengan GLOBOCAN 2020.

Kewaspadaan terhadap penyakit kanker payudara secara umum tentu menjadi sangat penting. Dari sanalah, dan dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara, Yayasan Kanker Indonesia (YKI), — merupakan organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan kanker — bekerjasama dengan Perusahaan farmasi multinasional yang berfokus dalam penelitian dan pengembangan obat dan vaksin inovatif, Merck Sharp & Dohme (MSD), menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan terhadap kanker payudara subtipe tripel negatif (TNBC) yang dikenal lebih agresif dari jenis kanker payudara subtipe lainnya.

Prof. Ami Ashariati

Sosialisasi menawan dan sangat bermanfaat bagi masyarakat, terlebih penyitas kanker, yang dilangsungkan melalui acara Webinar, pada Minggke ke-3 bulan Oktober 2021, YKI dan MSD Indonesia mengangkat topik tentang Kanker Payudara Tripel Negatif sebagai jenis kanker agresif yang tumbuh dengan pesat. Sebab negatif dari estrogen, progesteron, dan juga HER2. TNBC cenderung sudah menyebar saat ditemukan. Dan, kemungkinan muncul kembali setelah dirawat lebih tinggi dibandingkan jenis kanker payudara lainnya.

Kian menjadi perhatian untuk diwaspadai, TNBC menjadi penyebab sekitar 10-20 persen kasus kanker payudara secara total dan menyerang wanita di bawah usia 40 tahun. Dan, di Indonesia menurut sebuah penelitian pada 2014, kejadian TNBC menjadi terbesar kedua di antara tipe kanker payudara lainnya dengan persentase 25 persen.

Pratiwi Astar

Di acara webinar dengan Moderator Pratiwi Astar (YKI), yang menghadirkan George Stylianou, Managing Director MSD di Indonesia, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP dan Prof. DR. dr. Ami Ashariati, SpPD.-KHOM, dirincikan bahwa gejala TNBC serupa dengan jenis kanker payudara lainnya, seperti benjolan baru di payudara atau ketiak, penebalan atau pembengkakan pada bagian payudara, iritasi atau lesung pipit pada kulit payudara, kulit kemerahan atau bersisik di area puting atau payudara, puting tertarik ke dalam atau nyeri di area puting, keluarnya cairan dari puting selain ASI, termasuk darah, perubahan ukuran atau bentuk payudara, atau pun nyeri di setiap area payudara.

Meski kanker payudara triple negatif memiliki gejala yang serupa dengan jenis kanker payudara lainnya, Prof. DR. dr. Ami Ashariati, SpPD.-KHOM, menjelaskan, “Saat kanker payudara didiagnosis melalui tes pencitraan dan biopsi, sel-sel kanker akan diteliti untuk fitur tertentu. Jika sel-sel kanker tidak memiliki reseptor estrogen atau progesteron, dan juga tidak memproduksi protein HER2, maka kanker ini dikategorikan sebagai jenis kanker payudara tripel negatif. Kanker, ini sangat agresif sebab tumbuh begitu cepat dan dapat tumbuh kembali meski setelah diobati.”

Lebih lanjut Prof. Ami Ashariati menjelaskan bahwa modalitas pengobatan pada kanker payudara secara umum terdiri dari 3 hal pokok yaitu operasi, radiasi, dan terapi sistemik berupa kemoterapi, terapi hormonal, terapi target dan imunoterapi. Pemilihan modalitas pengobatan dengan mempertimbangkan banyak hal, tetapi ada 2 hal yang penting yaitu stadium dan subtipe kanker payudara, baru kemudian faktor lain seperti usia dan penyakit penyerta lainnya.

Opsi pengobatan kanker payudara triple negative stadium awal, local-lanjut atau metastasis pada prinsipnya sama dengan subtipe yang lain, akan tetapi masih sangat terbatas hasilnya karena mempunyai sifat tumbuh kembali lebih cepat walau pun sudah diobati dengan benar.

Pada Stadium awal dapat dilakukan prosedur operasi lumpektomi atau mastektomi dengan mengangkat juga kelenjar getah bening di dekatnya untuk melihat apakah kanker telah menyebar. Setelah melakukan lumpektomi, biasanya diikuti dengan terapi radiasi; sedang bila setelah mastektomi akan dilakukan terapi radiasi bila didapatkan penyebaran ke kelenjar getah bening minimal 4 atau lebih.

“Dalam prosedur ini, tidak sedikit pasien yang melakukan rekonstruksi payudara bersamaan dengan mastektomi untuk tujuan estetika,” ujar Prof. Ami Ashariati.

Pada stadium metastatik atau telah menyebar ke organ lain seperti paru atau liver, atau otak, dilakukan terapi sistemik seperti kemoterapi.

Prof. Ami Asharati menuturkan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi pengobatan, kini juga tersedia pengobatan kanker payudara triple negative dengan imunoterapi yang memberikan harapan hidup lebih panjang.

Lebih lanjut Prof. Ami Ashariati menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan kanker payudara dengan melakukan SADARI dan deteksi dini kanker payudara, “Sebab kanker dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium awal, dan segera berkonsultasi dengan dokter jika terdapat gejala. Selain itu, dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat, makan makanan bergizi, berhenti merokok, tidak mengonsumsi alkohol, berolah raga secara teratur, dan jangan lupa menghindari stres dan cukup istirahat.”

(Andriza Hamzah)
Photo : Dok. YKI