A password will be e-mailed to you.

Hubungan pasangan suami istri terasa begitu indahnya dan berkualitas, ada banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya, kontak seksual yang prima dan berkualitas. Maka membangkitkan emosi sebelum berhubungan seks, sangat lah penting. Jadi jangan biarkan gairah menurun.

Ukuran sebuah kebahagian dari suatu hubungan pasangan suami istri, bukan hanya terletak pada hubungan seks yang prima dan berkualitas. Tapi memang tak bisa ditepis, bahwa hubungan seks yang berkualitas mampu membangun kenyamanan dalam suatu hubungan.

dr. Darrel Fernando

Spesialis Kebidanan dan Kandungan Mayapada Hospital Kuningan (MHKN), dr. Darrell Fernando, SpOG, menyatakan tak ada patokan pasti angka ideal bagi hubungan seks, dan jumlah hubungan seks bukan lah patokan tingkat kebahagian suatu pasangan.

“Banyak faktor yang bisa mempengaruhinya. Dan masing-masing pasutri (red : pasangan suami istri) memiliki angka ideal sendiri. Tak ada angka hubungan seks yang dapat mendefinisikan tingkat kebahagiaan. Ada yang dua hari sekali, seminggu tiga hingga empat kali dan ada juga yang nyaman dengan sebulan sekali. Walau pun untuk program hamil, yang disarankan adalah dua atau tiga kali seminggu dengan jeda,” kata dr. Darrell dalam acara kesehatan online, Jumat (22/10/2021).

Ia menyampaikan walau pun tidak behubungan seks, pasutri pun dapat menyampaikan rasa sayang dalam bentuk lain.

“Seperti berpelukan, berpegangan tangan, berciuman, berkencan hingga beraktivitas bersama. Jadi tak bisa dipukul rata bahwa kebahagian pasutri itu hanya dari hubungan seks. Yang penting adalah terbangunnya suatu chemistry dari pasutri tersebut,” ungkap dr. Darrell.

Tapi, tetap saja hubungan seks merupakan bagian penting dalam suatu hubungan. Sehingga penting untuk melakukan komunikasi terkait kenyamanan masing-masing pihak untuk berdiskusi.

“Hubungan seks bukan lah suatu hubungan yang bisa dilakukan dengan paksaan. Misalnya, pasangan kita lelah paska bekerja atau sedang mengalami tekanan, lalu diajak berhubungan seks, malah tidak akan menimbulkan chemistry yang tepat dan akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan,” ungkapnya lagi.

Setiap pasangan perlu memahami bagaimana cara membangkitkan emosi sebelum berhubungan seks.

“Apakah dengan melakukan aktivitas menawan untuk pemanasan awal atau mengenali titik-titik yang bisa menimbulkan gairah pasangan. Tidak salah juga, jika pasutri duduk bersama dan membahas suatu posisi yang bisa menimbulkan kenyamanan atau meningkatkan gairah. Jadi masing-masing pihak akan bisa mengeksplorasi dan dapat melakukan hubungan yang menyenangkan,” kata dr. Darrell.

Ia menjelaskan naik turunnya frekuensi hubungan seksual antar pasangan biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor.

“Yang pasti usia. Saat usia muda biasanya frekuensi hubungan seks itu masih tinggi. Terutama saat awal pernikahan. Tapi dengan bertambahnya usia seseorang atau usia pernikahan, biasanya frekuensi hubungan seks akan menurun,” tuturnya.

Naik atau turunnya bisa dipengaruhi oleh kesibukan kerja atau aktivitas lainnya, ditambah dengan gaya hidup yang dijalankan oleh pasutri.

“Faktor kesehatan pun turut berpengaruh. Karena ada beberapa penyakit yang menyebabkan penurunan gairah. Dan ini hubungannya dengan tingkat libido alami seseorang, yang berbeda-beda tiap orangnya,” tuturnya lagi.

Hal lainnya yang menjadi bagian penting dalam suatu hubungan seks adalah kualitas hubungan.

“Sangat umum terjadi, ganjalan masalah mau pun tingkat emosi yang dirasakan pasutri mempengaruhi frekuensi hubungan seks,” pungkasnya.

(Natasha Aini)
Photo : NA