A password will be e-mailed to you.

Berada di Dunia kerja, di tengah ragam keindahan didapat dan merasakan kebahagiaan, kiranya juga di sana ada perilaku kurang menyenangkan yaitu perundungan (bullying) yang dialami beberapa pekerja, entah dari teman sesama kerja atau bahkan Pimpinan.

Tentu menjadi keresahan tersendiri bagi pekerja yang mengalami atau mendapat perundungan.

Beranjak dari sana, dan dalam Menyambut Hari Toleransi Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 16 November, kali ini adalah PT Unilever Indonesia, Tbk. menggelar sebuah webinar menarik guna meningkatkan kewaspadaan dan aksi nyata untuk menindaklanjuti perundungan di tempat kerja (workplace bullying) yang masih marak terjadi.

Mengangkat tema “Zero Tolerance for Workplace Bullying”, webinar, ini mengawali kerja sama antara Unilever Indonesia dan komunitas anti-bullying Sudah Dong dalam menyusun panduan e-booklet mengenai lawan workplace bullying yang diharapkan akan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kristy Nelwan – Pingkan Rumondor, S.Psi., M.Psi. – Nicky Clara – Fabelyn Baby Walean

Kristy Nelwan, Head of Communications PT Unilever Indonesia, Tbk., di acara webinar yang berlangsung pada medio bulan November 2021, mengungkapkan, “Pada peringatan Hari Toleransi Internasional, menjadi ajakan bagi warga Dunia untuk membangun toleransi antar budaya dan masyarakat. Semua pihak tentunya memiliki peran dan tanggung jawab dalam menciptakan Dunia yang lebih toleran, termasuk Dunia bisnis. Kami percaya bahwa bisnis hanya dapat berkembang di tengah masyarakat di mana hak asasi manusia dihormati, dijunjung tinggi dan dikedepankan.”

“Hal ini sejalan dengan strategi global ‘The Unilever Compass’, khususnya pada pilar berkontribusi pada masyarakat yang adil dan inklusif. Sebagai Perusahaan dengan zero tolerance terhadap salah satu bentuk intoleransi di masyarakat, yaitu aksi workplace bullying, kami ingin dapat saling berbagi mengenai langkah-langkah untuk mencegah dan menindaklanjutinya. Harapannya, bersama-sama kita dapat terus berupaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat,” sambung Kristy Nelwan.

3 Pihak Yang Terlibat Bullying

Acara webinar menawan dengan moderator Christopher Tobing, yang menghadirkan pembicara Fabelyn Baby Walean – Volunteer Komunitas Sudah Dong, dan Nicky Clara – Disability Womanpreneur, Psikolog Klinis Dewasa Pingkan Rumondor, S.Psi., M.Psi. menjelaskan lebih mendalam mengenai workplace bullying.

Katanya,“Workplace bullying adalah serangkaian perilaku yang dilakukan secara sengaja dan berulang untuk mengintimidasi, menjatuhkan atau menyakiti orang lain di tempat kerja. Contohnya seperti kekerasan fisik, verbal, pengucilan/pemboikotan, sabotase pekerjaan, dan lainnya. Workplace bullying bisa dilakukan secara langsung, mau pun secara online (via telepon, cyberbullying).”

Pingkan Rumondor menambahkan, bahwa aksi workplace bullying dapat melibatkan tiga pihak. Pertama adalah pelaku, yang kebanyakan menyerang titik lemah target agar mereka terlihat berkuasa sehingga menutupi rasa malu terhadap ketidakmampuan atau ketidakpuasan dalam dirinya.

Kedua, ada target, yang secara sengaja dipermalukan sehingga dapat mengalami berbagai efek psikologis seperti kecemasan, gejala depresi, hingga gejala post-traumatic stress disorder yang berdampak pada terganggunya keseharian dan produktivitas.

Ketiga adalah saksi, tanpa pemahaman yang cukup mengenai cara menghadapi situasi workplace bullying, seringkali saksi mata hanya berdiam diri. Selain itu, semakin banyak orang yang menjadi saksi, ada kecenderungan saksi makin tidak tergerak menolong karena menunggu orang lain bergerak lebih dulu, atau disebut juga bystander effect. Padahal, saksi memiliki peranan yang krusial untuk mengintervensi perilaku tidak menyenangkan tersebut.

Maka keberanian menjadi kunci bagi target mau pun saksi dalam melawan workplace bullying, tentu dengan cara bersikap asertif untuk menolak sesuatu yang mengusik psikologis mereka. Namun selain itu, mereka juga harus percaya bahwa mereka terlindung di bawah Perusahaan yang memiliki kebijakan kuat terhadap segala bentuk diskriminasi dan bullying.

Kian menawan acara webinar dengan tema “Zero Tolerance for Workplace Bullying”, ini mendengar apa yang disampaikan Nicky Clara, seorang Disability Womenpreneur, yang turut berbagi. “Masih banyak teman-teman penyandang disabilitas yang rentan mengalami workplace bullying, misalnya karena stigma terhadap keterbatasan kemampuan mereka, rasa iba yang berlebihan, dan lainnya. Sayangnya mereka masih enggan bersuara, contohnya karena takut kehilangan pekerjaan yang sudah susah payah mereka dapatkan. Setiap Perusahaan sepatutnya menerapkan prinsip kesetaraan dan inklusivitas sebagai acuan bagi penghormatan, pemenuhan, dan perlindungan hak-hak karyawan di tempat kerja, termasuk untuk teman-teman penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat bekerja dengan nyaman, efektif dan produktif.”

Berpegang pada kode etik bernama Respect, Dignity & Fair Treatment (RDFT), Unilever Indonesia berkomitmen untuk memastikan bahwa semua karyawan bekerja di lingkungan yang mempromosikan keberagaman, rasa saling percaya, menghormati hak asasi manusia, dan memberikan kesempatan yang setara, tanpa diskriminasi. Untuk itu, Perusahaan menindak tegas perilaku menyinggung, mengintimidasi, atau menghina, termasuk segala bentuk pelecehan atau bullying atas dasar perbedaan ras, usia, peran, gender, agama, kondisi fisik, kelas sosial, hingga pandangan politik sekali pun. Demikian dijelaskan Kristy Nelwan.

Untuk lebih guna merangkul semakin banyak organisasi untuk memiliki sistem, struktur dan kepemimpinan yang berpihak pada anti-bullying, Unilever Indonesia berkolaborasi dengan komunitas Sudah Dong — komunitas yang memiliki visi dan misi sama dengan Unilever Indonesia — akan menyusun sebuah e-booklet yang dapat dengan mudah diakses banyak pihak untuk meningkatkan awareness dan menyusun kebijakan terkait workplace bullying.

Fabelyn Baby Walean, Volunteer Sudah Dong menanggapi, “Sebagai komunitas yang sejak 2014 berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif berbagai bentuk bullying melalui rangkaian program offline mau pun online, kami melihat bahwa workplace bullying masih banyak terjadi antara lain karena masih kurangnya regulasi atau pun sistem internal yang mampu secara firm menyikapi masalah ini.”

“Maka kami percaya bahwa pembuatan e-booklet ini akan menjadi sebuah proses transfer of knowledge yang kaya di antara kedua belah pihak, dan semoga akan membawa manfaat bagi Perusahaan atau pun organisasi lainnya,” lanjut Fabelyn Baby Walean.

“Kami harap webinar dan kerja sama ini dapat semakin mendorong semangat dan komitmen dari segenap masyarakat untuk memberikan fokus lebih dan melakukan aksi nyata melawan workplace bullying,” ujar Kristy Nelwan di penghujung acara.

(Andriza Hamzah)
Photo dok. : Alchemy Communication