A password will be e-mailed to you.

Penglihatan merupakan bagian dari panca indera yang memainkan peran penting dalam setiap aspek kehidupan dan secara dominan mampu memengaruhi kualitas hidup masyarakat.

Penglihatan yang baik dan terjaga, selain berfungsi memudahkan masyarakat dalam beraktivitas, penglihatan yang baik dapat pula membantu mempertahankan kemandirian dan memfasilitasi pengelolaan kondisi kesehatan lainnya. Namun, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para masyarakat lanjut usia (lansia) dan penyandang tunanetra.

Untuk itu,  Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia, Ennita Pramono menyampaikan,”Generasi muda Indonesia perlu memiliki pemahaman yang baik tentang kebutuhan masyarakat, disertai dengan kemampuan menawarkan solusi aplikatif. Potensi ini perlu didorong agar muncul di permukaan dan menghasilkan terobosan-terobosan yang berguna bagi kemajuan Bangsa.”

Berpijak dari sanalah,  Samsung melakukan program baik dan indahnya,  Samsung Innovation Campus (SIC). Merupakan program untuk  mendorong pola pikir para siswa dari sekolah mitra, untuk bereskplorasi secara praktikal dalam merespon permasalahan sosial di lingkungan sekitarnya.

Beiring menghadirkan solusi di masyarakat lewat inovasi berupa project atau produk digital.

Menariknya lagi dari program SIC, tak hanya membentuk generasi yang solutif dan inovatif, namun  juga mampu menciptakan lulusan berkualitas demi menjawab kebutuhan kerja yang semakin meningkat seiring dengan akselerasi interaksi digital pada era industri 4.0,  jelas  Ennita Pramono.

 Peduli Lansia dan Tunanetra

 Memahami dan kesulitan yang dihadapi lansia serta tunanetra dalam mengelola kondisi kesehatannya, pada program SIC 2020/2021, terdapat empat siswa SMKN 1 Cimahi; Bella Anggraeni Putri, Intan Nur Fathonah, Miana Nurhaliza, dan Salwa Nurul Aisyah, menciptakan sebuah aplikasi yang diberi nama Eyeroom.

Eyeroom yang menggunakan teknologi pemindaian gambar dan transkrip suara, bertujuan membantu lansia dan penyandang tunanetra agar bisa membedakan obat dengan mudah.

“Kami terinspirasi dari kondisi di sekitar lingkungan kami, yaitu para orangtua yang mengalami kesulitan melihat karena ada masalah pada bagian mata. Hal ini menjadi cikal bakal Eyeroom. Tak hanya itu, kami juga mencari informasi dari para apoteker dan siswa jurusan farmasi untuk menambah fitur pada aplikasi website kami yang nantinya dapat dimanfaatkan secara optimal,” ungkap Bella Anggraeni.

Eyeroom mampu mengidentifikasi obat tanpa kemasan mau pun obat dengan kemasan, serta dilengkapi fitur voice note dalam penyampaian informasi terkait obat tersebut. Mulai dari deskripsi, review, sampai opsi retail online untuk pembelian obat.

Apikasi Eyeroom yang dihadirkan oleh  empat siswa SMKN 1 Cimahi,  mulai dari analisa hingga proses coding, berjalan selama sekitar empat bulan. Di awal pembuatan aplikasi, Miana Nurhaliza mengungkap,  mereka sempat mengalami kesulitan dalam perumusan masalah. “Hal sulit yang kami temukan adalah saat menentukan arah dan tujuan aplikasi kami. Namun kami bisa mengatasinya dengan cara menganalisa kembali hal-hal apa saja yang kami targetkan dan prioritasnya,” katanya.

Tentu, di sana terdapat  tantangan yang dihadapi sebagai motivasi untuk memperdalam ilmu programming yang belum pernah mereka pelajari sebelumnya.

Namun, berkat inovasi dari keempat siswa SMKN 1 Cimahi,  ini Eyeroom berhasil mendapatkan peringkat dua dalam “SIC Project Competition 2021”, yang diselenggarakan sebagai puncak dari program SIC 2020/2021.

Pada acara, ini Siswa SMKN 1 Cimahi harus bersaing dengan 396 siswa lainnya, hingga lolos tahap seleksi untuk mengikuti bootcamp SIC secara intensif selama 12 minggu berturut-turut, guna mendapatkan pendampingan dan memperdalam pembelajaran coding dan programming, yakni Problem Definition, Design Thinking; UX/UI (user experience/user interface), dasar-dasar pemrograman website seperti HTML, CSS, Javascript; serta memberikan akses networking komunitas belajar lintas sekolah bersama para mentor yang ahli di bidangnya.

Tidak sampai di sana, para siswa SMKN 1 Cimahi juga berhak mengikuti Full-stack Web Development Bootcamp dan Career Preparation di tahun, ini  untuk menyiapkan mereka menjadi talenta digital siap kerja di salah satu dari 150 partner Skilvul – mitra Samsung dalam menjalankan program SIC.

“Program ini tak sebatas mengajarkan bagaimana membuat aplikasi atau situs web, melainkan membantu siswa mengembangkan cara berpikir yang kelak akan berguna dan sangat dicari di dunia kerja. Harapan kami, melalui program SIC, siswa dapat semakin meningkatkan kemampuannya berkolaborasi, memecahkan masalah, serta merumuskan solusi atas permasalahan yang akan mereka hadapi di masa yang akan datang,” ujar William Hendradjaja, Chief of Business Skilvul.

Guru sekaligus pembimbing kelompok Eyeroom SMKN 1 Cimahi, Yusurat, pun mendukung penuh program SIC yang dapat mendorong siswa agar lebih cakap dan bisa menguasai soft-skills, melalui integrasi pendekatan science, technology, engineering, dan mathematics (STEM). “Selain membantu siswa yang memiliki ketertarikan pada pembelajaran STEM, pembekalan coding dan programming dari program SIC sangat bermanfaat karena dapat diimplementasikan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, serta  membangun kemampuan 4C siswa, yaitu communication, critical thinking, creative, dan collaborative,” pungkasnya.

 

[]Anggita Dyah

Photo  Ist