A password will be e-mailed to you.

Beragam acara seni dan pertunjukkan terhenti selama dua tahun akibat pandemi.  Terkini, waktunya siap bergeliat setelah Pemerintah melonggarkan pembatasan terkait pandemi Covid-19 sebagai awal transisi dari pandemi ke endemi.

Ini tentu  menjadi kabar baik bagi para pelaku seni yang  kembali berkreasi di atas panggung dan disaksikan langsung oleh para penikmat seni di gedung pertunjukan.

Hal ini juga memungkinkan Titimangsa — merupakan foundation yang didirikan oleh Happy Salma bersama Yulia Evina Bhara pada Oktober 2007 dengan dasar pemikiran dan kecintaan pada sastra Indonesia —  siap menampilkan produksi ke-53 di atas panggung setelah sempat tertunda selama dua tahun.

Pementasan nan indah dan memukau,  merupakan  persembahan Titimangsa bekerjasama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation dan Sleepbuddy,    yang terinspirasi dari roman “Kuantar Ke Gerbang” karya Ramadhan KH, Happy Salma kembali memerankan sosok Inggit Garnasih.

Pada pentas monolog yang dihadirkan secara berbeda, dalam bentuk teater musikal, Happy Salma, Produser dan Pemeran Inggit Garnasih, mengungkapkan, “Inggit adalah sosok penting dan saksi berbagai peristiwa masa perjuangan yang dilalui oleh para tokoh pendiri bangsa ini. Inggit adalah sebuah spirit tentang kejujuran dan cerminan kedalaman perasaan seorang wanita. Ini adalah sebuah fase yang tidak pernah dibicarakan dalam narasi sejarah besar, kisah yang ada di wilayah domestik para pendiri bangsa ini.

“Sebagai seorang Produser dan Aktor, saya memerlukan konsentrasi dan stamina lebih untuk memainkan dua peran ini. Beruntung, proses produksi dan dialog-dialog dengan segenap tim kerja terjadi dengan sangat baik. Mereka adalah para seniman mumpuni dengan reputasi terpujikan di bidangnya masing-masing yang mencurahkan energi terbaiknya untuk mewujudkan pertunjukan ini,” lanjut kata Happy Salma selepas acara pementasan pada Kamis, 19 Mesi 2002, bertempat di Artpreneur Theater Ciputra, Jakarta.

Berkisah. Inggit Garnasih merupakan  isteri kedua dari Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Selama 20 tahun pernikahan, Inggit telah setia mengantar Soekarno lulus dari sekolahnya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), mendukung ekonomi keluarga saat Soekarno memulai pergerakan awalnya dalam berorganisasi, menghidupi Soekarno dengan berjualan jamu, alat-alat rumah tangga dan pertanian, merawat semangatnya saat Soekarno ditahan di penjara Sukamiskin, mendampinginya dalam pengasingannya di Ende dan Bengkulu.

Ketika Bung Karno akhirnya akan sampai di gerbang Istana menjelang kemerdekaan bangsa yang didamba, Inggit mengemas barang-barang dan kenangan dalam koper tuanya dan kembali ke Bandung.

Inggit memilih mempertahankan martabatnya sebagai wanita dan menolak dimadu ketika Soekarno menyatakan ingin menikah lagi. Meski Inggit dijanjikan menjadi istri utama, Inggit memilih mengatakan tidak kepada Bapak pendiri bangsa ini.

Pesona Pentas Musik Teater Monolog Inggit

Sebelumnya, Titimangsa sempat mementaskan Monolog Inggit sebanyak 13 kali pada periode tahun 2011-2014 di Jakarta dan Bandung.

Pada pementasan “Monolog Inggit’, yang berbeda dari sebelumnya, didukung oleh orang-orang yang mumpuni dan berdedikasi di bidangnya yaitu Happy Salma (Pemain & Produser), Marsha Timothy (Ko-produser), Wawan Sofwan (Sutradara), Ratna Ayu Budhiarti (Penulis Naskah).

Ratna Ayu Budhiarti, penulis naskah monolog Inggit berujar, “Penulisan naskah monolog Inggit dimulai sejak 2017, setelah berbincang bersama Kang Wawan Sofwan dan Happy Salma. Terinspirasi dari roman “Kuantar ke Gerbang” karya Ramadhan KH, saya ingin menghadirkan kembali kisah Inggit yang layak dikenang serta diteladani. Saya berupaya menghadirkan petikan-petikan peristiwa dalam kehidupan Inggit selama mendampingi Soekarno, dimulai dari sejengkal jarak yang mendekatkan, diakhiri pula dengan sejengkal jarak yang menjauhkan. Namun Inggit tetap tegak setelah dihantam ombak.”

Keputusan untuk menghadirkan kembali pementasan ini dalam bentuk teater musikal  adalah merupakan ide dari Wawan Sofwan selaku Sutradara pertunjukan. ”Awalnya ketika Happy Salma mengabari saya bahwa ia ingin memerankan lagi tokoh Inggit Ganarsih, saya memberikan tawaran bagaimana jika monolog ini dihadirkan dalam bentuk musikal? Sebab musikal juga berkaitan dengan tradisi Sunda, di mana nyanyian adalah bentuk curahan perasaan. Saya berpikir akan lebih kuat apabila ungkapan-ungkapan kegelisahan tokoh Inggit dihadirkan dalam bentuk nyanyian. Tokoh Inggit hadir sebagai seorang perempuan yang memilih mengingat sesuatu yang baik meski ia dilanda kesedihan mendalam,” ujarnya.

Pementasan ini semakin berwarna dengan arahan musikal dari Dian HP (Komposer), Avip Priatna (Konduktor), yang diiringi lantunan musik Jakarta Concert Orchestra dan suara merdu dari Batavia Madrigal Singers.

“Saya memandang naskah monolog Inggit ini sangat personal, seperti isi hati yang dituangkan ke dalam buku harian.  Jadi komposisi musik saya juga bergerak mengikuti ekspresi personal Inggit dan melalui paduan suara menjadi representasi suara pikiran Inggit. Saya juga berusaha untuk membangkitkan kembali ‘rasa dan getar Inggit’ untuk menyelesaikan komposisi yang sempat tertunda selama dua tahun akibat pandemi,” ujar Dian HP, komposer untuk pementasan teater musikal Inggit Garnasih ini.

Pementasan yang berlangsung pada Jumat dan Sabtu, 20 dan 21 Mei 2022, pukul 20.00 WIB di Ciputra Artpreneur Theatre, Kuningan, Jakarta, ini juga didukung oleh BRI Private, Ciputra Artpreneur, Direktorat Perfilman Musik dan Media Kemendikbud Ristek RI, Plataran Canggu Resort and Spa, Sariayu Martha Tilaar, Warisan Budaya Indonesia, The Resonanz dan KawanKawan Media. Serta didukung oleh rekanan media Harper’s Bazaar, Her World, Radio Brava, Detik.com, Tatler Indonesia, Liputan6.com, Kapanlagi.com dan Fimela.com

“Ini adalah hal yang menggembirakan bagi kami untuk menyaksikan pementasan monolog secara langsung oleh Happy Salma dalam teater musikal yang mengangkat kisah Inggit Garnasih. Kami memberikan apresiasi tinggi kepada para pekerja seni di Indonesia yang telah mempersembahkan karya terbaiknya. Kami berharap agar pementasan seni seperti ini bisa sering dilakukan agar dapat mengobati rasa rindu bagi sebagian orang yang ingin menyaksikannya secara langsung,” ujar Indah Catur Agustin, founder Sleepbuddy.

 

[]Andriza Hamzah   & Salsa

Credit Photo : dok. Yose Riandi/Titimansa