A password will be e-mailed to you.

Berkaitan dan dalam rangkan Bulan Penyintas Kanker selama bulan Juni, Merck Sharpe Dohme (MSD) bersama Yayasan Kanker Indonesia (YKI) meluncurkan kampanye #harapan baru. Merupakan kampanye untuk memperkenalkan kepada masyarakat  mengenai pengobatan terkini terhadap penyakit kanker terbesar di Indonesia, yaitu :  kanker paru, kanker payudara triple negatif dan kanker serviks, melalui sebuah terobosan Dunia medis yaitu pengobatan imunoterapi.

Kiranya tak terkesampingkan, tiga penyakit  kanker terbesar di Indonesia adalah kanker paru, payudara dan serviks. Demkian menurut data. Dan menurut  Global Burden of Cancer Study (Globocan) 2020, jumlah kasus baru dari tiga jenis kanker tersebut di Indonesia, mencapai 137.274 dengan jumlah kematian 74.276. Ini artinya, setiap hari terdapat lebih dari 200 keluarga kehilangan anggota keluarganya akibat jenis kanker tersebut.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP di acara Webinar Media, berlangsung pada Kamis, 23 Juni 2022,  yang mengangkat tema “Mengenal Imunoterapi : Harapan Baru Bagi Pejuang Kanker”, mengatakan, “Kita perlu menyikapi tingginya kasus baru dan kematian akibat kanker paru, kanker payudara dan kanker serviks di Indonesia, dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit tersebut, pencegahannya, termasuk semua opsi terapi sistemik.”

 

Pada acara peluncuran kampanye #harapan baru, hasil kerjasama YKI dan MSD, dengan Moderator Pratiwi Astar, menarik dengan apa yang dikatakan  oleh George Stylianou, Managing Director MSD Indonesia, “Kami merasa terhormat memiliki kesempatan ini bersama dengan Yayasan Kanker Indonesia, untuk meluncurkan kampanye edukasi mengenai kanker, Berbagi #HarapanBaru. Di MSD, kami berkomitmen untuk memberikan harapan kepada pasien kanker melalui penelitian dan obat inovasi kami di bidang onkologi.”

Lanjutnya,”Kami bekerja dengan urgensi untuk mengutamakan pasien dan memastikan obat kanker inovatif kami dapat diakses oleh pasien yang membutuhkan. Kami masing-masing didorong oleh visi bersama untuk memberikan harapan kepada semua pasien kanker, harapan akan lebih banyak cara untuk mengobati

kanker mereka, harapan akan lebih banyak kualitas dalam hidup mereka, harapan untuk lebih banyak waktu.”

Kian menawan penjelasan Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, yang mengatakan bahwasanya salah satu terobosan di Dunia medis yang merupakan harapan baru  bagi pasien kanker paru, kanker payudara dan kanker serviks adalah adanya terapi pengobatan imunoterapi. Imunoterapi merupakan bentuk inovasi pengobatan kanker terbaru yang  dapat meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh individu untuk mengenali dan  menyerang sel kanker.

Sel kanker memiliki  kemampuan ‘menyamarkan’ diri sehingga sulit dihancurkan oleh sistem  kekebalan tubuh. Dengan imunoterapi, sistem kekebalan tubuh dapat  ditingkatkan sehingga bisa mendeteksi sel kanker untuk dihancurkan.

Imunoterapi merupakan salah satu modalitas terapi kanker selain pembedahan, radioterapi, terapi hormonal, terapi target dan kemoterapi. Untuk menentukan terapi yang tepat, dilakukan berbagai tes seperti Programmed Deathligand 1 (PD-L1). PD-L1 adalah protein transmembran yang berperan penting dalam menekan dukungan adaptif dari sistem kekebalan selama peristiwa atau kondisi tertentu.

Tes dengan PD-L1 imunohistokimia pada pasien akan menunjukkan tingkat ekspresi PD-L1 pada jaringan tumor.  Semakin tinggi ekspresi PD-L1, respon akan semakin baik terhadap imunoterapi.  Hasil uji klinis menunjukkan pengobatan imunoterapi dapat membantu  menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker, mencegah  kanker menyebar ke bagian tubuh lain dan membantu sistem kekebalan tubuh bekerja lebih baik dalam menghancurkan sel kanker.

Menurut Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, imunoterapi sebagai terapi lini pertama pada pasien dengan kanker paru bukan sel kecil  (KPBSK) metastatik dan ekspresi PD-L1 dengan nilai tertentu, memberikan manfaat angka harapan hidup dua kali lipat lebih panjang dibandingkan standar pengobatan kemoterapi saja.

Pasien kanker paru stadium lanjut dan memiliki ekspresi PD-L1 dengan nilai tertentu, yang diterapi dengan  imunoterapi memiliki angka harapan hidup 5-tahun hingga 31,9%. Artinya, imunoterapi memberikan angka  harapan hidup 5-tahun sebesar empat kali lebih tinggi dibandingkan standar pengobatan kemoterapi dan  menurunkan angka resiko terjadinya efek samping berat (derajat 3 – 5) hingga 22%.

Mengenai kanker payudara subtipe triple negative (TNBC), Aru menyampaikan, dengan perkembangan inovasi pengobatan, mulai tahun 2022, imunoterapi telah disetujui oleh Badan POM  untuk terapi TNBC stadium lanjut. Data uji klinis menunjukan bahwa satu dari dua pasien kanker TNBC  mendapatkan manfaat dari terapi kombinasi imunoterapi dan kemoterapi.

“Kombinasi imunoterapi dengan kemoterapi sebagai pengobatan lini pertama bagi pasien TNBC  dengan tumor yang memiliki nilai ekspresi PD-L1 tertentu dapat mengurangi resiko kematian hingga 27% dibandingkan dengan pemberian kemoterapi saja,” ujarnya.

American Society of Clinical Oncology (ASCO) baru-baru ini menerbitkan pedoman medis bagi pasien kanker serviks yang telah mengalami kekambuhan atau metastatis, dimana data uji klinis  dari kombinasi imunoterapi dengan standar pengobatan sebelumnya dapat memberikan manfaat 35% lebih  baik dimana penyakit tidak mengalami perburukan dan memberikan angka harapan hidup 33% lebih lama dibandingkan dengan standar pengobatan sebelumnya saja.

Di Indonesia, mulai tahun 2022, imunoterapi bagi pengobatan kanker serviks telah tersedia, khususnya bagi pasien yang didiagnosis dengan kanker serviks stadium lanjut.

Menurut Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo,  imunoterapi telah tersedia di rumah sakit yang melayani pengobatan kanker. Namun tidak semua jenis kanker paru, kanker payudara maupun kanker serviks dapat diterapi dengan imunoterapi. Pasien perlu berkonsultasi dengan Dokter untuk pengobatan terbaik sesuai kondisi masing-masing pasien.

“Dalam perjuangan melawan kanker, pasien harus terus menjaga harapan, semangat, kesehatan mental dan emosional, didukung oleh keluarga dan lingkungan, serta tertib dalam menjalankan terapi dan pengobatan kanker sesuai arahan Dokter agar kualitas dan harapan hidup dapat terus terjaga,” tutup Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo.

 

[]Andriza Hamzah

Keterangan Photo 2 : Pratiwi Astar

Keterangan Photo 3 : Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo.